
“Lou, katakan dengan jelas di mana Nachya saat ini!” desak Dean saat Louryn mengendarai mobilnya untuk membawa Dean menuju rumah sakit.
“Sudah aku katakan bukan jika aku tidak bersama dengan Nachya, melainkan Yonna. Jadi kesimpulannya rencana kita gagal, Dean sayang!” jawab Louryn.
“Lagi pula pikirkan saja keadaanmu saat ini! Kau sudah hampir mati tapi masih juga memikirkan Nachya!”
“Yang jelas jangan sampai kau membuat Nachya celaka sedikit pun!”
“Kenapa?”
“Apa karena kau lebih memilih Nachya dari pada aku?”
“Kenapa begitu cepat cintamu beralih untuk wanita lain Dean?!” cecar Louryn tidak suka Dean terus menerus memikirkan Nachya.
Dean hanya diam tidak menimpali ucapan Louryn sedikit pun. Kini dalam pikirannya mulai bertanya-tanya siapa pria yang tiba-tiba menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun. Bahkan pria tersebut langsung berlari ke dalam hutan saat Louryn menyebutkan nama Yonna.
Sedangkan Louryn sendiri mulai memperhitungkan berapa lama ia meninggalkan Nachya terikat di pohon. ‘Sudah satu jam lebih ia terikat kuat di tengah hutan. Salju juga sudah mulai berjatuhan dan aku pastikan tidak akan ada satu pun yang langsung memberikan pertolongan kepada Nachya.’
‘Aku yakin Nachya pasti tidak akan mungkin terselamatkan. Dia pasti akan mati membeku di tengah hutan dan akan membuat Epping Forest semakin horor karena menyimpan sejuta mistis di dalamnya!’
‘Hantu Nachya, hiduplah dengan baik di Epping Forest bersama dengan makhluk yang sejenis denganmu, ya! Terima kasih sudah tidak menjadi penghalang untukku lagi!’ gumam Louryn sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Lou!” panggil Dean.
“Kau mengenal pria yang memukuli aku tadi?”
Pertanyaan Dean kali ini membuat Louryn langsung menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak! Bukankah aku yang seharusnya tanya denganmu, siapa lelaki yang sudah menghajarmu habis-habisan?” balas Louryn yang justru balik bertanya.
“Kau tahu kan, pria tadi lari masuk ke dalam hutan saat kau menyebutkan nama Yonna. Aku rasa masalahnya ada pada dirimu, Lou! Namun justru aku yang terkena imbasnya.”
“Apa?!” Louryn langsung mengumpulkan puzzle memorinya yang sedikit tercecer.
“Apa mungkin pria yang menghabisimu tadi itu adalah kekasih Nachya?” lanjut Louryn lagi yang mulai keceplosan di hadapan Dean.
__ADS_1
Dean seketika membeliakkan matanya dengan geram, rasa sakit di sekujur tubuhnya kini seolah tidak lagi terasa saat mendengar ucapan Louryn barusan. Jika pria tadi berlari ke hutan saat Louryn menyebutkan nama Yonna, bermakna Nachya kini sedang dalam bahaya yang tentunya sudah direncanakan oleh Louryn.
“Kau benar-benar penipu ulung, Lou! Apa yang sudah kau lakukan terhadap Nachya ku?!” gertak Dean yang mulai naik pitam.
Kemarahan Dean membuat Louryn tersadar jika ia sudah membocorkan siapa Yonna yang sebenarnya. Ia mulai bingung bagaimana kini ia harus menjelaskan kepada Dean mengenai apa yang sudah ia lakukan terhadap Nachya.
“Jawab pertanyaanku, Lou!” gertak Dean lagi sambil menarik rambut Louryn.
Louryn pun meringis kesakitan dan mulai menepikan mobilnya. “Lepaskan Dean, aku mohon! Ini sakit sekali!” pinta Louryn kesakitan.
“Tidak akan aku lepaskan sampai kau benar-benar menjawab pertanyaanku!” balas Dean yang semakin kencang menarik rambut Louryn.
“Aku memang sengaja membuatnya mati membeku dengan kondisi terikat di pohon tengah hutan! Dengan begitu tidak ada lagi yang menjadi penghalang untukku memilikmu, Dean!” jawab Louryn.
Dengan kasar Dean langsung membuka pintu mobil dan mendorong Louryn ke luar dari mobil.
“Lebih baik kau yang mati dari pada Nachya!”
