Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Tidak tega


__ADS_3

Kepala Boy kini mulai berdenyut saat membayangkan bagaimana tersiksa nya saat istri sedang datang bulan.


Sedangkan Nachya mulai tidak tega melihat wajah suaminya yang sudah semacam orang yang memiliki tumpukan hutang di bank.


"Gak sampai sebulan sayaaang. Paling cepet cuma satu minggu!" bisik Nachya sambil mengusap dada suaminya dengan lembut.


Kini Boy langsung menghela nafasnya panjang dan mulai merasa lega. Dipeluknya tubuh Nachya dengan sangat erat sambil ia kecupi keningnya berkali-kali.


"Akhirnya aku bisa sedikit bernafas lega mendengarnya. Istirahatlah cinta, aku tahu kau pasti sangat lelah!" ucap Boy sambil mengusap rambut panjang Nachya.


"Have a Nice Dream, Boy!" Nachya mulai membalas pelukan Boy dan memejamkan matanya.


"Have a Nice Dream too, sayang!" balas Boy.


Tak lama kemudian keduanya pun saling memejamkan mata dan tenggelam dalam mimpi indah mereka.


☘️☘️☘️


Keesokan harinya, Mama Ecca dan Papa Belva harus kembali ke Indonesia sedangkan Boy kali ini yang mengantar kedua orang tua Nachya ke Bandara karena kebetulan jadwal kuliah Boy kosong hari ini.


"Aku akan mengantarnya ke kampus dan setelah itu mengantar Papa mama ke bandara," tutur Boy saat Nachya sedang mematut dirinya di depan kaca.


"Sebenarnya aku bisa loh ke kampus naik taksi, biar kamu bisa langsung antar papa dan mama ke bandara."


Balasan Nachya barusan membuat Boy menghela nafasnya panjang. Baginya, Nachya kini lebih penting untuk diantar ke kampus terlebih dulu.


Terlebih mengingat hari ini Nachya akan membawa tugas maketnya yang akan dikumpulkan di kampus.


"Gak bisa dong sayang. Aku tetap harus antar kaku ke kampus. Lagi pula penerbangan papa sama mama masih sekitar 2 jam lagi."

__ADS_1


"Cuma kita langsung berangkat aja ke kampus. Uti juga udah siapin bekal buat sarapan kamu!" jelas Boy.


"Iya deh suamiku yang perhatian banget. Yuk, kita berangkat sekarang!" ajak Nachya sambil membawa maket hasil karyanya yang tentunya ada campur tangan dari Boy di dalamnya.


Boy pun langsung mengikuti langkah Nachya yang keluar dari kamar dan mulai menuruni anak tangga.


Sesampainya di bawah, tampak Papa Belva dan juga Mama Ecca yang sudah siap menunggu mereka. Mata mama Ecca langsung berkaca-kaca melihat Nachya yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.


Mama Ecca pun berdiri dari tempat duduknya dan mulai merentangkan tangannya ingin memeluk Nachya. Melihat hal tersebut, Boy pun langsung membawakan maket yang ada di tangan Nachya agar Nachya bisa membalas pelukan dari Mama Ecca.


"Mamaaaa!" panggil Nachya sambil memeluk mama Ecca dengan sangat erat.


"Mama sehat sehat ya di sana. Jangan terlalu kecapekan, harus banyak makan sayur biar dedek Nachya yang ada di dalam perut sehat terus!" pesan Nachya.


"Iyaaa sayaaang. Kamu juga harus sehat terus di sini. Jangan lupa untuk terus kasih kabar ke papa dan mama setiap hari. Setidaknya untuk menguraikan kerinduan mama sama kamu, Nach!" pinta mama Ecca.


"Siap mama!" balas Nachya.


Tanpa menunggu lama, mereka semua pun berpamitan dengan Uti dan bergegas menuju ke mobil agar semuanya tidak terlambat.


Sepanjang perjalanan, Mama Ecca terus saja menasehati Nachya. Mulai dari wejangan agar Nachya menjadi istri yang baik dan penurut untuk Boy, sampai memberikan tips saat menghadapi amarah Boy jika suatu saat mereka berselisih pendapat.


"Kalo suatu saat kamu selisih pendapat sama Boy, Mama punya cara jitu untuk meredakan amarah suami!" bisik Mama Ecca tepat di telinga Nachya agar Boy dan suaminya tidak mendengar.


"Gimana caranya, ma?" tanya Nachya kemudian yang juga sambil memelankan suaranya.


"Cukup rayu Boy pakai baju yang super duper 5ek5i, Mama jamin dia bakal setuju dengan pendapat kamu sayang!" bisik Mama Ecca.


"Kalau gitu mending Nachya gak perlu pakai baju di depan Boy, Ma!" balas Nachya pelan membuat Mama Ecca langsung membelalakkan matanya.

__ADS_1


"Bukannya malah lebih kelihatan 53k5i?" tanya Nachya lagi yang langsung diangguki oleh Mama Ecca.


"Good idea, sayang. Ternyata Nachya sudah lebih pintar ya dari Mama!" puji Mama Ecca yang justru terdengar dengan sedikit berbeda di telinga Nachya.


"Iiih, Mama ngeledek Nachya yaaa?" tanya Nachya sambil menggerutu.


"Bukan meledek sayang!" timpal Mama Ecca. "Cuma ngomong kenyataannya aja!" lanjut Mama Ecca.


Kini mobil Boy sudah memasuki gerbang kampus Nachya dan membuat Nachya tidak bisa lagi membalas ucapan Mama Ecca.


Nachya pun langsung menyalami kedua orang tuanya sambil memeluk mereka sebentar dengan perasaan haru.


"Boy, jaga anak papa dengan baik yaa. Jangan pernah buat Nachya kecewa meski hanya sedikit!" pesan Papa Belva.


"Siap papa!" balas Boy dengan mantap.


"Jangan lupa untuk saling memberi kabar! Papa gak mau masalah kemarin terulang lagi!" pesan papa Belva yang lagi-lagi langsung diangguki oleh Boy dengan mantap.


"Siap papa!"


Akhirnya Nachya pun keluar dari mobil dan melambaikan tangannya ke arah kedua orang tuanya.


"I will Miss you so much papa, Mama!" ucap Nachya lirih.


Namun mengingat kini ia sudah sampai di kampus, Nachya menahan dirinya sendiri agar tidak menangisi kepergian orang tuanya.


Setelah mobil Boy sudah hilang dari pandangannya, Nachya pun segera menuju ke ruang kelasnya dan mengumpulkan tugasnya di meja dosen.


Satu minggu kemudian...

__ADS_1


__ADS_2