Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Nakal ya


__ADS_3


“Tapi aku kangen dinakalin sama tangan kamu!” bisik Nachya membuat Boy langsung membelalakkan matanya.


“Nachya!” suara Boy tercekat sambil memegang dagu Nachya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Boy langsung mendaratkan bibirnya di bibir Nachya dan m3ny3sa4pnya perlahan. P4gut4n Boy kali ini langsung dibalas sedikit li4r dengan Nachya membuat Boy semakin menarik tengkuk leher istrinya dan memperdalam ciumannya.


Tangan Nachya pun langsung tergerak membuka kancing piyama Boy satu per satu. Gerakan Nachya kali ini membuat g4ir4h Boy semakin terbakar.


Kini Boy mulai mel3p4skan pa9utannya di bibir Nachya dan mulai mengeksplor leher istrinya dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana. D3s4h4n Nachya pun mulai memenuhi kamar Boy yang kedap suara, terlebih saat Boy mulai bermain di d4d4 istrinya.


Titik 5en5itif Nachya yang kini menjadi favorit Boy dan mulai memenuhi mulutnya membuat Nachya makin men993linjang tidak karuan.


“Boy!” panggil Nachya di tengah suara d3s4h4nnya.


Panggilan Nachya kali ini sama sekali tidak dihiraukan oleh Boy yang sedang asyik m3nyu5u seperti anak bayi.


Mendapati Boy yang tidak menghiraukan panggilannya sama sekali membuat Nachya memasukkan tangannya di dalam c3l4n4 Boy dan mulai membalas kenakalan Boy yang membuatnya terus m3n993linj4ng.


Akhirnya permainan panjang mereka pun membuat mereka baru memejamkan mata tepat pukul 1 dini hari. Boy langsung mengecup kening Nachya yang sudah tampak kelelahan.


“Sweet dream, honey! Aku semakin mencintaimu, sayang!” bisik Boy sambil memeluk Nachya yang sudah hampir memejamkan matanya.


“Good Night suami nakalku!” balas Nachya yang sudah tidak kuat membuka matanya lagi.


Mendengar ucapan selamat malam dari Nachya membuat Boy semakin gemas dengan tingkah istrinya. Bukannya ikut memejamkan mata menyusul Nachya tidur, Boy justru memandangi wajah Nachya yang sudah tenggelam dalam mimpinya.


‘Sepertinya yang nakal itu bukan aku, Nach! Tapi kamu!’ gumam Boy dalam hati sambil mengabsen wajah Nachya dengan jarinya.


‘Aku sudah jadi suami yang baik loh, mempersilakan istrinya untuk istirahat tanpa harus ada olahraga di atas tempat tidur!’


‘Eh, kamu malah dengan baiknya merindukan kenakalan tangan aku!’


Boy tertawa dalam hatinya sambil terus memandangi Nachya.


‘Besok aku nakalin lagi yaaa, biar kamu makin rindu!’


Lama kelamaan, Boy pun turut menyusul Nachya tenggelam dalam mimpi. Keduanya tertidur bersama sambil saling berpelukan.


Meskipun Nachya dan Boy tidur sampai larut malam, keduanya tetap bisa bangun pagi dan kembali menjalani aktivitas mereka seperti biasanya.


Dua malam berlalu,

__ADS_1


Nachya kini mulai menyelesaikan tugas maketnya dengan sempurna di malam ketiga ia mengerjakan tugasnya dan kali ini tentunya dengan bantuan Boy yang sangat setia menemani Nachya menyusun maket.


Tepat pukul sebelas malam, maket dan semua tugas Nachya sudah siap dikumpulkan besok. Senyum Boy pun langsung merekah sempurna.


Jika kemarin mereka selalu berolahraga malam di atas tempat tidur selepas Nachya mengerjakan tugas dan itu pun sudah lewat tengah malam, kali ini Boy bisa mulai menakali istrinya lebih awal dari duam malam yang lalu.


“Nachya!” panggil Boy yang mulai membuka kancing piyamanya.


“Kamu kangen kan aku nakalin malam ini?” tanya Boy sambil mengikis jaraknya dengan Nachya.


Sayangnya kali ini bukannya membalas kenakalan Boy, Nachya justru menggelengkan kepalanya dan sedikit menjauh dari suaminya.


“Malam ini aku gak mau dinakalin sama kamu lagi, Boy. Mungkin sampai beberapa malam ke depan!” ucap Nachya membuat Boy sedikit terkejut mendengar jawaban dari istrinya.


“Kenapa, Nach?!”


“Mumpung malam ini tugas kamu sudah kelar loh!”


“Aku gak mau kamu tersiksa, Boy!” balas Nachya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan langsung masuk ke dalam selimut sambil membelakangi Boy.


