
“Jadi ini yang namanya Nachya?!” tanya ayah Arini dengan sorot matanya yang begitu tajam.
“Iya om. Saya Nachya!” jawab Nachya santun sambil mengulurkan tangannya hendak menyalami ayah Arini.
“Gak usah sok ramah dengan saya!” gertak Ayah Arini yang sama sekali tidak membalas uluran tangan Nachya.
“Jangan mentang-mentang kamu cantik dan anak orang kaya, kamu bisa bertindak seenaknya!” lanjut Ayah Arini sambil menudingkan jari telunjuknya di depan Nachya.
Mama Ecca yang tidak terima Nachya dibentak orang lain pun langsung menaikkan oktaf suaranya.
“Jika tujuan kedatangan Anda hanya untuk memarahi anak saya, lebih baik Anda angkat kaki dari rumah ini, Pak!” balas Mama Ecca balik membentak.
“Saya yang jadi orang tuanya juga gak pernah bentak anak saya seperti bapak!” gertak Mama Ecca tidak terima.
Arini yang merasa tidak enak dengan Nachya dan keluarganya langsung menarik tangan ayahnya agar meredam emosinya.
“Ayah, udah yah! Jangan marah-marah kayak gini! Ayah janji kan mau bicarakan baik-baik!” ucap Arini yang wajahnya tampak sembab seperti habis menangis lama.
Sayangnya ayah Arini tetap saja meledak-ledak meluahkan segala amarahnya yang sudah terpendam sejak di rumah.
“Kamu diam Arini!” gertak ayahnya sambil menepis tangan Arini yang memegang lengannya.
“Saya akan angkat kaki dari sini setelah anak Anda bertanggung jawab dengan apa yang ia lakukan dengan anak saya!”
Papa Belva yang baru saja pulang diantar Boy pun langsung bergegas masuk ke dalam saat mendengar ada suara orang yang berteriak di ruang tamunya.
“Apa yang telah dilakukan oleh anak saya?” tanya Papa Belva.
Suasana tegang kini menyelimuti ruang tamu di rumah Papa Belva. Semuanya bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh Nachya sampai membuat orang tua Arini marah besar.
“Karena Nachya, anak saya sekarang hamil!” jawab Ayah Arini membuat suasana yang tadinya tegang berubah menjadi seperti panggung komedi.
Mama Ecca mengernyitkan dahinya sambil tertawa mengejek mendengar jawaban Ayah Arini. Begitu juga dengan Papa Belva yang sama sekali tidak menduga jawaban yang keluar dari mulut pria yang ada di depannya. Papa Belva terkekeh pelan namun kemudian kembali menggertak tamunya.
“Heh, Kamu pikir anak saya waria apa?!”
“Mana mungkin anak saya bisa membuat anak kamu hamil?!”
Ayah Arini pun mulai tersadar jika seharusnya bukan kalimat itu yang ia lontarkan. Ia pun mulai terdiam sambil berpikir apa lagi yang harus ia sampaikan.
“Kenapa diam? Apa Anda sudah mulai merasa bersalah karena membuat keributan di rumah saya?” tanya Papa Belva dengan tatapan tidak suka.
“Maafkan suami saya, Pak! Seharusnya kita bisa berbicara dengan baik, namun suami saya yang sudah terbakar emosi sejak dari rumah ternyata justru membuat keributan di sini!” ucap ibu Arini yang akhirnya buka suara.
__ADS_1
“Oke, sekarang silakan Anda duduk dan sampaikan dengan benar kesalahan apa yang telah anak saya perbuat!” ucap Papa Belva.
Arini pun akhirnya memberanikan dirinya untuk bercerita di tengah keluarga Nachya.
Beberapa bulan yang lalu,
Arini yang mendapatkan kursus math gratis dari Pak Adit pun selalu berusaha mencari perhatian dari Pak Adit. Sampai Arini tahu jika Pak Adit ternyata sangat mencintai Nachya. Awalnya Arini hampir mundur untuk berjuang mendapatkan cinta dari Pak Adit karena ia merasa tidak pantas untuk bersaing dengan Nachya.
Namun, ia justru semakin dekat dengan Pak Adit yang selalu menanyakan tentang semua hal yang berkaitan dengan Nachya. Ia justru selalu mendapat perhatian khusus dari Pak Adit karena terus saja membeberkan cerita tentang Nachya.
Sampai pada suatu ketika, tanpa sengaja Arini bertemu dengan Pak Adit dengan keadaan yang sangat kacau. Karena tidak tega, Arini pun terus mengikuti Pak Adit yang masuk ke dalam bar malam. Pak Adit yang sadar jika Arini mengikutinya pun langsung mengajaknya untuk menemaninya malam itu.
Pak Adit terus saja bercerita tentang usahanya yang selalu gagal mendapatkan perhatian dari Nachya sambil terus minum untuk menghilangkan rasa kecewanya.
“Kamu malam ini sangat cantik!” puji Pak Adit malam itu sambil mengusap pipi Arini.
Arini pun langsung berbunga-bunga mendapatkan pujian dari guru yang selama ini ia cintai.
“Aku benar-benar sangat mencintaimu!” ucap Pak Adit yang sudah mulai dalam keadaan mabuk.
