Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Pagi di Rumah Nachya


__ADS_3

Hari ini, Nachya sudah siap menemani Boy dengan kaos lengan panjang yang dipadukan dengan celana jeans panjang. Ia pun langsung keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga untuk sarapan bersama dengan papa mamanya.


“Duuh, princess mama udah cantik aja!” puji mama Ecca yang sedang menata meja makan. “Mau kemana sih sayang pagi-pagi gini?” tanya Mama Ecca.


“Kan mau nemenin Boy ke rumahnya Pak Adit, ma!” balas Nachya sambil menarik kursi makannya.


“Sepagi ini?” tanya Papa Belva lagi dan Nachya langsung menganggukkan kepalanya.


“Tapi papa lihat Boy tadi keluar jogging pagi-pagi dan sampe sekarang belum pulang!” lanjut papa Belva lagi.


“Loooh, gimana sih Boy ini?”


“Subuh tadi Boy ke kamar Nachya loh! Dia bilang jangan molor lagi dan suruh Nachya siap-siap!” balas Nachya.


Boy yang baru sampai di rumah pun langsung menimpali ucapan Nachya sambil menyeka keringatnya.


“Lah emang kalo habis subuh itu gak boleh molor!” timpal Boy. “Iya kan pa.. ma..?” tanya Boy meminta pembelaan.


“Nah, bener tuh kata Boy. Jadi kan pas jam sarapan kamu gak bau acem, Nach!” timpal papa sambil mengusap kepala Nachya.


Nachya pun memutar bola matanya malas. Kini ia menyendokkan nasi goreng seafood buatan mamanya ke atas piringnya sambil melirik ke arah Boy kesal.


‘Awas ya Boy. Aku akan bales nanti!’ gerutu Nachya dalam hati.


Mereka berempat pun kemudian menikmati sarapan sambil bercerita. Kali ini papa Belva menceritakan tentang keberhasilan Boy yang sudah 2 kali meleraikan permasalahan yang klien hadapi.  


“Boy keren loh Nach. Gimana? Kamu gak tertarik jadi pengacara nemenin Boy?” tawar Papa Belva yang masih menginkan putrinya juga terjun dalam bidang hukum.


Nachya cepat-cepat menggelengkan kepalanya, “No Papa!” jawab Nachya dengan mantap.


“Kan Nachya udah bilang kalo Nachya mau jadi arsitek muda ternama!” balas Nachya.


“Tapi gak mudah loh itu sayang. Emang kamu gak ribet kalo nanti dituntut harus punya ide konsep dan desain yang bagus?” tanya papa.


“Gak Cuma itu loh Nach, kamu juga nanti akan dituntut gambar dan bikin maket yang menarik. Dan itu syusyaaah!” timpal Boy mendukung papanya.


Nachya tidak bergeming dan tetap menikmati sarapannya. Melihat putrinya masih mode santai, Mama Ecca pun langsung ikut menimpali.


“Tapi mama dukung penuh lo cita-cita Nachya kali ini. Keren malah kalo princess mama jadi arsitek muda ternama!” timpal Mama Ecca membuat senyum Nachya langsung merekah sempurna.


“Aiiih, Mama memang yang terbaik!” tukas Nachya sambil memeluk mamanya.


Papa Belva langsung tersenyum melihat putrinya yang ternyata tidak goyah untuk tetap memilih menjadi arsitek dari pada pengacara sepertinya.


“Papa juga dukung deh cita-cita Nachya kali ini!” timpal Belva sambil merentangkan tangannya. “Pelukan buat papa mana dong?!”

__ADS_1


Nachya langsung menggelengkan kepalanya sambil tetap memeluk mamanya. “Gak ada! Nachya mau peluk mama aja!” timpal Nachya.


“Papa kan sayangnya cuma sama Boy! Bangganya juga sama Boy! Dikit-dikit Boy! Apa-apa Boy!” gerutu Nachya kesal.


Kecemburuan Nachya kali ini membuat Papa Belva menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak menyangka jika perhatiannya dengan Boy kali ini membuat Nachya merasa cemburu.


“Papa minta maaf deh kali ini. Papa juga bangga loh sama Nachya yang setiap tahun jadi juara kelas!”


Nachya melepaskan pelukannya dari Mama Ecca sambil kembali menikmati sarapannya tanpa menghiraukan permintaan maaf papanya.


“Papa padahal udah siapin peralatan gambar yang lengkap buat Nachya!” tukas Papa Belva sambil menunjuk ke ujung ruang tamu.


Tampak meja gambar baru beserta lampu dan semua peralatan gambar arsitek ada di sana. Mata Nachya langsung berbinar dan senyumnya pun merekah sempurna.


“Papa ngerjain Nachya yaa?” tanya Nachya sambil manyun.


