Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Menuju Hari H


__ADS_3


Tiga hari telah berlalu, Nachya sudah benar-benar pulih dan bisa beraktifitas seperti biasanya. Berbagai persiapan pernikahan Nachya dan juga Boy juga hampir final.


Hanya saja keadaan Akung Mario semakin mengkhawatirkan, terlebih saat mendengar Boy dan Nachya akan segera menikah. Uti Aleya sendiri terus mendampingi suaminya di rumah sakit tanpa mengetahui sebab musabab yang sebenarnya atas sakitnya Akung Mario.


Boy sendiri berhasil menyeret nama Dean dan Lou di pengadilan. Bahkan pihak kampus juga sudah memblacklist nama mereka.


Sedangkan Papa Belva berusaha mengambil aset kepemilikan Akung Mario atas permintaan Uti Aleya yang ada di perusahaan Opa Krish.


Karena persiapan mengelabui Akung Mario belum matang, akhirnya hak 50 persen kini sudah dipegang oleh Papa Belva untuk biaya rumah sakit dan juga kepulangan Akung Mario ke Indonesia.


Pagi ini, Mama Ecca mulai menyiapkan sarapan dan tentunya ditemani oleh Nachya.


"Mama!" panggil Nachya.


"Nachya perhatikan dari tadi usap-usap perut, Mama lagi hamil ya?" tanya Nachya sambil mengerutkan dahinya.


Mama Ecca pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Nachya. Kamu mau punya adik nih!" jawab Mama Ecca.


"What?! Ini serius?" tanya Nachya yang langsung menghambur memeluk Mamanya.


"Aduuuh mamaaa, akhirnya Nachya bakal punya adik juga. Berarti jaraknya jauh banget dong sama Nachya!"


"Iya, mungkin sekitar 19 tahunan!" jawab Mama Ecca sambil terkekeh.


"Kamu gak malu kan sayang? Udah gede gini mau punya adik?"


"Diih, Mama Ecca nih nanyain apa sih. Gak mungkin malu dong, Mama. Malah Nachya seneng banget!" balas Nachya mulai menciumi perut mamanya.


"Adik Nachya satu atau dua ma?" tanya Nachya kemudian.


"Dua!" jawab mama Ecca yang baru saja tahu saat memeriksakan ke dokter kandungan kemarin.


"Waaah, senangnya. Selamat yaa mamaa."


Boy yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka pun turut memberi selamat kepada Mama Ecca.


"Waaah, selamaaat Mama Ecca. Kabar baik banget ini! Padahal Boy sama Nachya nunggunya udah lama banget loh!" timpal Boy.

__ADS_1


"Makasih Boy. Oh iya, kapan kamu mau ngajakin Nachya fitting gaun pengantin?" tanya Mama Ecca kemudian.


"Sore ini Ma, kebetulan pagi ini Boy ada kuliah. Dan siangnya ada kerjaan sama Mr. Kevin!" jawab Boy sambil duduk dan siap menikmati sarapannya.


"Nachya mulai kuliahnya minggu depan aja kan? Sampai bener-bener pulih dulu baru berangkat kuliah!" tutur Boy.


"Iya bawel! Lagi pula aku juga pingin nengokin Akung sama Uti di rumah sakit sekalian kontrol ke Dokter Erika."


"Sore aja Nach, biar aku anterin!" timpal Boy.


"Kan aku bisa naik busway atau pesan taksi!"


"Gak bisa, Nachya! Pergi nanti sore atau gak sama sekali!" tegas Boy.


"Ck, maaa! Nachya kan..."


"Mama setuju sama Boy. Nanti sore aja ya Nachya!" timpal Mama Ecca yang sangat paham jika Nachya pasti akan ngeyel.


"Iya maa!" balas Nachya.


"Nah, kalo nurut gini kan jadi makin cantik, Nachya!" puji Boy sambil mengacak rambut Nachya.


"Yeee, gombal banget deh kamu!" balas Nachya kesal sambil merapikan rambutnya.


"Gaak laah! Mana ada suka!"


"Yaudah, aku pamit yaa cantik!" Boy pun mulai beranjak sambil melambaikan tangannya ke arah Nachya dan kemudian menyalami tangan Mama Ecca.


