Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Melepas Diri


__ADS_3

Boy langsung mengubah setelan ponselnya saat mendapatkan pesan dari Nachya. Ia tidak ingin Papa dan kakaknya curiga jika ia berbalas pesan dengan Nachya.


✉️ Boy


Oke. Sebentar lagi kita pulang ya. 😘


Nachya mulai tenang saat mendapatkan pesan balasan dari Boy. Kini tinggal ia berpikir bagaimana caranya agar bisa pergi dari rumah sakit.


“Maaf, Miss Adel. Nachya masih harus mempersiapkan barang-barang Nachya untuk dibawa ke London. Jadi sepertinya Nachya tidak bisa di sini sampai sore!” ucap Nachya yang sudah sangat ingin pergi dari rumah sakit.


“Oh, iya! Bagaimana kalo kita berbincang sebentar saja di kantin sambil makan?” tawar Miss Adel. “Setelah itu, Nachya bisa pulang.”


Nachya pun mengangguk setuju. Akhirnya kini mereka berempat pun langsung menuju ke kantin untuk kembali membahas rencana Papa Hendy yang ingin melamar Nachya untuk Adit.


“Nachya, sebelumnya om benar-benar minta maaf dengan kamu. Om hanya ingin menyampaikan permintaan putra om.”


Papa Hendy kembali menceritakan bagaimana perasaan Adi yang teramat mencintai Nachya, bahkan ia sampai rela mati dari pada tidak bisa bersanding dengan Nachya.


Nachya yang sudah jengah sedari tadi pun kini mulai angkat bicara.


“Tapi om, Nachya juga bener-bener gak bisa untuk memaksakan diri Nachya mencintai Pak Adit!” balas Nachya.


“Nachya, om benar-benar mohon sama kamu. Apa kamu tega melihat putra om harus meninggal dunia karena tidak lagi memiliki semangat untuk hidup?” tanya Papa Hendy yang kini menjatuhkan harga dirinya di depan Nachya.


“Apa bedanya sama Om Hendy?” balas Nachya.


“Om juga tega kan sama Nachya. Gimana kalo nantinya Nachya juga meninggal dunia karena merasa tertekan sama permintaan Om Hendy?” tanya Nachya yang langsung membungkam mulut Papa Hendy dan Miss Adel sekaligus.


Berbeda dengan Boy yang langsung bersorak kegirangan dalam hatinya mendengar ucapan Nachya yang menurutnya sangat luar biasa.


“Nachya mohon maaf jika kali ini Nachya benar-benar tidak bisa membantu!” ucap Nachya mempertegas jawabannya.


“Pikirkan ulang jawabanmu, Nachya!” ucap Miss Adel. “Kali ini Miss Adel harus mengatakan semuanya apa yang membuat Bang Adit seperti ini!”


“Bang Adit merasa sangat bersalah karena sudah menidurimu malam itu. Ia benar-benar sangat takut kau semakin membencinya.”

__ADS_1


“Dan kini, ia ingin melamarmu setelah sembuh nanti untuk bertanggung jawab jika nantinya kau hamil!” jelas Miss Adel.


“Tapi Nachya gak pernah ditidurin sama Pak Adit!” bantah Nachya.


“Tidak perlu malu dengan kami, Nachya! Kami benar-benar akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah Adit lakukan padamu malam itu!” sambung Hendy Carlson.


“Om, yang ditidurin sama Pak Adit itu bukan Nachya, tapi Arini. Pak Adit menidurinya dalam keadaan mabuk dan mengira kalo Arini itu Nachya!”


“Nah, Arini sekarang hamil itu. Jadi Om Hendy sama Miss Adel bisa tanggung jawab sama Arini!” lanjut Nachya.


Penjelasan Nachya kali ini membuat Om Hendy dan Miss Adel benar-benar tercengang. Mereka sama sekali tidak menduga jika yang terjadi sebenarnya seperti ini.


“Apa kamu bisa mempertanggung jawabkan cerita kamu kali ini Nachya?” tanya Miss Adel yang belum sepenuhnya percaya dengan Nachya.


“Bisa dong, Miss! Soalnya tadi pagi ayah sama ibunya Arini datang ke rumah dan marah-marah sama Nachya! Katanya gara-gara Nachya, Arini dihamili sama Pak Adit. Padahal Nachya sama sekali gak pernah keluar rumah, apalagi malem!” jelas Nachya.


