
Robet termenung di ruang kerjanya, apa yang barusan masuk kedalam perutnya adalah hasil karya wanita yang dicintai hatinya, tetapi ditolak oleh otaknya. Pria ini sungguh aneh bukan.
Robet mengingat kembali betapa menggemaskanya Yunita saat mencuci mobil tadi.
" Dia memang cantik bahkan sangat cantik," ucap Robet, senyuman kegaguman Robet pada istrinya mengembang begitu saja.
"Apakah aku terlalu kejam padanya," ucap Robet lagi.
Ingatan kembali akan kata kata buruk yang pernah dia ucapkan pada istri cantiknya itu. Seketika Robet mengingat Deren, haruskah dia bertanya tentang masa lalu Yunita Tapi bukankah dia sudah mengakui bahwa semua yang dia dengar adalah benar. Hati Robet kembali bimbang.
***
Di sisi lain...
Yunita sudah selesai mandi dan memakai pakaian rumahnya. Bersiap melangkah kerumah belakang untuk menyantap makanan yang sudah siap dia masak tadi. Saat nya makan batinnya. Yunita pun mulai melangkahkan kakinya menelusuri bagian belakang rumah itu. Sudah ada peraturan khusus untuknya jika sang majikan ada di rumah dilarang keras baginya untuk menginjakkan kakinya di rumah utama. Dan itu sudah menjadi alarm tersendiri bagi Yunita.
"Tinah...!" panggil Yunita.
"Saya Mbak," jawab Tinah yang saat itu sedang sibuk membersihkan sayuran yang barusan Yuli beli.
"Yuli udah dateng?" tanya Yunita.
"Udah Mbak, lagi di kamar ganti baju," jawab Tinah.
"Oooo...mari makan udah laper ni, nanti aku bantuin bersihin sayuranya," ajak Yunita.
"Tapi Mbak, masakanya udah habis," jawab Tinah.
"Loh...kok bisa?" tanya Yunita lagi.
__ADS_1
"Wahhh...kamu ma curang Tinah, aku yang masak kamu yang ngabisin, berdua ya ama Yuli hah. Kamu tega sekali Tinah aku laper!" rengek Yunita sambil melangkah lemas di meja makan ruangan itu. Tinah malah tertawa mendengar ucapan menggemaskan rekan kerjanya.
"Eeee...jangan asal tuduh Mbak e, yang ngabisin masakan Mbak e ma aden bos," jawab Tinah.
"Hah....!" pekik Yunita.
"Eh, kaget aku," balas Tinah sambil mendekap dadanya dengan satu tangan.
"Ga mungkin Tinah kamu pasti bohong, ayo ngaku," desak Yunita sambil menunjuk ke arah Tina. Jelas lah dia tak percaya mengingat sikap Robet yang dingin padanya.
"Seriusan Mbak demi Tuhan, kata aden masakan mbak paling uwenak, bahkan beliau memberikan empat jempol loh," ucap Tinah cekikikan. Muka Yunita memerah, ini sungguh sulit dipercaya.
"La terus kita mesti makan apa Tinah, aku udah laper banget," ucap Yunita lemas.
"Sabar Ya, Tinah bikinin mie instant mau?" tawar Tinah.
"Ahhh...dia kejam sekali sih Tinah, dasar majikan tidak punya hati, ga tau apa kita juga manusia butuh makan. Aku sudah lemas habis nyuci dua mobil Tinah. Habis ini masih harus nguras kolam renang!" ucap Yunita sambil menjatuhkan kepalanya di meja makan. Yunita tak menyadari kalau Robet ada dibelakangnya.
"Bilang apa kamu barusan?" tanya Robet tiba tiba. Yunita pun langsung mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang.
"Eh...Bapak...hehehe...saya ga ngomong apa apa Pak," jawab Yunita sambil cengengesan.
"Ga iklas kamu masakanmu aku makan?" tanya Robet dengan tatapan tajam.
"Iklas Pak iklas, lagian itu kan juga punya Bapak. Belinya juga boleh pakek duit Bapak," jawab Yunita manja agar Robet tak marah padanya.
Robet emosi, saat dia hendak berucap datanglah satu asisten rumah tangganya lagi dengan girang dan penuh kebahagiaan.
"Mbak Nita taraaaaa kamu dapet kado dari fans mu...!" ucap Yuli kegirangan sambil menunjukan paperbag yang ada ditangannya, dia tak menyadari jika ada majikanya disana.
__ADS_1
Robet menatap Yuli dengan tatapan tajam. "Eh....Aden maaf Den, saya ga tahu kalau ada Aden di sini , maaf ya Den!" ucap Yuli sedikit tak nyaman. Yuli pun langsung berdiri di dekat Tinah. Yunita masih diam mematung didepan Robet.
"Apa itu Yul?" tanya Robet.
"Oh ini Den, hadiah buat Mbak Nita!" jawab jujur.
"Dari siapa?" tanyanya lagi, kali ini lebih terdengar ketus.
"Dari fansnya Mbak Nita Den," jawab Yuli lagi, kali ini Yuli sudah mulai takut.
"Fans fans, emang dia artis!" umpat Robet kesal.
"Ya kan biar pun ga artis tapi kan Mbak Nita cantik Den, ga kayak kita kita ya wajar lah kalau Mbak Nita banyak yang naksir. Mbak Nita kan idola mas mas dimari Den ," jawab Yuli sejujur jujurnya.
"Hussst...kamu ini!" bentak Tinah pelan sambil mencubit rekanya.
"Emang iya lo Mbak Tin, Yuli ga bohong. Maka tiap mereka ketemu Yuli selalu titip salam buat Mbak Nita," Yuli kembali menyuarakan relalita yang dialaminya.
Robet kembali menatap tajam kepada tiga wanita yang ada di depanya. Terlebih pada Yunita. Yunita hanya menunduk diam, dia tak mau membangunkan singa di depan ini. Mau bagaimanapun Robet masih suaminya baik secara hukum atau negara.
"Saya tidak perduli dengan urusan pribadi kalian, tetapi saya harap jika kalian masih mau bekerja di sini jangan macam macam. Fokuslah dalam bekerja ga usah keganjenan. Kalian mengerti!" ucap Robet kemudian dia pun melangkah meninggalkan dapur ini.
Robet terlihat sangat marah tadi, membuat tiga wanita ini menjadi heran.
***
Robet membanting pintu kamarnya, dia marah dia kesal. Bagaimana bisa pria pria bodoh itu berfikir bisa meniliki wanitanya. Emosi Robet menjadi jadi hingga menimbulkan niat buruk untuk membuat jera istrinya.
Bersambung....
__ADS_1
CA:" Mbak Nita cantiknya aja kayak gini gengs, gimana akang Obet ga gelisah coba. Plis plis jangan jadi silent readers ya geng...mohon partisipasinya ya...like like n komennya,"