Dean langsung memegang kendali mobilnya dan memutar balik arah untuk menemukan di mana Nachya kini berada. Sayangnya baru saja ia berbalik, tampak mobil Boy kini melaju kencang melewatinya untuk segera membawa Nachya menuju ke rumah sakit.
“Lagi pula aku yakin Nachya tidak akan mungkin bisa diselamatkan sesampainya di rumah sakit nanti!”
Sedangkan di sisi lain, Papa Belva dan juga Mama Ecca kini sudah mulai bersiap untuk menuju ke bandara. Kini mereka berdua akan diantar oleh Akung Dion dan istrinya.
“Papa, tolong jangan bocorkan kepada siapa pun jika kami akan menuju ke London!” pinta Belva mengingatkan papanya untuk tidak mengabarkan kepada besannya terlebih dahulu.
“Oke, asalkan kau juga harus kembali menegaskan kepada Boy agar tidak menemui Nachya sama sekali!” balas Akung Dion.
“Tenang saja, Pa! Boy bisa dipegang janjinya!” balas Mama Ecca.
‘Hanya saja Ecca tidak bisa janji jika Nachya ternyata sudah mulai curiga dan mengorek keberadaan Boy!’ lanjutnya lagi dalam hati.
Ecca paham betul dengan putri kesayangannya yang sudah terlatih jujur sejak kecil, membuat Nachya sangat peka dengan kebohongan yang ada di depannya.
“Lebih baik memesan taksi untuk mengantarkan ke flat house milik Mario dari pada meminta Boy untuk menjemput kalian berdua!” lanjut Akung Dion lagi.
__ADS_1
“Siap, papa. Lagi pula Boy juga pasti sudah mulai sibuk di Perusahaan Mr Kevin!”
“Aku sangat bangga dengan perkembangan Boy yang semakin dewasa semakin menakjubkan!” balas Papa Belva.
“Papa juga bangga dengan pencapaian Boy saat ini! Namun, tetap saja papa tidak setuju jika ia harus menjalin hubungan dengan Nachya.”
“Karena bagi Papa, bibit calon suami Nachya nantinya juga harus jelas!”
“Iya pa!” balas Papa Belva dan Mama Ecca secara serempak.
“Ya buktinya kalian berdua! Dari bibit, bebet, dan juga bobot semuanya baik. Ecca akhirnya melahirkan Nachya yang tidak hanya cantik, perilakunya baik, santun, cerdas, dan sangat membuat kita semua bangga!”
Serentetan petuah dari Akung Dion terus saja mengalir sepanjang jalan menuju ke bandara. Sedangkan Papa Belva dan juga Mama Ecca terus saja menanggapi dua kata yang sama secara serempak.
“Iya Pa!”
“Duuh, kalian ini sudah tua, sama-sama pengacara, tapi di ajak ngomong jawabnya dari tadi cuma -iya, pa- -iya, pa- aja! Sebenernya kalian berdua paham gak sih?” tanya Akung Dion yang sudah mulai kesal dengan anak dan menantunya itu.
“Iya, Pa!” lagi-lagi jawaban yang sama keluar dari mulut papa Belva dan mama Ecca membuat istri akung Dion langsung tertawa.
“Sepertinya sebentar lagi mama akan dapat cucu kembar ini dari kalian!” tutur Uti Dea.
Mendengar ucapan Mamanya barusan membuat Papa Belva memandangi istrinya secara intens.
“Queen Ca, bukankah sudah lama kau tidak datang bulan?” tanya Papa Belva sambil mengusap perut istrinya.
Mama Ecca pun mengerutkan dahinya sambil mengingat ingat kapan ia terakhir datang bulan.
“Bee, aku sudah tidak datang bulan sejak 3 bulan yang lalu! Bahkan aku hampir tidak mengingatnya karena disibukkan dengan berbagai persiapan Nachya dan juga Boy!” balas Mama Ecca.
“Waaaaah, nanti kita cek di London yaaa sayang!” Papa Belva langsung memeluk istrinya dengan sangat erat.
“Jangan lupa langsung kabarin sama mama yaaa. Nanti mama akan langsung terbang ke London untuk merayakan kabar gembira ini!” balas Uti Dea dengan antusias.
“Terus papa gimanaa dooong?!” rengek akung Dion yang masih harus stay di firma selama Belva di London.
__ADS_1
“Papa kan bisa ikut syukurannya secara virtual nanti!” balas Belva sambil terkekeh pelan.