HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Kepolosan Arumi


__ADS_3

Keesokan harinya..


Deka dan Arti yang mendengar kabar duka dari adek adeknya pun langsung berangkat ke Samarinda. Mereka langsung menuju ke pemakaman di mana kakak kandung Deren dikebumikan.


Sayangnya Deka dan Arti datang terlambat pemakaman sudah selesai dilakukan. Di sana sudah ada Yudha dan Arumi, Robet juga hadir, Juan dan istri pun ada.


"Bro," ucap Deka sambil mendekati Deren. Dengan sabarnya Deka mengelus pria yang sudah dianggap adeknya ini.


"Eh bang, kapan sampai?" tanya Deren lemas.


"Dari bandara abang langsung kesini, yang sabar ya iklaskan," ucap Deka.


"Iya bang," jawab Deren. Deka pun beranjak dan keliling untuk menyapa adek adeknya. Deka menjabat tangan Yudha yang kala itu sedang duduk di kursi roda.


"Gimana kakinya?" tanya Deka.


"Udah lumayan bang, Alhamdulilah kalau dirumah udah ga pakek kursi ini lagi," jawab Yudha, dibelakang Yudha ada Arumi yang selalu setia mendampingi suaminya.


"Ditya kok ga di bawa balik pi !" tanya Arumi.


"Dibawa balik piye to, kan hari itu kamu udah tanda tangan surat penyerahan hak asuh Ditya pada kami," jawab Deka dengan muka serius.


Arumi melotot pada Deka, tentu saja dia terkejut.

__ADS_1


"Kapan pi, enggak Rum ga pernah ngrasa tanda tangan," ucap Arumi takut. Arumi merasa candaan Deka serius. Bagaimana tidak dia sudah terbiasa membaca surat tentang hak asuh anak ketika masih di panti dulu.


Yudha hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ahhh...susah memang kalau bercanda sama ratu drama. Bawaanya serius aja.


"Bun, kamu kok ga bilang kasih Ditya ke mbak Arti dan Abang. Kamu ini gimana sih Bun, yang bener aja kamu Bun," Yudha malah merasa tertantang untuk menggoda istri cantiknya.


"Enggak Bi, Bunda ga pernah merasa tanda tangan apapun!" ucap Arumi takut.


"Sudah sudah, kalian apaan sih ribut ribut di tempat duka seperti ini. Nanti aja dirumah, Mom nanti kasih tu surat yang Rum tanda tangani. Jangan sampai dia merebut kembali apa yang sudah dia berikan pada kita," ucap Deka. Arumi hanya melongo tak percaya. Rasa takut mulai menyelimuti dirinya.


"Baik pi nanti Mommy siapkan," jawa Arti. Arumi merasa takut, gemetar tak menentu. Semua orang yang ada disana menatapnya, seolah mereka sedang mengintimidasinya. Astaga Arti, Yudha, Deka kalian ma bener bener ya.


Di dalam mobil kembali Deka dan Yudha mempermainkan kepolosan Arumi.


"Bi, Bunda ga pernah kasih Ditya ke Papi Bi, demi tuhan," ucap Arumi sambil menggoyang goyang tangan Yudha. Yudha yang diam saja membuat Arumi semakin takut.


"Enggak Mbak, Rum ga pernah nawarin anak anak Rum ke kalian," ucap Arumi berusaha mengatakan kebenaranya.


"Kamu lupa Rum, ingat ga waktu kita ngajakin kamu pindah dari Samarinda ke Bogor. Kamu menandatangani sesuatu iya kan?" tanya Deka mengingatkan.


"Iya Rum ingat, tapi kata Papi kan itu surat kuat kuasa buat jual tambaknya ibuk kan, bukan surat hak asuh Ditya," jawab Arumi bingung. Yudha masih diam, sepertinya dia marah menurut Arumi.


"Bi, ini ga bener Bi, demi tuhan Bunda ga kasih anak kita ke mereka," ucap Arumi kembali memohon pada suaminya.

