Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Perpisahan dan Perjumpaan


__ADS_3


Setelah acara pentas parade budaya, keempat teman Boy pun mulai mengurus kepulangan mereka ke Indonesia karena memang waktu pertukaran pelajar telah usai. Berat memang bagi mereka untuk meninggalkan London yang menyimpan sejuta kenangan selama enam bulan ini.


Terlebih kehilangan Uti Aleya juga begitu menyesakkan hati mereka berempat yang sudah merasa sangat dekat dengannya. Bagi mereka, Uti Aleya adalah orang tua mereka sendiri selama mereka di sana.


Kali ini Boy dan Nachya pun turut mengantarkan Satria dan yang lainnya menuju ke Bandara. Saat hendak berpisah, Bunga pun memeluk Nachya dengan sangat erat. Tanpa terasa air matanya pun membasahi pipi Bunga yang kini tengah memeluk Nachya.


“Terima kasih banyak atas kebaikanmu, Nachya. Aku belajar banyak darimu selama di sini. Kau benar-benar wanita yang mandiri, dewasa, dan berhati mulia. Boy pasti sangat beruntung memiliki istri sepertimu, Nachya!”


“Aku doakan pernikahan kalian selalu dalam ketenangan, kedamaian, penuh cinta, dan awet sampai maut memisahkan kalian berdua. Aku benar-benar sangat salut denganmu, Nachya! Dan aku bangga bisa mengenalmu dengan baik!”


Nachya pun membalas pelukan Bunga dengan sangat erat, “Terima kasih banyak Kak Bunga. Kau juga wanita baik dan luar biasa. Aku yakin kelak kau akan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kriteriamu!” balas Nachya.


“Yang jelas bukan suami aku yaaa!” lanjutnya lagi dengan nada bercanda dan membuat gelak tawa teman-temannya.


“Tentu saja bukan!” jawab Bunga. “Aku akan menunggu kepulangan kalian berdua di Indonesia!” ucap Bunga sambil melambaikan tangannya.


Akhirnya mereka pun berpisah dan Boy berbalik menuju ke tempat parkiran mobil mereka sambil melingkarkan tangannya di pinggang Nachya.


“Aku akan mengurus surat cuti untuk pulang ke Indonesia saat adik kembar kita lahir sayang!” tutur Boy yang sudah memperhitungkan kapan mereka akan kembali ke Indonesia.


“Aku juga sudah membicarakan hal ini dengan Mr Ozzie, tentunya ia juga akan memberikan cuti untukmu!” lanjut Boy lagi membuat Nachya langsung mencium pipi Boy dengan mesra.


“Terima kasih suamiku sayang. Kau benar-benar suami terbaik!”


“Sama-sama istriku sayang!”


Keduanya pun kembali sambil memperbincangkan rencana kepulangan mereka beberapa bulan ke depan. Boy memang sudah merencanakan semua ini untuk menghibur kesedihan istrinya yang begitu kehilangan Uti Aleya. Ia hanya ingin senyum istrinya kembali merekah.


Enam bulan kemudian,


Akhirnya Boy dan Nachya bisa pulang ke Indonesia tepat saat liburan kuliah mereka tiba. Nachya kini mulai duduk di semester 3 sedangkan Boy duduk di semester 5. Keduanya sama-sama menjadi mahasiswa yang juga bekerja di perusahaan ternama dan tentunya memiliki kerja sama yang sangat baik antar astu dengan yang lain.


Kedatangan mereka dijemput oleh Satria dan juga Bara karena Nachya sendiri ingin memberikan surprise untuk kedua orang tuanya. Sedangkan Bunga dan Gitta sudah menyiapkan acara penyambutan mereka berdua di rumah Bunga yang masih bersebelahan dengan Rumah Papa Belva.


“Akhirnya bisa juga menghirup udara segar di tanah kelahiran!” ucap Nachya saat mobil Satria sudah membelah jalanan kota.


“Ini bukan udara kali Nachya, tapi AC mobil!” balas Satria sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


“Hush, gak boleh komplain sama yang diucapin istri aku barusan!” tegur Boy sambil memukul bahu Satria yang meledek istrinya.


“Duh, duh! Boy makin lama makin posessif banget sama istrinya!” celetuk Bara menimpali.


“Gimanaa gak makin posessif kalo istrinya saja makin hari makin cantik begini!” lanjutnya lagi.


“Ck, makanya kalian mending buruan nikah deh dari pada ngeributin kita terus!” balas Boy sambil merangkul Nachya dengan sangat mesra.


“Pinginnya sih gituh Boy. Tapi gimanaa lagi orang Gitta belum mau di ajak nikah!” timpal Bara membuat Boy dan Nachya saling melemparkan pandang.


“Jadi Bara pacaran sama Gitta?” tanya Boy yang langsung diangguki Bara dengan mantap.


“Terus kak Bunga pacaran sama Kak Satria dong?” tanya Nachya kemudian.


“Gak dong, masa’ semuanya jadi cinlok. Kan gak lucu jadinya. Bunga sekarang pacaran sama dosen!” balas Satria.


“Satria mah sukanya daun muda, anak masih kelas satu SMA udah dipacarin sama dia!” timpal Bara.


“Ya, itu mah bakal lama merasakan enak-enaknya. Iya kan sayang?” ledek Boy sambil mengedipkan matanya ke arah Nachya.


