
Di tengah Papa Belva dan Mama Ecca tengah berseteru tentang kuliah Nachya, Boy tiba-tiba saja datang dan duduk di samping Papa Belva.
“Apa suara kami membangunkan kalian?” tanya Papa Belva to the point saat mendapati Boy duduk di sampingnya.
Boy hanya tersenyum menjawab pertanyaan papanya tanpa menganggukkan ataupun menggelengkan kepalanya.
“Maaf jika Boy ikut campur dalam hal ini, pa, ma!”
“Kita semua terkejut dengan surat panggilan untuk Nachya dan Boy yakin semuanya pasti akan sangat berat untuk melepas Nachya pergi.”
“Terlebih mengingat Nachya adalah anak dan cucu kesayangan semuanya. Tapi terkadang kita terlupa untuk memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan dan disukai oleh Nachya yang sangat kita sayang.”
“Nachya yang memberikan surprise hari ini berharap agar kita semua bangga terhadap apa yang ia capai. Namun, Boy justru mendapati guratan kekecewaan Nachya karena harapannya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.”
“Boy hanya tidak ingin membuat Nachya kecewa dengan segala usahanya selama ini pah, mah. Yang sama sekali tidak pernah terpikir oleh kita adalah bagaimana Nachya berusaha belajar mati-matian demi ujian dan demi bisa diterima di universitas yang ia pilih.”
“Boy yakin, usahanya selama ini bukanlah mudah. Tetapi Nachya sudah melewati kesulitannya seorang diri. Dia berjuang untuk membuat kita semua bangga di saat kita semua sama-sama bergelut dalam kesibukan kita masing-masing.”
“Boy harap, Nachya bisa mendapatkan izin dari papa dan mama untuk meneruska jenjang pendidikannya di tempat yang dia inginkan! Boy hanya ingin Nachya bahagia.”
Mama Ecca mengalihkan pandangannya dari Boy sambil menahan air matanya yang hendak jatuh membasahi pipinya. Bahkan ia juga menggigit bibir bawahnya agar tangisannya tidak pecah.
Melihat istrinya tampak begitu sedih, Papa Belva pun langsung mendekati istrinya.
“Boy, papa sangat berterima kasih dengan pendapatmu barusan. Tapi papa masih harus membicarakannya dengan mama!” timpal Papa Belva. “Tidak masalah kan?”
“Iya Pa. Tidak masalah. Kalau begitu Boy pamit ke kamar dulu ya!” ucap Boy yang beranjak meninggalkan ruang makan.
Sedangkan Papa Belva pun langsung mengajak istrinya kembali ke kamar dan kembali membicarakan masalah Nachya. Sesampainya di kamar tangis Mama Ecca langsung pecah membuat Papa Belva semakin tidak tega dengan istrinya.
Akhirnya Papa Belva mencoba menghibur istrinya sampai tangisnya mulai reda dan siap untuk berbicara.
“Sudah selesai nangisnya sayang?” tanya Papa Belva menggoda istrinya.
“Ck, kau tahu sayang... Boy aku rasa lebih bijak dari papanya!” timpal Mama Ecca membuat Papa Belva sedikit tidak terima.
“Hei, mana bisa seperti itu!” sanggah Papa Belva. “Aku tetap saja lebih baik darinya!” tegas Papa Belva membuat Mama Ecca mulai tertawa kecil.
“Aku sama sekali tidak terpikirkan dengan apa yang Boy ceritakan tentang Nachya tadi! Aku hanya mengedepankan egoku sendiri jika tidak mengizinkannya pergi, sayang!” tukas Mama Ecca.
“Meski berat, tapi aku tidak ingin membuat princess kesayanganku kecewa.”
Papa Belva langsung menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan istrinya barusan yang sudah mulai merelakan kepergian Nachya.
“Banyak hal yang aku temukan hari ini sayang!” timpal Papa Belva sambil memeluk istrinya.
“Aku menemukan istriku yang semakin hari semakin hebat dan mengagumkan!” lanjutnya lagi.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menjadi suami yang hebat juga sayang!” balas Mama Ecca memeluk suaminya manja.
“Jadi keputusannya kita mengizinkan Nachya ke London?” tanya Papa Belva memastikan.
Mama Ecca pun langsung menganggukkan kepalanya. “Tapi nanti kita jenguk Nachya sebulan sekali ya sayang!” rengek Mama Ecca.
“Whatt?!!” pekik Papa Belva.
“Gak bisa gituh dong sayang, bisa kolaps kita nanti! Satu tahun sekali yaa...” balas Papa Belva.
“Kalau aku merindukan Nachya bagaimana?” tanya Mama Ecca.
“Kan bisa video call. Nanti kalau terlalu sering menjenguk Nachya, dia malah mengira kalau kita gak percaya Nachya bisa mandiri!” jawab Papa Belva.
Akhirnya Mama Ecca menganggukkan kepalanya setuju.
***
Keesokan harinya, Nachya masih bermalas-malasan di kamar mengingat mulai hari ini dirinya libur usai Ujian Kelulusan. Sedari pagi terus saja memainkan ponselnya di atas tempat tidur sambil berguling-guling.
“Nachya...” panggil mama Ecca sambil membuka pintu kamar Nachya.