“Bukan ngerjain sayang. Cuma ngetes kamu aja, sejauh mana kamu serius menjadi arsitek muda!” jawab Papa Belva yang langsung dipeluk oleh Nachya erat-erat.


“Thanks papa, I love you so much!” ucap Nachya bahagia.


Nachya langsung meninggalkan meja makan dan mendekati peralatan gambar terbarunya yang dibelikan oleh papa Belva. Nachya pun langsung berputar mengitari hadiah barunya itu sambil senyam senyum sendiri.


“Ini bagus banget pa! Pas banget sama yang Nachya mau!” ucap Nachya bahagia.


“Papa nih kalo mau kasih sesuatu ke Nachya selalu deh pake ngerjain Nachya dulu ampe kesel!”


Tiba-tiba dari depan rumah, terdengar suara Bunga yang memanggil nama Nachya. Nachya pun langsung berlari ke arah pantry dan mendekati Boy yang sedang mencuci piring.


“Boy, ondel-ondel dateng tuh. Gimana dong?!” tanya Nachya gusar.


“Kamu yang temuin dong. Kan yang dipanggil nama kamu!” balas Boy santai.


“Tapi kan dia temen kuliah kamu, Boy!”


“Nachya ada tantee?” tanya Bunga yang sudah berdiri di pintu rumah.


“Tuh, dicariin! Buruan gih ke sana!” titah Boy. “Habis ini aku mandi, terus kita pergi. Gimana?”


Dengan berat Nachya pun berbalik dan menemui Bunga.


*


*


*

__ADS_1


“Hai kak Bunga!” sapa Nachya.


“Hai Nach, kamu susah banget dihubungin!” sapa Bunga lagi membuat Nachya mengerutkan dahinya.


‘Ck, Boy nih gimana sih?! Kenapa gak kasih tau aku coba kalo ondel-ondel hubungin ponsel aku?” tanya Nachya dalam hati.


“Maaf banget kak! Ponsel aku dari kemarin disita ama Boy!” balas Nachya.


“Kok bisa! Berarti ponsel kamu dari kemarin dibawa dong sama Boy?” tanya Bunga dengan nada terkejut dan Nachya hanya menganggukkan kepalanya.


‘Kalo ponselnya Nachya dari kemarin dipegang sama Boy, berarti Boy udah tau dong kalo aku suka sama dia!’ gumam Bunga dalam hati mengingat pesan yang ia kirim ke nomor ponsel Nachya adalah semua isi hatinya yang sudah mencintai Boy sejak awal pertama bertemu.


“Emang Kak Bunga kirim pesan apa ke aku?” tanya Nachya.


“Kita ngobrol di luar yuk Nach!” ajak Bunga dan Nachya pun mau tidak mau mengikuti langkah Bunga yang berjalan menuju teras rumahnya.


“Aku cinta sama Boy sejak pertama kali ketemu. Jadi semua isi pesan aku itu ungkapan perasaan aku ke Boy!” jelas Bunga membuat Nachya sedikit terhenyak.


“Kalo ponsel kamu di tangan Boy, berarti dia udah baca semua chat dari aku dong?!”


Deg!


Nachya menghela nafasnya panjang, “Bisa jadi sih kak!” balas Nachya lirih.


“Aduuh, terus aku harus gimana dong, Nach?” tanya Bunga. “Apa aku tembak langsung aja ya?”


“Emm, boleh juga tuh Kak. Jadi kan kalo ditolak sama Boy, kakak bisa langsung move on!” timpal Nachya.


“Looh kok kamu bilangnya gitu sih Nach. Emang kamu gak setuju kalo aku jadian sama Boy?” tanya Bunga lagi.


“Bukan gitu kak Bunga! Emm, soalnya kan Boy belum dibolehin pacaran. Dia lagi mau fokus meniti karir dan masa depan! Gituh maksud aku!” balas Nachya.


“Oooh, gitu yaa!” balas Bunga yang mulai bimbang apa yang harus dia lakukan sekarang.


Sedangkan Boy yang diam diam mendengar pembicaraan mereka dari dalam pun langsung tersenyum.


“Jawaban briliant, Nachya!” gumam Boy pelan.


“Kalo menurut kamu, aku baiknya harus gimana Nach?” tanya Bunga meminta saran terhadap Nachya.


“Boy itu gak suka cewek yang terlalu menor. Jadi dia lebih suka cewek yang natural apa adanya!” jawab Nachya membuat Boy terkekeh pelan di belakang pintu.


“Kalo dandanan aku itu termasuk menor gak sih Nach?!” tanya Bunga sambil berkaca lewat layar ponselnya.


“Termasuk banget kak!” balas Nachya membuat Boy langsung berlari ke arah pantry dan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


 


 


__ADS_2