
“Nachya!” Boy langsung memalingkan wajahnya dari Nachya.
“Mendingan kamu sekarang balik ke kamar dan cepat tidur!” lanjutnya ketus membuat Nachya terus saja mengekori Boy.
“Kamu kok ngomongnya mulai ketus sih Boy!” gerutu Nachya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Emang aku ada salah ya sama kamu? Segitunya banget kamu sama aku!”
“Tadi siang udah akur, sekarang mulai ngajakin berantem. Ngomong baik-baik kenapa sih?!” protes Nachya.
Boy yang sudah tidak karuan pun langsung berjongkok membuka tas yang sudah ia siapkan untuk besok dan menyibukkan dirinya untuk mengecek barang-barang yang sebenarnya sudah ia cek berkali-kali. Sedangkan Nachya dengan polosnya ikut berjongkok di sambil Boy dan memperhatikan barang bawaan Boy besok.
“Gak ada yang mau ngajakin berantem! Aku sibuk, Nach! Mendingan kamu balik ke kamar dan tidur!” balas Boy tanpa memandang ke arah Nachya sedikit pun.
“Aku belum ngantuk kok! Gimana kalo aku bantuin kamu, Boy!” tawar Nachya membuat hati Boy semakin mendidih.
“Kalo aku bilang balik ke kamar ya balik, gak usah bantuin aku!” gertak Boy yang sudah tidak dapat menahan hasrat yang bergejolak dalam dadanya.
Gertakan Boy kali ini membuat wajah Nachya langsung manyun kesal.
“Kamu ini sebenarnya kenapa sih Boy? Aku tawarin baik-baik, kamunya malah marah-marah!” protes Nachya.
“Kamu sadar gak? Baju yang kamu pake itu bikin aku sakit mata! Dan aku gak suka!” balas Boy membuat Nachya langsung menilik ke arah baju yang ia kenakan.
“Bikin sakit mata?” gumam Nachya yang kemudian berdiri di depan kaca yang ada di kamar Boy.
“Perasaan warnanya juga gak mencolok deh, gimana ceritanya bisa bikin sakit mata?” tanya Nachya yang masih mematut dirinya di depan kaca.
Boy yang sudah panas dingin hanya mampu mengepalkan tangannya dengan geram. Kemudian ia pun berdiri dan mendorong tubuh Nachya agar segera keluar dari kamarnya.
“Yang jelas mata aku sakit liat kamu malam ini Nachya. Kamu jelek banget!” ujar Boy lagi yang terus mendorong tubuh Nachya ke arah balkon.
Setelah dipastikan Nachya diluar, Boy langsung penutup pintu kaca dan langsung menguncinya dari dalam agar Nachya tidak kembali masuk ke kamarnya. Tidak hanya itu, Boy juga langsung menutup gorden kamarnya rapat-rapat.
“Huuh!” Boy membuang nafasnya kasar. “Aku bisa gila kalo ngeliat Nachya tiap hari pakai pakaian yang kurang bahan seperti itu!” gumam Boy sambil mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
Ia pun langsung meneguk habis persediaan minum yang ada di kamarnya untuk mendinginkan hati dan pikirannya yang sudah mem4n4s.
Sedangkan Nachya yang diusir secara terang-terangan oleh Boy terus saja menggerutu sambil masuk ke dalam kamarnya.
“Emang sejelek apa sih aku, sampai bikin Boy sakit mata!” gerutu Nachya sambil menutup pintu kamar dan menutup gordennya.
“Udah marah-marah gak jelas kek orang PMS!” Nachya kemudian duduk di depan meja riasnya sambil terus memandangi dirinya sendiri.
“Perasaan tampang aku gak berubah, gak ada jerawat juga. Kenapa Boy bilang aku jelek sih?!”
“Apa aku tanya ke papa sama mama aja ya?” tanya Nachya yang kemudian beranjak keluar dari kamarnya dan siap untuk menuju kamar kedua orang tuanya.
Namun saat ia membuka pintu kamarnya, lagi-lagi ia berpapasan dengan Boy.