“Tersiksa gimanaa sih sayang maksud kamu?” tanya Boy yang sama sekali tidak paham dengan arah pembicaraan Nachya.


“I get my period, Boy sayang. Jadi mungkin untuk seminggu ke depan kita libur dulu olahraganya!” jelas Nachya membuat Boy langsung terduduk lesu.


“Yaaah, kenapa harus datang bulan di waktu yang gak tepat gini sih, Nach!” gerutu Boy sambil memanyunkan mulutnya.


“Ini malah sudah tepat banget waktunya, Boy. Biasanya malah telat loh!” balas Nachya dengan santai.


“Ck, memang biasanya berapa lama?”


“Paling cepet sih 7 hari, Cuma kadang bisa sampai 14 hari juga!” jelas Nachya membuat Boy seketika membelalakkan matanya.


Tidak hanya itu, nafas Boy pun mulai terasa sedikit sesak membayangkan ia harus berpuasa tidak menakali Nachya selama 14 hari ke depan.


“Memang gak bisa dicepetin apa? Buka aja kerannya lebar-lebar biar cepet selesai, Nachya!” protes Boy yang langsung mendapat cubitan dari Nachya.


“Kamu pikir aku torn air apa? Seenaknya ajaa disuruh buka keran biar datang bulannya cepet selesai!” balas Nachya.


“Aduh Nachya, kamu kalo nyubit gak kira-kira ini. Sakit banget!”


“Yaa aku kan tersiksa kalo harus puasa selama itu!”


“Tapi nanti kalo sudah selesai puasa pasti makin enak loh Boy rasanya!” balas Nachya sambil mengusap tubuh Boy yang bekas dari cubitannya.

__ADS_1


“5 putaran permainan dalam satu malam yaa?” tanya Boy yang langsung dibalas oleh pelototan Nachya.


“Ya gak sampe 5 kali juga, Boy!”


“Bisa tepar nanti aku pagi-pagi!” balas Nachya.


Boy kini hanya bisa membuang nafasnya kasar. Ia pun langsung mengambil ponselnya dan mulai melakukan pencarian bagaimana caranya mempercepat datang bulan seorang wanita.


Sayangnya apa yang Boy cari kali ini benar-benar tidak ada yang sesuai dengan keinginannya. Sedangkan Nachya yang melihat Boy kebingungan pun hanya terkekeh pelan.


“Sabar ya sayang. Ini gak akan lama kok!” ucap Nachya sambil mengusap lengan Boy dengan sangat lembut.


“Kenapa kemarin gak ditunda saja sih sayang datang bulannya?” tanya Boy yang terlihat begitu tidak bersemangat.


“Gak bisa dong sayang, nanti aku malah sakit gimanaa?” balas Nachya dan Boy langsung cepat-cepat menggelengkan kepalanya.


“Jangan, jangan! Kamu gak boleh sakit Nach!”


“Gak papa deh aku puasa kali ini. Tapi nanti setelahnya kamu harus bayar hutang kamu yaa sayang!” pinta Boy dengan memelas.


“Hutang?” tanya Nachya sambil mengerutkan dahinya.


“Iya dong, bayar hutang buat mel4y4ni aku!” balas Boy sambil mengecup bibir Nachya sekilas.


“Loooh kok jadi hutang siih? Aku gak mau ah, Boy! Masa’ kamu malah berubah jadi rentenir gini sih!” balas Nachya tidak setuju.


Bagaimana ia bisa setuju, jika ia sendiri tidak tahu bagaimana nanti ia membayar hutangnya selama datang bulan.


“Kan aku masih bisa mel4y4ni kamu selama datang bulan. Aku masih bisa siapin pakaian kamu, air mandi kamu, dan satu lagi aku juga bisa masakin masakan yang enak juga buat kamu, Boy!” jelas Nachya.


“Tapi aku gak mau yang itu, Nachya. Aku maunya yang ini..!” Boy menunjuk ke arah bibir Nachya.


“Yang ini..!” Boy menunjuk ke leher jenjang istrinya.


“Yang ini jugaa..” Boy kali ini menunjuk ke d4d4 Nachya dan sengaja menyentuh di ujun9 titik 5en5itifnya.


“Dan juga yang ...”


Belum sempat Boy melanjutkan kalimatnya, Nachya langsung menepis tangan Boy yang akan menunjuk ke tempat bagian terin7im miliknya.


“Iyaa iyaaa, aku tahu Boy! Gak usah dilanjutin deh.”


“Intinya tunggu saja sampai datang bulan aku selesai. Semoga saja gak sampai satu bulan” lanjut Nachya lagi sambil membelakangi Boy.

__ADS_1


“Apa?!!! Satu bulan lagi, Nach?”


__ADS_2