HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Kesepakatan Yudha dan Arumi


__ADS_3

Perasaan Kacau menyelimuti emosi Arumi saat ini. Semua terasa ambyar (hancur) baginya. Bagaimana tidak hidup bahagia yang dia idam idamkan semuanya kembali seperti semula.


Hari hari yang dia lalui beberapa bulan belakangan ini serasa mimpi baginya. Kenyataan yang dia lihat menambah luka dibatinya. Arumi duduk termenung di ranjang empuknya. Ranjang yang jadi saksi bisu pembuktian cinta mereka seakan membuat luka baru baginya.


Arumi marah, dia pun mengambil bantal yang Yudha sering pakai. Diambilnya gunting yang ada di meja riasnya. Dengan emosi yang menggebu dia pun menggunting bantal itu. Hingga isi bantal itu berantakan seperti kondisi hatinya saat ini.


Arumi bingung, Arumi kalut dia tak tau harus bagaimana. Semua terasa menyakitkan sekarang. Lebih sakit dari pertama Yudha meminta untuk menikah lagi.


Lama Arumi termenung. Otaknya terasa penuh dengan makian untuk Yudha dan madunya. Tuduhan penghianat dan ******** rasanya kurang memuaskan untuknya.


Arumi pun mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. Beberapa kali dia mencoba menghubungi Yudha sayangnya ponsel Yudha diluar jangkauan.


Makin bertambah lagi kecurigaan dalam hatinya. Bukankah Desi bilang saat ini suaminya sedang bersamanya. Mungkin kah apa yang Desi katakan benar makanya dia mematikan ponselnya.


"Ini gila!!!" teriak Arumi sambil menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya disana.


Sepuluh jam kemudian...


Arumi masih belum mau keluar kamar. Dia memilih diam dan menjauh dari anak anaknya. Dia takut akan menyakiti mereka. Tak ada seorang pun yang bisa dia percaya sekarang, bahkan dirinya sendiri pun tak mampu menguasai emosinya.


Ponsel Arumi berdering, dia pun membaca siapa yang menghubunginya.


Arumi mengelap air matanya, Arumi tersenyun kecut. Seseorang yang menghubunginya adalah orang yang dia tunggu sedari tadi.


"Hallo," sapa Arumi.


"Hay sayang, maafin Abi ya ditempat Abi sekarang lagi ga ada signal sayang. Ini Abi nebeng wifi di kelurahan," ucap Yudha. Tentu saja Arumi tak percaya begitu saja.


"Oh ya," ucap Arumi masih berusaha menahan emosi.


"Kamu kenapa sayang kok suaranya serak gitu?" tanya Yudha.

__ADS_1


"Rum ga kenapa napa, enak ya jadi mas bisa coblos sana coblos sini. Puas sama Rum habis itu pulang ke Samarinda main pula ama cewek lain," ucap Arumi langsung to the poin. Tentu saja ucapan Arumi membuat Yudha bingung.


"Apa maksud Bunda?" tanya Yudha.


"Mas ga usah pura pura lagi Mas, Rum tau sekarang mas lagi sama siapa dan lagi dimana, Mas ga usah boong lagi sama Rum," ucap Arumi.


"Bunda... serius Abi ga tau maksud Bunda. Abi kan kemarin bilang diundang nikahan nya kawan Abi yang ada didaerah. Ini seriusan Bunda Abi ga lagi sama siapa siapa. Andai signal bagus Abi pasti Video call," jawab Yudha.


"Mas ga usah alasan mas, Rum muak dengan semua ini!!" kembali Arumi berteriak marah.


"Abi ga alasan, sumpah demi Tuhan Bunda. Masak suaminya ga ngapa ngapain dicurigain sih," ucap Yudha.


"Oh ya ga ngapa ngapain. Lalu kenapa ponselnya mati dari tadi?" tanya Arumi dengan emosi datarnya.


"Sayang kan Abi udah bilang kalau Abi lagi didaerah lagi ga ada signal honey," jawab Yudha masih lemah lembut.


"Cukup Mas, Rum muak dengan sandiwara ini. Pokoknya Rum minta cerai!!!!," teriak Arumi sambil menangis histeris, Tentu saja Yudha kembali bingung ada apa ini.


