Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Lamaran


__ADS_3

Setelah kencan pertama Nachya yang dikuntit oleh kedua orang tuanya hari itu, Nachya terus saja berdebat dengan Papanya mengenai masalah peraturan pacaran yang hanya dikurangi satu poin saja.


Sampai akhirnya Papa Belva mulai menyerah dan mengubah semua peraturan tersebut sesuai dengan apa yang Nachya dan Mama Ecca inginkan.


“Papa sudah rubah semua peraturannya. Sekarang sudah gak ada lagi debat-debat setiap hari yang sama sekali tidak bermutu ya!” tutur Papa Belva.


Sayanganya Nachya hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan Papa Belva barusan.


“Nachya!” panggil Papa Belva. “Kok malah diem sih!” lanjutnya lagi.


“Yaa percuma paa. Papa ngerubahnya telat. Nachya udah tinggal satu minggu lagi berangkat ke London, Papa malah baru rubah!” timpal Nachya yang masih dalam mode ngambek.


“Papa minta maaf deh sama Nachya. Jangan ngambek gituh dong cantik!” rayu Papa Belva membuat Nachya memutar bola matanya malas.


“Papa ini ngeselin banget deh. Papa sengaja kan?” tanya Nachya dan Papanya hanya terkekeh pelan.


“Memang iya!” balas Papa Belva tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Tapi Papa udah suruh Boy dateng ke rumah loh buat ajakin kamu kencan!” lanjut Papa Belva membuat rasa kesal Nachya seketika sirna.


“Nachya gak percaya!” balas Nachya yang tidak mau terkecoh dengan papanya.


“Lihat saja itu!” Papa Belva langsung menunjuk ke arah lantai 1. Tampak Boy duduk di depan televisi sambil menikmati kudapan yang baru saja dibuatkan oleh Bik Surti.


“Boy!” panggil Nachya sambil melambaikan tangannya.



Boy yang tampak sangat rapi pun langsung membalas lambaian tangan Nachya.


“Buruan dandan yang cantik Nach. Aku mau ajakin kamu ke suatu tempat!” ucap Boy membuat mata Nachya langsung berbinar.


“Oke, tunggu ya!” teriak Nachya yang langsung berlari masuk ke dalam kamarnya.


☘️☘️☘️


Setelah mengganti bajunya dengan kilat, Nachya langsung keluar dari kamarnya. Sayangnya ia sudah tidak melihat Boy duduk di depan televisi.


“Boy mana Ma?” tanya Nachya sambil menuruni anak tangga.


“Tunggu di taman deh kayaknya!” jawab Mama Ecca.

__ADS_1


Mendengar jawaban Mamanya, Nachya langsung berpamitan dan menuju ke taman untuk mencari Boy.


“Boy!”


“Aku udaah siap nih!”


Nachya langsung mendekati Boy dan duduk tidak jauh darinya. “Gimanaa menurut kamu? Aku udah cantik belum?” tanya Nachya membuat Boy justru harus menelan ludahnya kasar.



“Bukan cantik lagi, Nach! Tapi teramat sangat cantik!” balas Boy.


“Kita langsung pergi yuk!” ajak Boy sambil menggandeng tangan Nachya.


Sesampainya di depan gerbang rumahnya, betapa terkejutnya Nachya saat melihat ada mobil baru terparkir di depan rumahnya.


“Kita gak naik motor Boy?” tanya Nachya yang langsung dijawab oleh Boy dengan gelengan kepalanya.


“Aku udah gak punya motor, Nachya sayang. Motornya sudah aku jual dan diganti sama mobil!” jawab Boy sambil membukakan pintu mobil untuk Nachya.


Setelah memastikan wanitanya masuk ke dalam mobil, Boy pun langsung menutup pintu dan segera masuk lewat pintu yang satunya lagi.


“Aku cuma pingin kamu nyaman saja kalo lagi kencan sama aku. Dan satu lagi, biar kamu gak kepanasan dan kehujanan, Nachya ku sayang!” jawab Boy membuat Nachya hati langsung berbunga-bunga.


Tanpa banyak bicara, Boy langsung menjalankan mobilnya.


“Kamu mau ngajakin aku kemana Boy?” tanya Nachya melihat penampilan Boy yang cukup rapi malam ini.


“Ke lamaran Bang Adit ya. Hari ini, dia mau ngelamar Arini!” jawab Boy.