“Ck, kamu lagi! Kamu lagi!” keluh Boy yang membawa botol minuman di tangannya.
“Dih, gak usah ngajakin ribut deh!” balas Nachya yang meninggalkan Boy begitu saja dan berjalan menuju kamar papa mamanya.
“Mau nanya sama mama, aku cantik atau jelek!” balas Nachya membuat Boy cepat-cepat menarik tangan Nachya untuk menjauh dari pintu kamar orang tua mereka.
“Kamu gila ya?! Ini udah hampir jam 10 malam Nach! Ganggu orang tidur tau gak?!”
“Ya kan papa sama mama belum tentu udah tidur!” balas Nachya tidak mau kalah.
Karena takut suara Nachya akan mengganggu kedua orang tuanya, Boy kembali menarik tangan Nachya masuk ke dalam kamar.
“Kamu ini polos atau bodoh sih? Kenapa gak tau aturan sama sekali?”
“Kalo udah di atas jam 9 malam, gak boleh masuk ke dalam kamar orang tua kecuali kalo lagi darurat! Itu gak sopan! Bukannya papa udah sering kasih tau kamu kayak gini?” tegur Boy panjang lebar.
Nachya seketika mengingat peraturan khusus dari Papa Belva, dimana ia dilarang mengetuk pintu kamar di atas jam 9 malam kecuali dalam keadaan darurat.
“Iya aku inget! Tapi kan ini aku dalam keadaan darurat juga Boy. Aku pingin denger penilaian papa sama mama, aku ini cantik atau jelek. Soalnya kan kata kamu malam ini aku jelek.”
__ADS_1
“Aku takutnya ada aura negatif yang nempel sama aku yang bikin aku kelihatan jelek!” balas Nachya membuat Boy ingin berteriak sekencang-kencangnya menghadapi sikap Nachya yang membuat kesabarannya habis.
“Kamu mau tahu biar kamu kelihatan tetap cantik di mata aku?” tanya Boy dan Nachya langsung menganggukkan kepalanya antusias.
Boy langsung berjalan ke arah walk in closet yang ada di kamar Nachya dan membuka lemari Nachya. Hampir semua baju tidur Nachya kekurangan bahan, piyama Nachya pun sangat pendek dan lagi-lagi tanpa lengan.
Tetapi ada beberapa kaos panjang dan Boy langsung mengambil salah satu kaos Nachya yang berwarna putih. Tidak hanya itu, Boy juga mengambil celana santai Nachya yang panjang.
“Kamu pakai ini dan dijamin kamu bakal terlihat cantik di mata aku, papa dan juga mama!” balas Boy.
“Tapi ini kan bukan baju buat tidur Boy!” protes Nachya.
“Pakai ini dulu, besok aku janji akan belikan piyama baru biar kamu makin kelihatan cantik!” tukas Boy.
“Serius?” tanya Nachya sambil mengambil kaos dan celana panjang dari tangan Boy.
“Aku baru tahu deh, cewek itu cantik kalo pake baju kedodoran kayak gini! Padahal kan biasanya terlihat cantik dengan make up dan perawatan khusus dari dokter kecantikan!” gumam Nachya yang langsung memakai kaos dan celananya di depan Boy tanpa melepaskan pakaian yang masih dikenakannya.
“Cantik kan memang relatif Nach, tergantung siapa yang melihat dan menilai!” balas Boy.
“Nah, kalo gini, baru deh kamu kelihatan cantik banget!” puji Boy sambil mengacak rambut Nachya pelan.
Pujian Boy membuat senyum Nachya mengembang dan wajahnya sedikit memerah.
“Yaudah, sekarang kamu tidur karena besok harus bangun lebih pagi! Have a nice dream, Nachya!” ucap Boy sambil meninggalkan kamar Nachya.
“Have a nice dream juga, Boy!” balas Nachya sambil menutup pintu kamarnya.
Kini Nachya sudah tenang karena Boy tidak lagi menilainya jelek. Bahkan pujian dan ucapan selamat tidur dari Boy tadi membuat Nachya cepat terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1