__ADS_1


"Kamu tu kalau benci sama aku ya benci aja Rum, ga usah anaku kamu kasih kasih ke orang. Kamu pikir aku susah payah cari uang buat siapa. Buat anak anak Rum, buat kamu buat kalian. Kamu keterlaluan Rum," ucap Yudha lagi. Arumi menatap bergantian kearah mereka. Tak ada satupun yang tertawa, Ya Tuhan bagaimanan ini, bagaimana kalau yang aku tanda tangani waktu itu adalah surat hak asuh Ditya, matilah aku batin Arumi.


"Mom, kamu hubungi pengacara Papi sekarang. Jangan sampai wanita ini melaporkan kita pada pihak yang berwajib. Orang dia dengan sadar menyerahkan putranya kok, masih ga mau ngaku," tambah Deka. Duh semakin bingung Arumi dibuatnya, Yudha kembali melirik marah pada Arumi.


"Baik Pi," jawab Arti, Arti pun segera mengutak atik ponselnya seolah dia sedang mengirim pesan teks pada kuasa hukum mereka.


"Sudah Pi, katanya oke kita ga perlu khawatir. Soalnya udah sah dimata hukum dan negara kalau Ditya adalah milik kita," ucap Arti sambil membaca pesan teks yang ada diponselnya.


"Bi...bagaimana ini, tolongin Rum Bi," pinta Arumi sambil merengek menangis pada suaminya.


"Aku mana bisa bantu, orang kamu sendiri yang kasih. Kamu tu kalau ga cinta ama aku bilang aja. Aku bisa ngerti, tapi kalau kamu kasih anak aku ke orang orang, maaf Rum aku ga bisa ngerti. Ternyata kamu tu jahat banget Rum, kamu ga tulus sama aku, Kamu ga cinta sama aku, iya kan bener kan," hardik Yudha, Arumi menatap tak percaya pada suaminya. Dia langsung memeluk Yudha.


"Tidak suamiku kamu salah, aku mencintaimu sangat. Aku sangat sayang sama kamu aku tulus," jawab Arumi. Deka dan Arti tersenyum saat melihat ratu drama mereka berhasil mereka kerjain. Yudha memberikan jempolnya pada saudarinya dan kakak iparnya.


"Ga usah ngedrama, walaupun kalian sekarang saling mencintai, tulus atau apalah ga akan bisa merubah apapun. Ditya tetep menjadi anak kami sampai kapan pun," jawab Deka tegas. Arumi melepaskan pelukanya dan menyapu air matanya.


"Papi...papi kenapa sih serakah bener jadi orang. Emang kurang banyak kah anak Papi. Anak udah dua puluh juga masih aja ambil paksa anak Rum," ucap Arumi marah. Oooo....makin sukak lah Deka dengan ini.


"Kamu ga usah ngiri dengan rejeki kami, mau anak kami dua puluh, dua puluh lima apa urusanya sama kamu. Papi ma mau terus dikasih anak. Apa lagi tu anak Raka suka, ya udah sih itung itung kasih adek beneran buat Raka. Kawan main, lah ini kita dateng ke sini mau jemput Mawar. Mommy mau kan kalau kita ambil Mawar sekalian?" Deka merasa belum puas membuat Arumi geram.


"Ga, enak aja. Mawar ga akan kemana mana," ucap Arumi marah.


"Ya kita sih ga maksa. Tapi kan sudah bukti tertulis. Kamu menyerahkan mereka pada kami. Kalau kamu bisa bayar denda sih ga masalah nanti Mawar aja kami kembaliin. Ditya ma tetep kita ambil," jawab Deka enteng.

__ADS_1


Arumi tak bicara lagi, dia malah menangis dipelukan suaminya. Yudha hanya diam tak menyambut tangisan istrinya. Tak dipungkiri bahwa ternyata ratu dramanya ini sangat lugu dan polos.


Bersambung....


__ADS_2