Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Sama-sama Lapar


__ADS_3

Nachya dan Boy yang sudah selesai mandi kini duduk di sofa yang terletak di depan pintu kamar orang tua mereka. Mereka berdua sama sama duduk menunggu kedua orang tua mereka keluar dari kamar sambil saling melempar pandang.


“Tadi papa marah gak sama kamu?” tanya Nachya memelankan suaranya.


“Gak marah sih, kalo mama gimana?” tanya Boy balik.


“Mama marah lah!” jawab Nachya.


“Pokoknya Nachya dilarang ciuman sama siapa pun itu termasuk sama kamu, Boy!”


“Kata mama, aku udah besar dan bukan anak kecil lagi. Mama takut berawal dari ciuman bisa kemana-mana yang ujung-ujungnya bikin aku bunting dan masa depan suram!”


Boy hanya menghela nafasnya panjang mendengar celotehan Nachya yang sudah tidak lagi mengecilkan volumenya.


“Nach!” panggil Boy pelan. “Ngomongnya pelan aja!” lanjut Boy sambil meletakkan telunjuknya di bibirnya dan Nachya langsung menganggukkan kepalanya.


Kini mereka berdua kembali terdiam menunggu papa dan mama mereka keluar dari kamar membicarakan masalah yang tadi. Sayangnya sudah satu jam lebih mereka menunggu, pintu kamar tidak kunjung terbuka.


“Boy, menurut kamu lama banget gak sih?” tanya Nachya yang langsung diangguki oleh Boy.


“Kita turun dulu yuk, makan malam!” ajak Boy. “Sudah laper ini!”


“Oke deh!” balas Nachya mengikuti langkah Boy.


Keduanya kini memilih duduk berhadapan sambil memandang satu sama lain. Boy yang tidak lepas memandang Nachya, membuat Nachya terus saja mengulum senyumnya dan merasa sedikit salah tingkah.


Mereka kini baru mampu bermesraan lewat sorot mata, meski keduanya berada di tempat yang sama.

__ADS_1


Jangankan untuk bermesraan secara langsung, mau saling mendekat saja mereka tidak berani mengingat tadi siang sudah dipergoki langsung dengan kedua orang tua mereka.


“Nach, kenapa sih kamu lama-lama makin cantik?” tanya Boy dengan tatapannya yang mulai menggoda Nachya.


Nachya mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Boy barusan.


“Sejak kapan sih kamu jadi kek pinter ngegombal gini Boy?” timpal Nachya yang baru kali ini mendengar gombalan dari Boy.


Terkejut? Tentu saja Nachya terkejut karena biasanya Boy selalu bicara datar dan sangat dingin. Kini tiba-tiba malah berubah jadi banyak bicara, romantis, dan mulai menggombal di depannya.


“Ini aku serius tanya sama kamu, Nachya. Bukan gombal dong!” balas Boy yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Nachya.


Nachya kembali mengulum senyumannya dengan wajah tersipu. “Kamu mau tahu jawabannya?” tanya Nachya balik dan langsung diangguki oleh Boy.


“Karena kamunya makin cakep, Boy!” jawab Nachya yang seketika membuat wajah Boy langsung memerah.


Cepat-cepat Boy menutup wajahnya yang mulai memanas dengan tangan kirinya dan mulai mengalihkan pandangannya dari Nachya.


“Kamu malu ya Boy sama aku?” tanya Nachya sambil terus memandangi wajah Boy yang tersipu.


“Ck, enggak lah!” jawab Boy yang masih saja memalingkan wajahnya dari pandangan Nachya.


“Kamu kalo sudah selesai makannya, langsung tunggu lagi aja ke atas. Biar aku yang cuci piringnya!” ucap Boy disuapan terakhir Nachya.


“Emmh, gimana kalo kita cuci bareng-bareng saja?” tawar Nachya yang langsung ditolak oleh Boy dengan gelengan kepalanya.


“Kenapa?” tanya Nachya dengan nada yang tidak suka dengan penolakan Boy kali ini.

__ADS_1


“Aku takut khilaf, Nachya! Kamu masih inget kan apa pesan mama Ecca tadi?” jawab Boy balik bertanya.


“Loh, mama kan ngelarang kita cium-ciuman, Boy! Bukan ngelarang kita cuci piring bareng!” balas Nachya yang mengingat dengan jelas apa yang dilarang oleh mamanya tadi.


“Masalahnya, kalo aku deket sama kamu itu pinginnya cium kamu terus, Nachya!” jelas Boy.


Blush!


Kini wajah Nachya langsung merona mendengar jawaban Boy barusan yang menurutnya terlalu vulgar. Nachya pun langsung menyodorkan piring kotornya ke arah Boy dan berbalik meninggalkan meja makan.


“Yaudah, besok gantian aku ya yang cuci piring!” tukas Nachya yang dijawab Boy dengan deheman.


***


Nachya dan Boy kembali menunggu kedua orang tua mereka di tempat semula. Sayangnya sampai waktu kini menunjukkan pukul 9 malam, Papa Belva dan juga Mama Ecca tidak terlihat keluar dari kamar mereka.


Nachya berkali-kali menguap dan menutup mulutnya dengan tangan. Lama-kelamaan Nachya pun tertidur bersandar di sofa. Boy yang sudah tidak kuat menahan kantuknya pun ikut tertidur di samping Nachya.


Sedangkan di dalam kamar, Mama Ecca mulai mengerjapkan matanya karena cacing di dalam perutnya sudah berdemo minta makan. Betapa terkejutnya Mama Ecca saat melihat jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 10 malam.


“King Bee, bangun dong!” Mama Ecca menggoyan9kan lengan Papa Belva yang kini masih memeluknya dengan sangat erat.


“Laper, nih! Makan yuk!” ajak Mama Ecca dan Papa Belva pun mulai mengendurkan pelukannya.


 “Jam berapa sekarang?” tanya Papa Belva yang belum sepenuhnya sadar.


“Jam sepuluh tuh!” jawab Mama Ecca sambil menunjuk ke arah jam dinding yang ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


“Yaudah makan yuk, aku juga laper!” balas Papa Belva sambil meraih boxer dan juga kaosnya.


 


__ADS_2