HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
#HSBM season 2 Mengikuti Alur


__ADS_3

Sikap Robet terhadap Yunita benar benar berubah drastis. Bahkan tidur pun Robet tak ingin seranjang dengan istrinya. Jangankan seranjang bahkan Robet tak mengijinkan Yunita memakai bantal dan selimut yang ada dikamar itu. Terpaksa Yunita memakai handuk kering untuk menyelimuti tubuhnya dan memakai lenganya sebagai bantal.


Yunita sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, bahkan dia biasa tidur di emperan ketika sedang bertugas. Kalau cuma beginian ma ga ada apa apanya.


Robet tak perduli lagi, menurutnya Yunita pantas diperlakukan seperti itu karena telah menipu dan menginjak harga dirinya.


Keesokan harinya...


Yunita sudah siap dengan baju formalnya. Semalam Robet sudah memberikan baju itu bersama dengan surat perjanjian hutang piutang.


Yunita memasukan semua peralatan pribadinya, tak lupa dia juga memasang kamera super canggih di pin yang ada didadanya. Kamera pemberian Deren padanya ini sangat membantunya untuk melihat pergerakan musuh yang mungkin luput dari mata telanjangnya.


Yunita selalu menerapkan ilmu waspada dimanapun dia berada, bahkan dalam keadaan tidur sekalipun.


Yunita juga sudah merapikan sudah menyiapkan semua barang barang bosnya. Bekerja seperti biasa, seperti sebelum mereka menikah.


Yunita adalah wanita yang luar biasa, dia bisa bersikap seperti yang dia inginkan. Deren sungguh hebat mengajarinya. Menjadi manusia bunglon senatural mungkin. Hingga mampu menipu setiap orang yang ada di sekitarnya tanpa merasa curiga.


Yunita juga sudah mengupgrade hatinya agar tak terpancing oleh sesuatu bernama cinta. Otaknya sudah di riset untuk tetap fokus pada tujuan utamanya yaitu membayar hutang pada pria yang meragukan identitsanya.


Yunita sudah berada disamping mobil yang akan membawa mereka kebandara. Dengan sigap dia membukakan pintu untuk bos nya. Ya bekerja seperti biasa, kenapa tidak. Toh pada kenyataanya status asli mereka tak mengubah apapun


Yunita membuka tab yang ada di tas kerjanya, dan melaporkan jadwal bosnya dihitung mulai hari ini.


"Pak, begitu pesawat mendarat kita diharapkan langsung ke kantor untuk menghadiri di rapat pemilihan direktur baru," ucap Yunita.


"Heemm," jawab Robet yang duduk tenang di kursi belakang.


"Apakah Silvi sudah kasih semua daftar kandidatnya?" tanya Robet.


"Sudah Pak," jawab Yunita tegas.

__ADS_1


"Bapak mau ganti baju di bandara atau di kantor, soalnya kalau pulang dulu waktunya ga cukup?" tanya Yunita.


"Bandara," jawab Robet. Tanpa bertanya lagi Yunita pun menghubungi pekerja yang ada di rumah Robet untuk membawkana baju big bosnya ketika menjemput mereka dibandara.


Dipesawat......


Yunita duduk di samping suaminya. Duduk manis diam tanpa kata. Yunita hanya berbicara sesuai pekerjaanya. Di luar itu dia memilih diam.


Robet melirik sekilas wanita yang pernah membuatnya tak bisa tidur ini. Ainur Rohmah nama aslinya, Robet tak tau pasti sejarahnya bagaimana wanita yang tampak lugu ini mengganti namanya. Dan alasan yang dia dapat juga sedikit janggal, walaupun itulah kenyataanya.


Robet memejamkan matanya saat pesawat sudah mulai mengudara. Yunita sama sekali tak ingin melihat pria yang pernah memberinya kebahagiaan ini, walau kebahagiaan itu dinilai sangat semu baginya.


Yunita mengingat lagi nominal hutang pada Robet, hutang bernilai hampir seratus juta itu sungguh membuatnya ingin meneteskan air mata.


Oh my god jangan tambah lagi hutangku Tuhan, jangan kau cabut nyawaku sebelum aku bisa melunasi hutang duniaku Tuhan, berilah hamba kesehatan jiwa raga, kelancaran dan keberkahan hingga bisa melunasi hutang itu dengan baik. Untuk saat ini hanya itulah yang membuat Yunita resah. Hutang, hutang dan hutang.


