Hasrat Tetangga Kamar

Hasrat Tetangga Kamar
Terbongkar


__ADS_3


Setelah mengantar Papa dan juga Mamanya di rumah Akung Mario, Boy langsung menuju ke kampus karena ada beberapa hal yang harus Boy lengkapi. Papa Belva dan Mama Ecca pun segera mendorong barang-barang mereka menuju ke pintu masuk.


Kini kedatangan mereka berdua benar-benar membuat Akung Mario sangat terkejut sampai tidak bisa berkata apa-apa.


“Kalian!” suara Akung Mario langsung tercekat mendapati kedatangan anak dan juga menantunya itu.


“Suprise!” teriak Ecca yang langsung menyalami tangan papinya dan menyeruak masuk ke dalam.


Setelah itu Belva pun menyalami tangan mertuanya yang masih diam terpaku menyambut kedatangan mereka.


“Maaf, papi. Kami memang tidak memberi tahukan jika akan datang ke mari!” ucap Belva.


“Nachya belum pulang ya, Pi?” tanya Ecca kemudian yang sudah mendudukkan tubuhnya di sofa.


“Mami ke mana? Kok gak kelihatan sih?”


Pertanyaan Ecca tidak dijawab sama sekali dengan papinya karena ia sendiri bingung harus menjawab apa. Akhirnya Papi Mario mempersilakan mereka beristirahat di atas sebelum menceritakan jika Nachya kini sedang berada di rumah sakit.


Papa Belva dan Mama Ecca yang memang sudah sangat lelah pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Papa Belva langsung naik ke tingkat paling atas sedangkan Mama Ecca memilih kamar di tingkat nomor 2 yang biasa digunakan Nachya.


Betapa terkejutnya Mama Ecca saat melihat kamar tersebut kosong dan tidak ada satu pun barang milik putrinya.


“Loh, bukannya ini kamar Nachya?” gumam Mama Ecca yang kemudian menyusul suaminya menaiki anak tangga.


Ternyata kamar yang ada di atas juga kosong, sama dengan kamar yang ada di lantai nomor 2.


“Ada apa sayang?” tanya Belva menangkap wajah Ecca yang tampak heran.


“Jika kamar yang di bawah dan juga di sini semuanya kosong, lalu di mana kamar Nachya?” balas Ecca yang langsung menuruni anak tangga untuk menanyakan hal ini kepada papinya.


Keheranan istrinya barusan membuat Belva juga penasaran. Ia pun turut menuruni anak tangga dan memeriksa kamar Nachya yang memang kosong tanpa barang Nachya satu pun. Kini mereka bertiga kembali duduk bertiga di ruang tamu untuk mendengarkan penjelasan Akung Mario.


“Dua minggu yang lalu, Nachya minta untuk tinggal bersama dengan temannya di asrama. Kebetulan kemarin ada acara di Epping Forest dan Nachya mengalami sedikit kendala.”


“Untung saja ada yang menyelamatkannya dan segera membawa Nachya ke rumah sakit. Jika tidak...”

__ADS_1


“Jika tidak, apa Papi?” tanya Belva yang sudah mengepal geram mengetahui putri kesayangannya tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.


“Nyawanya bisa tidak tertolong!”


“Apaaaa?!” pekik Mama Ecca yang langsung terasa lemas seketika. “Kenapa Papi sembunyikan berita sebesar ini kepada kami?” tanya Ecca dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Kita harus segera ke rumah sakit sekarang juga!” titah Papa Belva yang langsung menghubungi tBoy untuk kembali menjemput mereka.


“Aku sudah menghubungi Dean untuk mengantar kalian menuju ke rumah sakit. Kebetulan Dean lah yang menyelamatkan Nachya saat insiden kemarin!” jelas Akung Mario.


Tak lama kemudian Dean pun datang dan siap untuk mengantar mereka. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit Dean terus saja menceritakan bagaimana ia menyelamatkan Nachya kemarin saat di hutan.


Mama Ecca pun sampai tidak tega mendengar apa yang sudah dialami oleh Nachya kemarin, begitu juga dengan Papa Belva. Selama ini tidak pernah sedikit pun Nachya mengalami hal separah ini saat bersama mereka.


“Aku akan melaporkan semua ini ke kepolisian setempat saat Nachya sembuh nanti!” tegas Papa Belva. “Siapa pun yang menyebabkan putriku seperti ini, harus mendapat balasan yang setimpal.”


“Benar, uncle. Dean juga akan membantu uncle untuk melaporkan ini ke kantor polisi!” timpal Dean yang sedari tadi memang tampak begitu berusaha mengambil hati orang tua Nachya.


“Mungkin kali ini saya tidak memerlukan bantuanmu, anak muda. Karena saya akan menelisik sendiri apa yang sebenarnya sudah terjadi!” balas Papa Belva yang sedikit kurang suka dengan cerita Dean.