Penjelasan Nachya membuat Hendy Carlson merasa sangat malu. Ia pun langsung meminta maaf dengan Nachya atas semua ucapannya yang sempat memaksa Nachya sedari tadi.


“Maafkan om dan Miss Adel kali ini karena sudah memaksamu berkali-kali sejak tadi, Nachya!” ucap Hendy Carlson membuat Nachya kini bisa bernafas lega.


“Tidak masalah Om, semuanya hanya salah paham aja. Kalo begitu Nachya pamit pulang dulu ya, Om!” pamit Nachya sambil menyalami Hendy Carlson dan Miss Adel.


Sedangkan Nachya dan Boy langsung menuju ke tempat di mana Boy memarkirkan mobil papanya. Sepanjang perjalanan menuju ke tempat parkiran, Boy terus saja mengulum senyumnya sambil menggandeng tangan Nachya dengan sangat erat.


“Aku jadi makin cinta sama kamu, Nach!” ucap Boy yang tidak bisa lagi memendam rasa kagumnya dengan Nachya.


“Nachyaku benar-benar semakin mengagumkan!” puji Boy.


“Masa sih?” tanya Nachya dengan nada tidak percaya. “Kalo makin cinta, kenapa kamu betah banget 2 minggu gak nemuin aku?!”


“Aku kan udah bilang kalo aku beneran sibuk banget sayang!” jawab Boy sambil mengusap kepala Nachya.


“Tapi kan aku kangen, Boy!” rengek Nachya yang mulai menggelendot manja di lengan Boy.


“Aduh, ini ini yang aku gak bisa kalo terus terusan ada di dekat kamu, Nach!” gumam Boy pelan.

__ADS_1


Nachya sama sekali tidak mengendurkan pelukannya di lengan Boy. “Emangnya kenapa?” tanya Nachya tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.


“Aturan yang papa buat kan memang untuk dilanggar!” ucap Nachya sambil terkekeh pelan.


Boy hanya diam saja tidak membalas untuk memeluk Nachya. Dia sudah bertekad penuh untuk memenuhi janjinya dengan Papa Belva.


“Terus nanti papa dan mama tahu 9imana?” tanya Boy.


“Yaa gak masalah, kan kali ini yang melanggar aku, bukan kamu!” jawab Nachya dengan santainya.


Boy menghela nafasnya panjang menanggapi sikap Nachya yang selalu saja di luar dugaannya.


“Masalahnya bukan itu, Nachya sayang!” gumam Boy pelan.


“Aku akan terus terusan kalang kabut kalo kamunya kayak gini!”


Nachya pun mulai mengendurkan pelukannya dan menatap Boy secara intens.


“Memang kalang kabut gimaana sih Boy?” tanya Nachya yang tangannya mulai bergerak untuk mengusap dada kiri Boy.


“Ooooh, kamu jadi dag dig dug gini yaa kalo akunya manja-manjaan sama kamu?” tanya Nachya membuat Boy tidak tahu harus menjawab apa kali ini.


“Kenapa harus kalang kabut sih? Aku juga gituh kok, sama kayak kamu, Boy!”


“Kalo lagi di deket kamu itu rasanya dag dig dug der deh pokoknya.”


“Kalo kamu gak percaya, cobe deh kamu pegang dada aku!” ucap Nachya membuat Boy sangat tercengang.


“Nachyaaa!” panggil Boy geram dengan suaranya yang tertahan.


Kini nafas Boy yang mulai tidak beraturan seperti baru saja lari maraton sejauh 5 km.


“Ck, kamu ini kenapa sih Boy? 2 minggu gak ketemu aku jadi makin aneh!” gerutu Nachya.


Boy langsung mengusap wajahnya dan membuang nafasnya kasar.

__ADS_1


“Yang aneh itu bukan aku, Nachya. Tapi kamu!” jelas Boy yang benar-benar tidak paham dengan jalan pikiran Nachya kali ini.


Bisa-bisanya Nachya meminta Boy untuk memegang dadanya agar bisa merasakan debaran jantung Nachya yang katanya sama persis dengan debaran jantungnya.


__ADS_2