Nachya sendiri langsung terkekeh mendengar ledekan suaminya kali ini. “Nanti yang ada anak kita sudah sekolah SD, Kak Satria sudah jadi perjaka tua!” timpal Nachya yang semakin meramaikan suasana di dalam mobil Satria.


“Aku mah gak mau berpikiran untuk jodohin anak-anak aku nantinya. Kasihan kalau mereka tertekan nanti!” timpal Boy yang mengingat jelas bagaimana menderitanya ia hampir kehilangan Nachya hanya karena Nachya pernah dijodohkan dengan Dean sebelumnya.


“Suamiku ini memang good daddy!” puji Nachya sambil mengecup pipi Boy dengan mesra.


Pemandangan kemesraan Boy dan Nachya kali ini membuat Satria dan Bara langsung membuang wajah mereka.


“Aduuuh, kalo ngeliat mereka berdua ini rasanya pingin cepet cepet nikah ajaa! Kalian kalo mesra-mesraan di kamar aja napaaa?” protes Bara.


“Makanya buruan nikaah, iya kan sayang!” timpal Nachya yang dengan narsisnya menyandarkan kepalanya di dada Boy.


“Yaps, bener banget Nyonya Boy!” balas Boy yang semakin sengaja memanas-manasi kedua temannya dengan mengusap kepala Nachya dengan lembut.


Kini Satria dan Bara hanya bisa mengelus dada mereka untuk menahan sabar melihat pemandangan yang membuat mereka berdua iri. Untung saja kini mereka hampir sampai di kediaman Bunga yang bersebelahan dengan rumah Papa Belva.


Saat mobil Satria berhenti tepat di depan rumah Bunga, tampak Papa Belva yang sedang mendorong stroller bayi sendirian di depan rumah. Nachya yang kerinduannya sudah menggebu pun tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menunda perjumpaannya dengan Papa Belva.


Ia pun membuka pintu mobil Satria dan keluar berlari mendekat ke arah papanya.

__ADS_1


“Paapaaaaaaa!” teriak Nachya dengan mata yang berkaca-kaca.


Papa Belva pun menoleh dan betapa terkejutnya ia saat melihat putri kesayangannya kini sedang berlari ke arahnya.


“Nachyaaaa?” Papa Belva langsung mengunci stroller bayi dan memeluk putrinya dengan sangat erat.


“Yaa Ampuun sayaaang, kenapa gak kasih kabar kalo mau pulang?” tanya Papa Belva dengan diselimuti rasa haru dan bahagia yang bercampur menjadi satu.


Boy pun keluar dari mobil Satria dan mendekat ke arah Papa Belva dan juga Nachya yang kini sedang melepas kerinduan mereka. Kini Boy pun berjongkok memandangi dua bayi laki laki yang kembar identik di depannya.


Kini adik kembar mereka yang berjenis kel4min laki-laki sudah berusia 4 bulan lebih dan tampak sangat gembul menggemaskan.


“Hai Brianda, Biantara!”


“Ini Abang Boy sama kakak Nachya pulang buat kenalan sama kalian berdua!” sapa Boy sambil menggenggam kedua tangan bayi kembar itu bersamaan.


Nachya yang mendengar suaminya menyapa adik kembarnya pun langsung melepaskan pelukannya dengan Papa Belva.


“Kita memang mau kasih surprise buat papa sama mama!” ucap Nachya menjawab pertanyaan papanya.


Nachya pun kemudian turut berjongkok memandangi kedua adik kembarnya yang tentunya sangat sulit untuk dibedakan.


“Hai tampan, kalian berdua bener-bener mirip banget sama papa!” sapa Nachya.


“Ayo, ayo kita masuk!” ajak Papa Belva sambil kembali mendorong babynya masuk ke dalam. Sedangkan Satria dan Bara hanya memandangi mereka sambil sedikit melongo.


“Katanya kemarin mau temu kangen dulu sama kita, makan-makan dulu di rumah Bunga baru pulang ke rumah Pak Belva!” gerutu Bara.


“Iyaa itu, ujung-ujungnya buyar semua yang sudah direncanain sebelumnya. Katanya mau kasih surprise, gak taunya sama sama gak bisa nahan rindu!” timpal Satria.


Mereka berdua sama-sama menggerutu tanpa sadar jika Bunga dan Gitta sudah berdiri di belakang mereka.


“Yaudah, kalo gituh kita bawa aja makanannya semua ke rumah Pak Belva!” tutur Bunga membuyarkan lamunan kedua teman laki-lakinya itu.


“Aku setuju itu sama sarannya Bunga, Nachya sama Boy pasti kangen banget lah sama orang tuanya. Apalagi mereka berdua belum ketemu sama si kembar!”


“Nah kita, hampir tiap minggu jengukin adiknya Nachya!” timpal Gitta.


“Oke deh, Nanti aku bantu bawa makanannya setelah antar barang-barangnya pasangan bucin yaaa!” tukas Satria. “Yuk, kita bantu mereka dulu!” ajak Satria sambil menepuk bahu Bara.

__ADS_1


“Iyeee, Bos Satriaaaaa!” jawab Bara sambil mengikuti langkah Satria yang hendak membuka bagasi mobil.


__ADS_2