Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Pertolongan Pertama


__ADS_3


Untungnya tadi Boy sempat meminta tolong kepada Satria, anak Teknik yang terpilih sebagai pertukaran pelajar selama 6 bulan di Oxford University untuk menemaninya ke Epping Forest hari ini. Kini Satria mengemudikan mobil dengan cukup kencang agar mereka segera sampai di rumah sakit.


Sedangkan Boy terus saja mendekap Nachya dengan sangat erat sambil menghangatkan tubuh Nachya dengan terus saja membalurkan minyak di telapak tangan dan juga kakinya. Meski tubuh Nachya tidak langsung berubah hangat dalam waktu sekejap, setidaknya bibirnya sudah tidak begitu biru seperti saat tadi Boy menemukan Nachya terikat di hutan.


“Siapa sebenarnya gadis itu, Boy? Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Bagaimana kau bisa mengenalnya, Boy? Bukankah kita juga belum ada satu hari di sini?” tanya Satria yang sangat panik saat mendapati Boy membawa seorang gadis cantik yang hampir tidak bernyawa.


“Dia kekasihku dan ada seseorang yang hendak melenyapkannya!” jawab Boy.


“Hawa dingin seperti ini membuat orang bisa mengalami hipotermia dan kasus yang kebanyakan terjadi, mereka tidak selamat sesampainya di rumah sakit.”


Ucapan Satria barusan membuat Boy semakin kalut. “Tapi aku sudah berusaha membuat tubuhnya hangat, Satria!”


“Bagaimana dengan wajahnya, apa masih memucat?” tanya Satria yang masih fokus mengendarai mobilnya.


“Masih membiru tapi sudah tidak sepucat tadi.”


“Beri nafas buatan untuk memastikan kekasihmu tetap bernafas sampai kita tiba di rumah sakit!” titah Satria membuat Boy tertegun.


Kali ini ia tidak lagi memikirkan apa pun tentang larangan, hukuman, peraturan, atau apa pun itu. Yang ia mau hanya satu, Nachya tetap selamat sampai mereka tiba di rumah sakit.


Boy langsung mendaratkan bibirnya di bibir Nachya yang masih sedingin es.


“Sesap perlahan seperti menikmati es batu dalam mulutmu sampai hawa dingin tersebut sedikit menghangat!” titah Satria yang tentunya langsung diikuti oleh Boy.


“Setelah itu baru kau bisa memberikan nafas buatan untuknya dan pastikan nafasnya tidak terhenti sampai kita tiba di rumah sakit!”


Awalnya bibir Nachya memang sangat dingin seperti es batu dan kini suhunya sudah mulai sedikit berubah. Boy pun langsung memberi nafas buatan untuk Nachya dan terus memastikan Nachya tetap bernafas.

__ADS_1


Keberuntungan kini kembali berpihak kepada mereka. Mobil yang dikendarai oleh Satria berhenti dengan sempurna di lobby rumah sakit. Kedatangan Boy yang menggendong Nachya ala bridal langsung disambut oleh para tim medis yang langsung menyiapkan brankar untuk Nachya.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanya salah satu dari tim medis kepada Boy.


“Terjebak dalam Epping Forest selama kurang lebih 2 jam!” jelas Boy dengan singkat.


“Hipotermia akut dan ini perlu penanganan khusus yang bersifat segera! Siapkan semua identitas gadis ini dan segera menuju ke Bagian Administrasi!” titah tim medis tersebut.


“Baik!” jawab Boy namun tidak bergerak menjauh sedikit pun dari sisi Nachya. Ia masih ingin memastikan jika Nachya selamat dan baik-baik saja.


“Lakukan sekarang dan Anda bisa kembali lagi kemari untuk memastikan bahwa gadis ini akan baik-baik saja!” lanjut tim medis tersebut yang sangat paham dengan kegundahan Boy saat ini.


Boy pun dengan berat hati langsung berbalik untuk menuju ke administrasi rumah sakit. Tak lupa ia meminta untuk membawakan jaket dan juga tas Nachya yang masih tertinggal di mobil oleh Satria.


Setelah mengurus segala sesuatunya di bagian administrasi, Boy pun segera kembali menuju ruangan di mana Nachya di beri tindakan. Tak lama kemudian, Dean pun tiba di rumah sakit dan segera menuju ke Instalasi Gawat Darurat untuk meminta pertolongan pertama untuk seluruh luka lebam yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya.