Namun ucapan Pak Adit barusan dianggap serius oleh Arini.
“Saya juga sudah lama mencintai, Bapak!” balas Arini membuat mata Pak Adit langsung berbinar.
Namun, di akhir permainan mereka, Arini mulai tersadar saat mendengar bukan namanya yang diucapkan oleh Pak Adit, melainkan nama Nachya.
“Terima kasih sudah membalas cintaku, Nachya sayang!” ucap Pak Adit sambil mengecup kening Arini.
“Aku akan bertanggung jawab dengan perbuatanku malam ini denganmu, Nach!” lanjutnya lagi membuat buliran air mata Arini pun langsung jatuh membasahi pipi Arini.
Mendengar cerita Arini kali ini membuat ayahnya langsung berdii dan menampar putrinya dengan sangat kencang.
“Mana cerita yang benar, Arini?” tanya ayahnya.
“Kamu tadi bilang kan kalau Nachya yang sudah menjebakmu tidur dengan Pak Adit hingga menyebabkanmu sekarang hamil?”
Arini pun langsung bersimpuh di kaki ayahnya dan menangis tersedu-sedu.
“Maafkan Arini, ayah! Yang barusan Arini ceritakan adalah yang sebenarnya. Nachya sama sekali tidak bersalah dalam hal ini!” jelas Arini yang membuat ayahnya merasa sangat malu.
“Tapi Arini lah yang sudah bodoh malam itu!”
Ayah Arini pun langsung menarik lengan putrinya dengan kasar dan menyeretnya keluar tanpa ada kata maaf atau pamit karena sudah benar-benar dirundung malu.
__ADS_1
“Om, tolong jangan seret Arini seperti ini! Di sedang hamil!” pekik Nachya tidak tega dengan sahabatnya yang mungkin sebentar lagi akan mendapat amukan dari ayahnya.
Dengan sigap Boy pun menghadang langkah ayah Arini yang hampir sampai pintu.
“Lepaskan anak Anda atau saya bisa kasuskan masalah ini ke pengadilan!” ancam Boy dengan tegas.
“Saya bisa melaporkan Anda dengan banyak kasus, Pak. Terlebih semua kejadian di rumah ini terekam CCTV!”
“Dan saya pastikan, Anda tidak akan bisa lepas dari jeratan hukum. Karena saat ini Anda berada di rumah pengacara ternama!” tegas Boy lagi membuat kaki ayah Arini langsung terasa lemas.
Perlahan Ayah Arini pun mendekati Papa Belva dengan mengulurkan tangannya. “Saya mohon, maafkan saya Pak!” pinta ayah Arini dengan wajah yang merah padam karena menahan malu.
“Saya benar-benar kalut saat mengetahui anak saya hamil dan mendengar penjelasan darinya jika dia sudah dijebak oleh putri Anda!”
“Jika dia menceritakan semuanya dengan gamblang sejak di rumah, sudah pasti saya tidak akan membuat malu di rumah Anda, Pak!” jelas Ayah Arini.
“Kali ini saya maafkan. Lebih baik Anda datang ke rumah Pak Adit untuk meminta pertanggung jawaban kepadanya!” balas Papa Belva sambil menerima uluran tangan dari ayah Arini.
“Terima kasih banyak Pak, sekali lagi saya mohon maaf!” ucap Ayah Arini sebelum meninggalkan kediaman Papa Belva.
Kini Nachya dan keluarganya pun bisa bernafas lega. Ternyata kemarahan orang tua Arini sama sekali bukan karena kesalahan Nachya.
Namun Papa Belva dan Mama Ecca kembali tersadar jika masalah itu berawal dari Pak Adit yang diam-diam mencintai putri kesayangan mereka.
“Tunggu...!”
“Berati... Pak Adit..!” gumam Papa Belva yang langsung menatap putri kesayangannya.
“Jatuh cinta sama kamu Nachya?!” lanjut Mama Ecca.
Nachya hanya mengedikkan bahunya tanpa menjawab sepatah kata pun. Karena Nachya merasa jika papa mamanya hanya menanyakan kalimat retoris yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban darinya. Ia justru berjalan mendekati Boy yang masih berdiri di dekat pintu.
“Hai Boy!” sapa Nachya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Betah banget sih kamu, sudah 2 minggu gak nemuin aku!”
“Ya, tapi kan aku tetap kasih kabar sama kamu Nach! Kamu tahu sendiri kan kalo aku harus gantiin Mama Ecca karena harus nemenin kamu nyiapin berkas-berkas!” jawab Boy yang sudah berulang kali menjelaskan dengan Nachya kenapa ia belum sempat datang ke rumah.
“Ya tapi kan aku ka...” Nachya memotong kalimatnya saat melihat Ruby keluar dari kamar Nachya dan menuruni anak tangga.
Ruby sengaja tidak keluar dari kamar Nachya saat mendengar keributan tadi. Ia tidak mau ikut camour dengan masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sama sekali. Dan kini ia memutuskan untuk pulang ke rumah karena ingin memberikan waktu Nachya bercengkerama dengan keluarganya untuk membicarakan masalah yang barusan terjadi.
☘️☘️☘️
__ADS_1