
"Maaf, Nyonya. Kami tidak bisa memberitahukan siapa yang sudah menolong Nona ini!" jawab perawat rumah sakit sambil menyuapi Nachya.
Sedangkan Nachya hanya bisa mengulum senyumnya mengetahui perhatian Boy yang sangat luar biasa terhadapnya. Bahkan untuk menyuapinya saja harus dari perawat rumah sakit langsung.
"Hemm, baiklah. Yang terpenting cucuku baik-baik saja sekarang."
Uti Aleya tidak mau mempermasalahkan lebih lanjut tentang ini. Ia sudah sangat bersyukur bisa bertemu dengan cucunya.
Sedangkan di luar ruangan, Akung Mario sedang duduk menunggu giliran untuk masuk ke dalam ruangan Nachya. Ia harus minta maaf atas apa yang ia lakukan kemarin terhadap Nachya.
Di saat yang bersamaan, Dean yang sedang mencari keberadaan di mana Nachya dirawat pun langsung merekahkan senyumannya saat melihat Akung Mario duduk di luar ruangan.
"Akhirnya aku bisa menemukan di mana Nachya dirawat. Untung saja Akung Mario ada di luar ruangan. Jadi tidak perlu susah payah mencari keberadaan cucunya!" gumam Dean pelan.
Dean yang juga di rawat di sana karena serangan dari Boy pun langsung mencari keberadaan Nachya setelah mendapat kabar dari kampus. Tanpa menunggu lama lagi, Dean langsung merapat menemui Akung Mario.
"Akung Mario!" panggil Dean yang langsung duduk di sampingnya.
Akung Mario pun menoleh ke arah Dean dan betapa terkejutnya ia saat melihat tubuh Dean yang penuh dengan luka lebam.
"Dean!" pekik Akung Mario yang tampak begitu terkejut. "Ada apa denganmu?"
"Berkelahi dengan sekelompok preman yang kemarin mengikat Nachya di pohon, Akung!" jawab Dean.
"Untung saja Nachya masih bisa diselamatkan!" lanjutnya lagi.
"Jadi, kau yang sudah menyelamatkan Nachya?" tanya Akung Mario yang langsung diangguki oleh Dean.
Akung Mario pun langsung menatap Dean dengan sangat bangga. "Kini Akung berhutang nyawa denganmu, Dean!"
"Terima kasih banyak sudah menyelamatkan cucu tersayang Akung kali ini!"
Akung Mario menepuk bahu Dean dengan pelan.
"Akung tidak tahu apa yang terjadi jika kamu tidak menyelamatkan Nachya."
Opa Krish yang diam diam mengikuti cucunya sedari tadi pun langsung menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
"Ternyata cucuku babak belur karena menyelamatkan Nachya. Baru kali ini ia berjiwa besar seperti ini!" gumam Opa Krish bangga.
Perlahan dia pun mendekat ke arah cucu dan sahabatnya yang sedang duduk berdekatan.
"Opa bangga denganmu, Dean! Kau sudah berhasil menyelamatkan Nachya kali ini."
"Terima kasih, Opa! Ini bukan apa-apa. Dean hanya melakukan apa yang mesti Dean lakukan!" balas Dean dengan bangga.
Mereka bertiga pun kini bercerita panjang lebar tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Dean dan juga Nachya. Lagi-lagi Dean terus saja membuat cerita yang sangat jauh dengan kenyataannya demi mendapat perhatian Opa Krish dan juga Akung Mario.
Tepat jam 7 pagi, Uti Aleya baru keluar dari ruangan Nachya dan menemui suaminya.
"Nachya masih tidak ingin kau masuk ke dalam! Lebih baik sekarang kau pulang saja!" pinta Uti Aleya kepada suaminya.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Akung Mario.
"Sudah lebih baik dan kini ia sedang beristirahat!" jawab Uti Aleya.
"Apa saya bisa menjenguk Nachya ke dalam?" tanya Dean meminta izin.
"Tentu saja, Dean! Bukankah kau yang telah menyelamatkan cucuku!" balas Akung Mario membuat Uti Aleya terhenyak.
Mendapat persetujuan dari Akung Mario, membuat Dean dengan mantap melangkah menuju ke ruangan Nachya. Sayangnya saat melewati ruang jaga perawat, langkahnya langsung dihentikan oleh salah satu perawat.