"Ga salah kamu bilang hah, dasar laki laki penghian*t, bajing*n, penipu. Aku muak padamu Mas aku muak,!!" ucap Arumi kembali terteriak Kesal. Tangisanya semakin terdengar kencang dan menyayat hati Yudha.


"Jelaskan satu kesalahanku hingga kamu tega berkata seperti itu istriku," ucap Yudha, tak terasa air mata Yudha meluncur begitu saja. Rasanya sakit sekali, Kata kata Arumi kembali menusuk jantungnya.


"Anak siapa yang kamu sembuyikan di apartemenmu Mas?" tanya Arumi pelan.


Yudha diam sesaat, menghela nafas dalam dalam kemudian dia pun menjawabnya, "Itu anak Desi," jawab Yudha.


Arumi tertawa terbahak bahak. Tawanya sangat menyakiti perasaan Yudha. "Aku bilang juga apa kamu itu penghianat, ********, penipu penjahat kelamin dan maniak sex, dasar pria ga punya otak," ucap Arumi kesal.


"Apakah kamu sadar dengan ucapanmu Rum?" tanya Yudha pelan.


"Heh, umpatanku tak sepadan dengan rasa sakit yang kamu berikan mas," jawab Yudha.

__ADS_1


"Apakah tidak bisa sekali saja kamu percaya padaku Rum?" tanya Yudha.


"Pria sepertimu tak pantas dipercaya Mas," jawab Arumi.


"Yang kamu lihat diapartemen memang anak Desi tapi...!" belum selesai Yudha menjawab Arumi sudah menyela.


"Tapi apa Mas, mau berapa kali kamu menipuku. Tipuanmu tak mempan untukku sekarang hah, aku jijik denganmu mas, Aku jijik!!" kembali Arumi menangis dan menjerit. Yudha pun sama dia ga tau lagi bagaimana caranya menjelaskan ini pada Arumi. Hatinya juga teriris perih atas kata kata Arumi yang barusan didengarnya.


"Desi menitipkan anak itu padaku karena dia sekarang berada dipenjara Rum, bahkan sekarang ibu anak itu sedang...!" ucapan Yudha kembali dipotong oleh Arumi.


"Sedang apa mas, sedang bersenang senang denganmu iya. Sedang bercinta dengan mas gitu. Mas mau ngomong itu kan," ucap Arumi lagi. Yudha menghela nafas dalam dalam dan membalas apa yang istrinya ucapkan.


"Mas ga boong Rum, kamu tanya aja pengasuhnya kalau ga percaya. Dia tau semua Rum. Kenapa menuduh sesuatu yang belum jelas kebenaranya Rum, kamu keterlaluan Rum," ucap Yudha mengingatkan.


"Rum keterlaluan Mas bilang, hah. Udah lah mas Rum bilang juga apa. Tak ada yang bisa diperbaiki antara kita. Rum sudah ga ingin lagi mengenalmu Mas. Kita ahiri semua sampai disini dan setelah itu terserah Mas mau main cewek sampai mati juga bodo amat," ucap Arumi. Perkataan Arumi sungguh keterlaluan kali ini. Yudha kembali meneteskan air matanya rasanya mustahil dia bisa mendengar kata kata menyakitkan dari istri tercintanya.


"Kamu yakin Rum dengan keputusanmu?" tanya Yudha.


"Yakin, kenapa enggak." jawab Arumi.


"Oke, mari kita buat kesepakatan," ajak Yudha.


"Kesepakatan apa, tak ada lagi yang bisa kita sepakati mas," ucap Arumi kesal.


"Jika aku bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah, aku minta hak asuh anak anak. Tapi jika kamu benar kamu berhak atas semua harta dan juga hak atas anak anak. Bagaimana?" ucap Yudha. Yudha menguatkan hatinya sendiri saat ini. Hatinya pun hancur dia merasa pengorbanan dan usahanya untuk berubah sia sia.


"Oke, deal. Jika aku benar maka ceraikan aku," balas Arumi.


"Oke," balas Yudha. Kemudian dengan berat hati Yudha pun memutus panggilan telponnya. Perasaanya Yudha tak berbentuk lagi.


Yudha menyandarkan tubuhnya di pilar Kelurahan dimana dia berada saat ini. Tubuhnya melemas begitu saja. Yudha menangis dalam diam nya dia tak tau harus berkata apa. Matanya menatap nanar pada langit langit ruang yang menaunginya. "Tuhan kuatkan Aku," ucap Yudha.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2