“Kok Arini gak kasih kabar ke aku sih!” balas Nachya yang terdengar sedikit kecewa. Padahal semenjak kejadian di rumah Nachya, Arini selalu memberikan mengirim chat kepada Nachya.


Mulai saat ia menjenguk Pak Adit yang baru saja pulang dari rumah sakit, keterkejutan Pak Adit saat mendapati jika yang ditidurinya ternyata bukan Nachya melainkan Arini, sampai dua hari yang lalu Arini juga mengabarkan jika Pak Adit mulai bisa menerima kenyataan ini.


Sayangnya Arini justru tidak memberi kabar jika hari ini ia akan dilamar secara resmi dengan Pak Adit.


“Mungkin karena teman-teman sekolah memang gak dikasih tahu, Nachya. Soalnya kata Bang Adit, Monica juga masih ngejar-ngejar dia buat jadi pacarnya!” timpal Boy yang langsung diangguki kepala oleh Nachya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup singkat, kini mereka berdua sudah sampai di rumah Arini tepat saat mobil Papa Hendy dan juga Adel juga tiba di sana.

__ADS_1


Adit yang baru saja keluar dari mobil pun langsung memandang ke arah Nachya lekat-lekat.


“Nachya!” panggil Pak Adit sambil berjalan mendekat ke arah Nachya yang masih berdiri di pintu mobil.


“Hai Pak. Selamat ya untuk lamarannya hari ini!” ucap Nachya sambil mengulurkan tangannya memberi selamat kepada Pak Adit.


Adit langsung menyunggingkan senyum yang begitu dipaksakan sambil menyambut uluran tangan Nachya.


“Sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu, Nachya!” ucap Adit lirih membuat Nachya cepat-cepat melepaskan tangannya dari Adit.


Adit yang kembali mendapat penolakan dari Nachya untuk ke sekian kalinya pun hanya bisa terdiam pasrah. Ia pun langsung masuk ke dalam karena Papa Hendy sudah memberikan kode kepadanya untuk tidak berlama-lama menyapa Nachya.


Keluarga besar Adit yang turut hadir dalam acara tersebut langsung memandang ke arah Nachya dan juga Boy. Wajah Boy yang tampak mirip dengan Hendy Carlson membuat mereka semua bertanya-tanya siapa pria ini sebenarnya. Karena yang mengetahui perselingkuhan Hendy dulu hanyalah keluarga dari almarhumah istrinya.


“Hai nak!” seorang kakek tua menepuk bahu Boy pelan. “Siapa kau sebenarnya? Kenapa wajahmu sangat mirip dengan putraku?” tanya Kakek Carl, ayah Hendy Carlson.


Boy yang merasa sangat canggung pun mulai membiasakan dirinya berada di sekumpulan orang yang menurutnya sangat asing kali ini.


“Saya Boy!” ucap Boy memperkenalkan dirinya sambil menyalami tangan Kakek Carl.


Adel yang memahami suasana kikuk kali ini pun langsung mendekat ke arah Boy yang kini bersama dengan kakeknya.


“Emmmh, kakek!” panggil Adel. “Ayo kita masuk! Acara akan segera dimulai!” ucap Adel dan meminta tolong kepada keluarganya yang lain untuk membawa kakeknya masuk ke dalam.


Saat kakek dan rombongan keluarganya masuk ke dalam, Adel pun mendekati Boy dan berbisik pelan.


“Aku belum memberi tahu kepada keluarga besarku siapa kamu sebenarnya Boy!”


“Tidak masalah kak. Menurutku itu juga tidak perlu. Katakan saja pada mereka jika aku hanya mengantar Nachya untuk menghadiri lamaran sahabatnya!” timpal Boy.


“Baiklah! Aku harap kamu tidak tersinggung ya!” lanjut Adel lagi yang langsung diangguki kepala oleh Boy.


“Jangan khawatirkan aku!” balas Boy sambil menggandeng tangan Nachya masuk ke dalam.


Nachya pun mengeratkan tangannya membalas genggaman Boy.


“Kalo kamu memang gak nyaman, kita pergi saja yuk!” ajak Nachya yang enggan juga masuk ke dalam.


“Sebentar saja, Nach. Setelah itu kita pergi. Gimanaa?” tawar Boy.

__ADS_1


Mau tidak mau Nachya pun mengangguk setuju untuk menemani Boy masuk ke dalam.


__ADS_2