"Maaf Tuan, anda tidak diizinkan untuk masuk ke dalam!" tegas perawat tersebut.
"Tapi aku ingin menemui kekasihku sendiri!" balas Dean.
"Tidak bisa, Tuan!"
"Silakan anda kembali dan bisa menemui pasien setelah sembuh di rumahnya nanti!" jelas perawat tersebut.
Mau tidak mau Dean pun kembali lagi mendekati Akung dan Opa Krish yang sudah bersiap untuk pulang.
"Ada apa, Dean?" tanya Opa Krish saat melihat cucunya kembali lagi.
"Nachya sudah meminta perawat jaga untuk tidak mengizinkan aku menjenguknya. Aku juga tidak ingin memaksa meski aku sudah menolongnya."
"Kenyamanan Nachya lebih penting dari pada rasa rinduku, Opa!" jawab Dean membuat Akung Mario semakin kagum.
__ADS_1
Akhirnya Dean memutuskan untuk kembali ke ruangannya dan mengurus administrasi rumah sakit agar ia bisa pulang ke rumahnya.
☘️☘️☘️
Siang harinya, Boy mulai bersiap untuk menjemput Papa Belva dan Mama Ecca di Bandara. Meskipun dalam hati Boy juga sangat was was jika mereka mengetahui semua ini.
Rahasia besar yang selama ini terjadi dengan Nachya dan disimpan rapat rapat oleh Boy atas permintaan Nachya.
Sesampainya di bandara, Boy tidak perlu menunggu lama kehadiran kedua orang tuanya itu. Tampak Papa Belva dan Mama Ecca keluar dari pintu kedatangan dengan mendorong beberapa koper.
Dengan sigap Boy langsung menyambut kedatangan mereka dan langsung mendorong koper tersebut menggantikan Mama Ecca.
"Aduuuh Boy. Mama gak sabar deh kasih surprise ke Nachya. Gimana yaaa wajah Nachya nanti ngeliat kita datang?" celetuk mama Ecca melupakan rasa lelahnya setelah menempuh penerbangan yang hampir 17 jam.
"Papa juga gak sabar pingin peluk anak kesayangan papa. Pingin manjain dia, bawa Nachya jalan-jalan, nyuapin dia makan juga!"
Papa Belva dan Mama Ecca terus saja berceloteh ria sambil menuju ke tempat di mana mobil Boy terparkir. Sedangkan Boy hanya bisa diam tanpa menanggapi sedikit pun.
"Kamu udah ketemu sama Nachya?" tanya Papa Belva saat Boy mulai menjalankan mobilnya.
"Emm, udah pa. Awalnya ngeliat aja sih dari jauh."
"Yaaah, ujian kamu sih Boy. Papa Dion kasih syaratnya berat banget buat kamu."
Ucapan Papa Belva barusan pun ditanggapi juga dengan Mama Ecca.
"Gak cuma Papa Dion, Pami Mario juga pasti gak akan ngebiarin Nachya ketemu sama kamu dulu sebelum lulus kuliah!" timpal Mama Ecca.
"Tapi Mama sendiri gak bisa jamin sih kalo rahasia itu bakal awet sampai kalian lulus kuliah. Kalian tau sendiri kan gimana Nachya!" lanjutnya lagi yang sangat paham dengan sikap putri semata wayangnya.
Boy sendiri hanya tersenyum simpul mendengar celotehan kedua orang tuanya itu. Memang benar, belum ada satu hari saja Nachya sudah mulai mencium keberadaan Boy di London.
"Papa sama mama istirahat dulu aja di flat house yang Boy tempati ya. Nanti sore baru Boy antar ke tempat Akung Mario."
Penawaran Boy kali ini langsung disetujui oleh Papa Belva. Setidaknya setelah istirahat, mereka bisa meluahkan kerinduan terhadap Nachya sepuasnya.
Sayangnya Mama Ecca sama sekali tidak setuju. Ia ingin segera tiba di tempat Nachya karena sudah tidak tahan lagi menahan rasa rindunya.
Akhirnya Boy terpaksa mengantar mereka di flat house yang kini ditempati oleh Akung Mario.
__ADS_1