Mama Ecca hanya geleng-geleng kepala melihat Boy dan Nachya yang mulai kembali ribut seperti sebelum-sebelumnya. Padahal mereka berdua sudah hampir menikah, tapi tetap saja masih sering ribut.


Setelah Boy mulai meninggalkan rumahnya, Mama Ecca kembali menasehati Nachya.


"Nachya, kan udah mau nikah sama Boy. Masa' sekarang mama lihat hampir tiap hari bawaannya ribut mulu!"


"Ribut dikit doang kok, Mamaa!" balas Nachya sambil menikmati sarapannya.


"Meski udah nikah, Nachya gak mau satu kamar sama Boy!" lanjut Nachya membuat Mama Ecca terhenyak.


"Loh kenapa sayang?"


"Boy kan masih harus dihukum karena udah bo-ong sama Nachya. Nanti kalo Boy udah kapok, baru deh boleh satu kamar sama Nachya."

__ADS_1


Papa Belva yang baru turun dari kamarnya dan tidak sengaja mendengar cerita Nachya pun langsung nimbrung.


"Memangnya berapa lama Nachya mau kasih hukuman sama Boy?" tanya Papa Belva sambil menarik kursi dan duduk di samping istrinya.


"Emm, gak tau deh paa. Bisa jadi satu tahun, dua tahun, atau bahkan sampai kita lulus kuliah!" jawab Nachya dengan santainya.


Papa Belva dan Mama Ecca kini hanya dapat menelan ludahnya kasar mendengar jawaban Putrinya.


'Duuuh Boy, Boy. Sungguh malang nasibmu!' gumam Papa Belva dalam hati tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Boy yang sebentar lagi akan berubah status menjadi menantunya.


"Wah, Boy uji nyali terus nih tiap malem Nachya!" timpal Mama Ecca sambil terkekeh pelan.


"Horor amat sih Ma, pake acara uji nyali segala!" balas Nachya yang belum paham ke mana arah pembicaraan Mamanya.


"Kalo papa sih gak masalah Boy mau uji nyali, yang penting Papa gak mau ikut-ikutan. Iya kan Queen Caa." timpal Papa Belva.


"Diiih, Papa ini kalo dideket mama maunya mesra-mesraan terus!" protes Nachya.


"Harus dong sayang! Oh iya, Nachya udah tau belum kalo bentar lagi mau punya adik?"


Nachya pun langsung menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan papa Belva kali ini. Akhirnya mereka bertiga pun membicarakan tentang acara nanti sore.


☘️☘️☘️


Setelah berbagai persiapan singkat, hari ini tiba waktunya Boy menikah dengan Nachya. Tidak banyak mengundang tamu undangan karena memang tidak banyak yang mereka kenal.


Hanya saja kabar berita ini membuat Bunga sangat tercengang.


"Jadi Boy ternyata bukan saudara kandung Nachya dan hari ini mereka akan menikah?" tanya Bunga yang langsung terduduk lemas sambil bersandar di tepi ranjang asrama.


Bukan hanya Bunga yang tercengang, hampir semua teman teman Nachya di Indonesia juga sangat terkejut dengan kabar ini termasuk Ruby.


Namun mereka hanya bisa mendoakan kebahagiaan Nachya dan Boy dari jauh.


Akung Dion dan istrinya juga sudah memberi restu pernikahan cucu mereka setelah mendengar cerita dari Papa Belva. Sedangkan Akung Mario kini terpaksa menghadiri pernikahan cucunya di atas kursi roda.


Uti Aleya terus saja mendorong kursi roda suaminya menuju ke tempat pernikahan Boy dan juga Nachya.


"Aku harap kau tidak membuat kegaduhan dalam acara ini! Semoga saja kau bisa sadar setelah mendapat teguran seperti ini Mario!" ucap Uti Aleya.


"Maaf!" satu kata yang terus terucap di bibir Mario sejak Nachya dan Boy menjenguk nya di rumah sakit beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


"A-a-ku me-nye-sal!" ucapnya terbata bata.


"Simpan saja penyesalanmu itu. Yang jelas aku masih sangat kecewa dengan semua sikapmu!" timpal Uti Aleya.


__ADS_2