
Boy tidak berkomentar sama sekali saat Bunga memilih duduk di sampingnya menggantikan posisi Nachya. Berbeda dengan Nachya yang langsung mengirimi pesan ke ponsel Boy untuk terus mengingatkan Boy agar tidak macam-macam dengan Bunga.
✉️ Nachya
Kenapa langsung pergi gituh aja sih, Boy? Harusnya kamu minta ondel-ondel pindah ke belakang dulu!
✉️ Nachya
Aku gak suka ya kalo posisi aku digantiin sama Kak Bunga. Meski sekarang sudah gak kayak ondel-ondel, aku tetap gak suka dia deket-deket sama kamu!
✉️ Nachya
Awas ya, kalo kamu sampai jatuh cinta sama tetangga baru kita! 🔪 Aku akan marah 7 hari 7 malam sama kamu, Boy! 🤬
✉️ Nachya
Aku tahu kamu sekarang lagi nyetir mobil. Pokoknya kalo sampe kampus, kamu harus langsung balas pesan aku! 😪
Ponsel Boy terus saja berdenting karena Nachya mengiriminya pesan secara bertubi-tubi. Namun tidak dihiraukan oleh Boy karena ia memang masih fokus mengendarai mobilnya.
“Ponsel kamu dari tadi bunyi tuh, Boy. Mau aku bantu bacain pesannya gak, siapa tahu penting?” tawar Bunga.
“Gak usah!” jawab Boy datar tanpa mengalihkan pandangannya.
Bunga pun diam sambil terus memandangi Boy yang sedang mengendarai mobil.
‘Meski ketus, dia makin kelihatan makin cakep saja!’ gumam Bunga dalam hati. Jantungnya terus saja berdebar-debar tak menentu mendapati dirinya hanya berdua bersama dengan Boy.
Bunga ingin sekali menanyakan hal pribadi kepada Boy. Namun niatnya diurungkan karena ternyata memandangi ketampanan Boy membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
Boy tiba-tiba menepikan mobilnya sebelum ia memasuki gerbang kampusnya dan kemudian meminta sesuatu yang sama sekali tidak Bunga kira sebelumnya.
“Udah sampai kampus. Kamu bisa keluar dari mobil sekarang!” titah Boy membuyarkan lamunan Bunga.
“Apa?!” pekik Bunga. “Tapi kan jalan masuk ke dalam jauh Boy! Masa’ aku harus jalan kaki?” keluh Bunga.
“Semakin menunda, maka kau akan terlambat mengikuti apel pertama!” ucap Boy lagi.
“Aku tidak mau turun dari mobil sampai mobil ini berhenti di tempat parkiran!” balas Bunga yang tidak mau menjatuhkan imejnya di awal perkuliahan.
__ADS_1
Bayangan Bunga adalah tiba di kampus bersama dengan Boy dan keluar dari mobil yang sama. Jika semua sudah melihat kedekatan mereka, sudah dipastikan tidak akan ada yang berani mendekati Boy. Tapi sekarang yang ia temui justru sebaliknya.
Boy justru menurunkannya di depan gerbang kampus di mana jarak gerbang menuju lapangan apel mahasiswa jaraknya hampir 400 meter. Tidak hanya itu, jika semuanya menggunakan kendaraan pribadi, Bunga justru malah jalan kaki.
“Mama kamu cuma bilang kalau kamu hanya ikut aku sampai di kampus. Dan ini sudah sampai!”
“Keluar sekarang atau aku perlu panggil satpam untuk tarik kamu keluar?!” titah Boy lagi membuat Bunga mau tidak mau membuka pintu mobil Boy dan keluar.
Setelah itu Boy pun langsung menjalankan mobilnya lagi masuk ke dalam gerbang kampus. Boy tidak langsung keluar dari mobil saat ia sampai di parkiran kampus, melainkan membuka beberapa pesan dari Nachya dan segera membalasnya.
✉️ Boy
Kamu tenang aja! Gak akan ada yang bisa gantiin posisi kamu, Nachya! 😊
Cewek paling bawel sepanjang hidup aku! 🤪
Boy sengaja memberikan spasi dalam pesannya dan segera mengirimkan pesan balasannya kepada Nachya. Setelah itu Boy meraih tasnya dan keluar dari mobil. Semua mata kini memandang ke arah Boy yang benar-benar tampak cool di hari pertamanya menjadi mahasiswa.