Yunita membuang pandangannya keluar jendela, angannya jauh menerawang keluar. Seketika Yunita ingat salah satu sahabatnya yang kini jadi bos toko baju di Tanah Abang.


"Heeemmm, emang Allah maha baik. Terima kasih Tuhanku engkau selalu memberikan ide yang sangat cemerlang disaat otakku buntu," gumam Yunita lagi, dia tersenyum senyum sendiri membuat Robet heran.


"Ngapain kamu senyum senyum sendiri gitu, kamu sudah gila ya," ucap Robet. Aduh dasar oknum orang kaya, lihat orang miskin senang aja masalah.


"Enggak Pak, ga ada apa apa," jawab Yunita mengelak. Robet membetulkan posisi duduknya dan meminta minum pada Yunita.


Yunita pun membukakan botol minum untuk big bosnya.


"Kamu ga minum?" tanya Robet.


"Enggak Pak terima kasih," jawab Yunita.


Robet memberikan botol minumnya pada Yunita, Yunita pun menerima botol itu dan terus menggenggamnya.

__ADS_1


Robet melirik wajah teduh istrinya, dilihatnya leher jenjang Yunita yang menggoda. Tak dipungkiri bahwa wanita di sampingnya ini masih menjadi kandidat terbaik dihatinya.


Iissshh...apa sih yang ku pikirkan, gumam Robet dalam hati.


"Hey kamu, lepaskan ikatan rambutmu!" pinta Robet tiba tiba. Yunita langsung membetulkan posisi duduknya dan menatap heran kearah bosnya.


"Tapi kenapa Pak, biasanya kalau saya kerja juga seperti ini," jawab Yunita, iya dong dia harus tau alasan yang pas dulu. Kan aneh aja kalau sang bos harus mengatur penampilanya juga.


"Siapa bosnya di sini?" tanya Robet, Ya Tuhan aroganya. Kalau ga ingat aku punya hutang sama kamu pasti udah ku tembak mati saja dirimu, batin Yunita.


"Iya...iya..baiklah. Anda bosnya di sini," gerutu Yunita. Dia pun langsung melepaskan ikatan rambutnya.


"Berikan padaku ikat rambutmu!" pinta Robet. Ini ni permintaan yang sungguh tak masuk akal. Yunita malas berdebat dia pun memberikan ikatan rambutnya pada Robet.


Robet langsung mengambil ikatan rambut itu dan memasukanya kedalam saku celananya. Aneh sekali pria ini, sebetulnya apa sih yang ada di otaknya. Apakah dia mesum ketika melihat leherku. Oh my god jangan sampai, jangan sampai. Tuhan lindungilah hambamu ini dari para predator. Hamba ga mau sama dia Tuhan. Dia pria bodoh, gerutu Yunita dalam hati, Yunia mengidik ngeri jika apa yang dipikirkanya benar adanya.


"Ngapain kamu merem merem begitu?" tanya Robet.


"Tidak Pak, saya tidak kenapa napa," jawab Yunita sambil membuang pandanganya. Yunita merapikan rambutnya agar menutup buah dadanya. Dia ga mau memancing pria mesum disebelahnya ini.


Robet memperhatikan apa yang dilakukan istrinya dan berkata, "Kamu ga usah bertingkah seperti itu, kamu pikir aku akan tergoda sama wanita murahan seperti kamu," celetuk Robet.


"Oh tidak Pak, mana mungkin saya berani berfikir sejauh itu." jawab Yunita berusaha menutupi sakit di hatinya.


Robet diam, Yunita pun sama. Mereka sama sama diam dan berbicara pada hati masing masing. Suasana kerjanya mungkin tidak akan terasa nyaman dan akan menjadi rikuh seperti ini. Meski Yunita terus berusaha melawan sakit dihatinya nyatanya inilah penyiksaan yang harus dia hadapi.


Yunita kamu pasti kuat. Wujudkan rencanamu untuk menjadi pedagang online. Kamu harus berjuang dan sukses. Agar hutangmu pada pria bodoh ini segera lunas, dan kamu bisa kembali kejalan yang kamu inginkan.


"Fighting Yunita kamu pasti bisa," gumam Yunita menyemangati dirinya sendiri.


CA:" Gengs...kalau kalian ada akun FB atau mensos lainya boleh banget loh, kalian share ke temen temen kalian yang hobi baca. Like dan komen kalian sangat berarti buatku. Salam sehat."

__ADS_1


__ADS_2