“Iya Ma...” jawab Nachya sambil meletakkan ponselnya.
“Belum mandi ya?” tanya Mama Ecca dan Nachya hanya nyengir kuda.
“Hari ini kan Nachya libur ma!” balas Nachya sambil bangun dan duduk menyandarkan tubuhnya di headboard.
Nachya pun langsung menggelengkan kepalanya sambil menarik selimutnya.
“Gak deh Ma!” jawab Nachya yang benar-benar masih dalam mode malas.
“Kenapa sayang?” tanya Mama Ecca sambil mengusap kepala Nachya. “Mama minta maaf yaa udah bikin Nachya kecewa kemarin!”
“Mama dan papa teramat bangga sama Nachya. Mama kemarin hanya shock sayang, dan sekarang Mama akan mengizinkan Nachya memenuhi panggilan itu!” ucap Mama Ecca membuat mata Nachya berbinar.
“Serius Ma?!” tanya Nachya dengan mata berbinar.
“Iya sayang!” jawab Mama Ecca sambil menganggukkan kepalanya.
“Thanks mamaaaa!” teriak Nachya yang langsung menghambur memeluk mamanya dengan sangat erat.
“Mama memang yang terbaik!” ucap Nachya sambil mencium pipi mamanya berkali-kali.
“Kamu lah yang terbaik untuk mama, sayang. Yaudah sekarang Nachya mandi yaa. Kita ke rumah Uti sama Akung!” ajak Mama Ecca.
“Memang mama gak kerja?” tanya Nachya.
__ADS_1
“Mama sama Papa kebetulan hari ini free. Boy juga hanya kuliah pagi, jadi nanti bisa langsung menyusul ke rumah uti, gimana?”
“Oke mama. Kalo gitu Nachya mandi dulu ya!” ucap Nachya yang langsung ngacir masuk ke kamar mandi.
Mama Ecca hanya tersenyum melihat tingkah Nachya yang masih saja menggemaskan di matanya. Sambil menunggu Nachya mandi, ia pun turun ke bawah untuk menemani suaminya sarapan.
“Mana Nachya?” tanya Papa Belva saat melihat istrinya turun ke bawah seorang diri.
“Baru mandi dia, tadinya malah masih males-malesan di atas kasur!” jawab mama Ecca.
Boy yang sudah selesai mencuci piring bekas makannya pun langsung berpamitan pergi kuliah, namun saat ia bersalaman dengan Papa Belva, tangannya sedikit tertahan dengan tangan Papanya.
“Boy!” panggil Papa Belva sambil menahan tangan Boy.
“Mulai hari ini, papa memutuskan ikatan papa denganmu!” ucap Papa Belva yang terdengar cukup tegas.
“Kamu bukan lagi anak papa! Karena kamu sudah berani mencintai anak kesayangan papa!”
Boy sedikit terhenyak mendengar ucapan papanya kali ini. Meskipun begitu, Boy sudah siap menjalani hari-harinya selanjutnya jika memang ia harus terusir karena mencintai Nachya.
“King Bee!” Panggil Mama Ecca dengan raut wajah protesnya.
Bukan hanya Boy, Mama Ecca pun terhenyak dengan apa yang barusan suaminya ucapkan. Namun Papa Belva langsung memberikan kode agar Mama Ecca tidak ikut campur dalam masalah ini.
“Dan kedudukan kamu saat ini adalah bawahan saya! Asisten Pengacara di Firma Quiero. Jadi saya harap kamu bisa memposisikan diri kamu di hadapan saya!” ucap Papa Belva yang mulai mengubah gaya bicaranya.
“Siap Pak Belva!” jawab Boy membuat Mama Ecca semakin mengerutkan dahinya.
“Kalian ini lagi main apaan sih? Gak lucuk!” timpal Mama Ecca.
“Jadi, mulai besok kamu bisa mengemasi barang-barangmu dari sini dan tinggal di firma. Buktikan sama saya, kalau kamu memang pantas mendapatkan Nachya!” tegas Papa Belva membuat Mama Ecca menghela nafasnya panjang.
“Siap Pak Belva! Kalau begitu saya permisi dulu!” ucap Boy yang langsung menundukkan tubuhnya di depan Papa Belva seperti seorang bawahan kepada atasannya.
“Bu Ecca, saya permisi dulu!” ucap Boy yang membuat Mama Ecca langsung menoyor kepalanya.
“Bu Ecca kamu bilang?! Aku ini mama kamu, Boy!” gertak Mama Ecca.
“Salim yang bener kalo mau pergi kuliah!” lanjut Mama Ecca sambil menyodorkan tangannya ke arah Boy.
Boy kini bimbang harus bagaimana. Posisinya saat ini benar-benar sangat membingungkan. Untung saja Papa Belva langsung menarik tangan istrinya dan mengecup punggung tangan Ecca dengan sangat mesra.
“Kamu tidak diizinkan untuk menyentuh tangan istri saya sebelum kau terlihat pantas untuk menjadi calon menantu kami!” tegas Papa Belva.
“Siap Pak! Kalau begitu saya permisi dulu!” ucap Boy sambil meninggalkan ruang makan.
💕💕💕
__ADS_1