Setelah menemukan namanya, Boy pun langsung bergabung dalam barisan anak hukum dan siap untuk mengikuti apel pagi pertamanya.
Sedangkan Nachya yang menerima pesan dari Boy, langsung menyungingkan senyumnya lebar-lebar. Namun setelah men scroll HP-nya ke bawah, senyumnya seketika berubah.
“Dasar! Perasaan yang bawel itu dia deh, bukan aku!” gerutu Nachya kesal.
Ruby yang diam-diam mendengar sahabatnya menggerutu pun langsung bertanya kepada Nachya.
“Kenapa sih mukanya ditekuk gituh Nach?”
“Ck, gak papa sih! Kamu baru dateng ya?” tanya Nachya menyapa Ruby.
Ruby hanya menganggukkan kepalanya sambil mendekatkan bibirnya ke arah telinga Nachya.
“Heh, ternyata dugaan aku salah lo Nach!” bisik Ruby.
“Dugaan yang mana?” tanya Nachya.
__ADS_1
“Aku pikir Pak Adit beneran suka sama kamu, tapi ternyata enggak. Soalnya tadi aku lihat Monica barusan dari ruangan Pak Adit sambil senyam senyum gituh!” timpal Ruby.
‘Ck, dugaan kamu itu bener Ruby!’ gumam Nachya dalam hati. ‘Cuma aku males deh ngebahasnya!’ batin Nachya yang terus menajamkan telinganya untuk mendengarkan cerita Ruby selanjutnya.
“Terus pas aku tanya, katanya dia dapat sandwich dari Pak Adit yang ia buat khusus untuk dia. Tuh, liat aja!” lanjut Ruby lagi sambil menunjuk ke arah Monica yang sedang menikmati sandwich dari Pak Adit di depan kelas.
“Bagus dong kalo gituh. Berarti cinta nya Monica gak bertepuk sebelah tangan!” lanjut Nachya dan Ruby hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Di sisi lain, Pak Adit sedang menggerutu kesal karena sandwich yang ia buat untuk Nachya sebagai permintaan maafnya justru kini ada di tangan Monica.
Pagi ini Pak Adit keluar dari mobilnya sambil menenteng lunch box yang akan ia berikan kepada Nachya sebagai permintaan maaf. Namun na-asnya, ia justru berpapasan dengan Monica yang baru saja tiba di sekolah.
“Pagi Pak!” sapa Monica sedikit mengagetkan Adit.
“Pagi, Monica!” balas Adit yang segera masuk ke dalam ruangannya menghindari muridnya yang satu ini.
Namun dengan berani Monica justru masuk ke dalam ruangan Pak Adit dan menguncinya dari dalam.
Sikap Monica langsung menuai protes dari Pak Adit karena Monica dinilainya sangat berani.
“Yang kamu lakukan kali ini sangat tidak sopan, Monica!” tegur Adit tidak suka.
“Ck, bapak mah terlalu formal. Masa’ gituh saja marah!” timpal Monica tanpa takut sedikit pun.
Monica langsung menatap ke arah Lunch Box yang kini tergelak di atas meja kerja Adit.
“Waaah, bapak diam-diam nyiapin sarapan ya buat saya! Kebetulan banget loh pak. Saya ini belum sarapan!” ucap Monica yang langsung meraih lunch box Adit dan membukanya.
“Aduh, itu bukan buat kamu Monica!” balas Adit yang langsung merebut lunch box miliknya dari tangan Monica.
Sayangnya dengan sigap Monica menyembunyikan lunch boxnya di belakang punggungnya hingga tangan Pak Adit kini tanpa sengaja menyentuh dada murid perempuannya yang ukurannya lebih besar dari usia anak se umuran Monica.
“Awh! Bapak ternyata mulai nakal ya?” goda Monica membuat Pak Adit seketika langsung panas dingin.
Ia pun mengusap wajahnya kasar dan kembali duduk di kursinya.
“Bawa saja itu dan kembali lah ke kelas!” titah Pak Adit sambil berusaha meredam perasaan aneh yang bergejolak dalam dirinya.
😅😅😅
__ADS_1