“Apa yang terjadi denganmu anak muda?” tanya dokter yang kini memberikan pertolongan untuk Dean.


“Ck, memang sudah biasa terjadi! Hanya saja bekas pukulan yang membuatmu lebam seperti ini bukanlah pukulan biasa. Kau bisa saja mati jika terus maju untuk bertaruh! Lebih baik mundur dari pada kau harus berakhir di lubang kubur!” ucap Dokter tersebut memberi pesan untuk Dean.


“Baik, dokter!”


Jawaban Dean kali ini bukanlah jawaban yang sungguh-sungguh dari lubuk hatinya.


‘Jika Boy seberingas itu, berarti aku harus menggunakan cara licik untuk memukulnya mundur dari sisi Nachya!’ gumam Dean dalam hati.


...💕💕💕...


Boy kini sedang menunggu di luar ruangan bersama dengan Satria. Tiba-tiba ponselnya pun berdering dan tampak nama Papa Belva di layar ponselnya. Boy yang belum siap untuk menerima panggilan dari Papanya pun sengaja mengacuhkan panggilannya begitu saja.

__ADS_1


Namun kemudian ponselnya kembali berdering dan mau tidak mau Boy pun menerima panggilan dari papanya.


“Halo, Boy! Kamu lagi sibuk ya?” tanya Papa Belva di ujung panggilan.


“Tidak, pa!” jawab Boy singkat.


Papa Belva pun kemudian memberikan kabar jika saat ini mereka berdua sudah berada di bandara. Kemungkinan besok akan tiba di London dan meminta tolong Boy untuk menjemputnya di Bandara.


Tidak hanya itu, Papa Belva juga memberitahukan jika ia akan memberikan surprise untuk Akung, Uti, dan juga Nachya.


Kabar yang Boy terima kali ini membuat kakinya terasa begitu lemas. Setelah panggilan dari Papa Belva berakhir, Boy langsung duduk bersandar dengan tatapan kosongnya.


Selama ini, Nachya hanya bercerita tentang apa yang ia hadapi di London dengan Boy. Mengenai pertengkarannya dengan Akung Mario, perginya dari flat house, dan segala sesuatu yang Nachya alami. Itu pun Nachya cerita tanpa ada guratan rasa mengeluh atau sedih sedikit pun.


Boy sendiri paham harus menyimpan dengan rapat apa yang diceritakan Nachya dengannya tanpa harus Nachya minta. Kini, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Papa Belva dan Mama Ecca mengetahui putri semata wayangnya kini sedang berjuang melawan mautnya.


‘Siapa yang nantinya akan mendapatkan surprise yang sesungguhnya?’ gumam Boy dalam hati.


Terlebih keadaan Nachya kali ini tentunya tidak diketahui oleh Akung dan juga Utinya. Bahkan kepergian Nachya ke Epping Forest juga belum tentu diketahui oleh mereka.


Bagaimana bisa tahu, setiap Akung dan Uti nya datang ke asrama kampusnya, Nachya selalu saja bersembunyi untuk tidak menemui mereka. Di persembunyian Nachya itu lah ia selalu menghubungi Boy untuk meluahkan kerinduan mereka.


Tak lama kemudian Dokter pun keluar dari ruangan dan Boy segera merapat ke arahnya.


“Gadis ini sangat luar biasa! Dia mampu melewati masa kritisnya dengan baik!” tutur dokter.


“Untungnya kau bisa memberikan pertolongan pertama selama perjalanan menuju ke rumah sakit. Biasanya pasien seperti ini banyak yang tidak bisa diselamatkan sebelum tiba di rumah sakit!”


“Selama 24 jam, dia akan terus dipantau secara intensif! Sesekali kau bisa masuk ke dalam untuk melihat keadaannya, anak muda!” dokter tersebut menepuk bahu Boy dan kembali menuju ke ruangannya.

__ADS_1


Boy langsung tersungkur bersujud untuk mengungkapkan rasa syukurnya yang tiada tara.


‘Ini semua karena Mu, Tuhan! Terima kasih atas segala pertolonganMu hari ini. Terima kasih sudah menjaga Nachya untukku. Terima kasih untuk tidak mengambil nyawanya terlebih dahulu meski Engkau juga begitu menyayangi Nachya yang sesungguhnya adalah milikMu.’


__ADS_2