“Jika memang ia berniat mau bantu untuk melapor ke pihak polisi, seharusnya sudah dari tadi Papi. Bukan sekarang saat King Bee mulai berinisiatif!” timpal Mama Ecca.


“Lagi pula kenapa Ecca sedikit janggal dengan cerita Dean barusan ya. Jika di lihat dari lebam di wajah dan tubuh Dean, pastinya ia sudah terkapar dan tidak bisa menyelamatkan Nachya!”


Deg!


Kecurigaan Mama Ecca dengan keadaan Dean kali ini membuat Dean menelan ludahnya kasar.


‘Sial, Mamanya Nachya ternyata sangat jeli menilai keadaan ini!’ rutuk Dean dalam hati.


Akung Mario pun ikut terdiam kali ini. Ia tidak mau semakin memperkeruh keadaan terlebih Belva dan Ecca  sedang dirundung rasa khawatir yang cukup tinggi.


Sesampainya di rumah sakit, Ecca langsung masuk ke dalam ruangan putrinya. Sedangkan Belva langsung menemui dokter yang sedari kemarin terus memantau keadaan Nachya. Kebetulan Dokter Erika juga baru saja memeriksa keadaan Nachya.


Dokter Erika pun langsung menceritakan bagaimana awal keadaan Nachya saat pertama kali tiba di rumah sakit sampai Nachya melewati masa kritisnya. Kini keadaan Nachya yang sudah lebih baik dari sebelumnya dan dipastikan besok Nachya sudah diperbolehkan untuk kembali pulang ke rumah.


Semua cerita dari Dokter Erika sangat berbeda dengan cerita yang ia dengan dari Dean saat di mobil tadi. Belva pun akhirnya menanyakan siapa yang sudah menolong Nachya kemarin.

__ADS_1


“Mohon maaf, Tuan. Mengenai hal ini saya sendiri sudah berjanji kepada orang yang menolong putri Anda untuk tidak membeberkan informasi ini!” jelas Dokter Erika.


Setelah dari ruangan Dokter Erika, Papa Belva pun segera ke ruangan Nachya. Jika pagi tadi Nachya masih berada di ruang ICU, kini ia sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa.


“Papi gak masuk ke dalam?” tanya Belva saat melihat Papinya masih duduk di luar bersama dengan Dean.


“Papi nanti akan menyusul!”


Belva pun akhirnya segera membuka pintu ruangan Nachya dan terlihat Nachya sedang sangat bahagia menerima suapan dari Mamanya.


“Papaaa!” panggil Nachya sambil melambaikan tangannya ke arah papanya.


Tidak ada guratan kesedihan di wajah putrinya sedikit pun di sana. Padahal Nachya hampir saja kehilangan nyawanya.


Nachya tidak lagi merengek seperti anak kecil saat ia sakit, namun yang Belva lihat kali ini putrinya yang semakin mandiri dan dewasa. Bukan lagi Nachya yang manja seperti yang sebelum-sebelumnya.


Dengan perasaan yang mengharu biru, Belva pun mendekati putrinya dan mengusap kepalanya dengan sendu.


“Papa sangat mengkhawatirkanmu, sayang. Kenapa tidak memberi tahu papa dan mama jika sudah 2 minggu ini kamu tinggal di asrama?” tanya papa Belva. “Jika ada apa-apa seperti ini kan tidak ada yang bisa bertanggung jawab!”


“Tapi Nachya tidak suka tinggal dengan Akung Mario, Pa. Akung itu jahat, Papa!”


“Dia mau jodohin Nachya sama anak sahabatnya yang namanya Dean. Padahal kan Nachya ke sini mau kuliah bukan mau dijodoh-jodohin begitu!”


Papa Belva sangat terkejut dengan jawaban Nachya barusan, begitu juga dengan Mama Ecca.


“Jadi karena ini kamu memutuskan untuk tinggal di asrama?” tanya Mama Ecca.


Nachya pun menganggukkan kepalanya.


“Bukan Cuma itu, Mama. Karena Nachya gak nurut sama Akung, Akung tampar Nachya sangat keras dan bilang kalo Nachya lebih buruk dari Budhe Nuna!”


“Jadi buat apa lagi ada di rumah Akung Mario, bukannya Budhe Nuna juga diusir kan dulu. Jadi sebelum Nachya diusir, mendingan Nachya angkat kaki lebih dulu.”


Kali ini Mama Ecca dan Papa Belva langsung mengarahkan pandangannya ke Uti Aleya untuk mencari kebenaran dari cerita putrinya. Uti Aleya pun tidak bisa mengatakan apa pun selain kata maaf dan membenarkan cerita Nachya.


Papa Belva langsung mengepalkan tangannya geram dan bersiap untuk membuat perhitungan papi mertuanya. Begitu juga dengan Mama Ecca yang tentunya sangat tidak terima Nachya dikatakan lebih buruk dari Nuna. Mereka berdua pun bergegas keluar dari ruang inap Nachya dan menemui Akung Mario,

__ADS_1


__ADS_2