HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Terpuruk


__ADS_3

Pengacara Yudha membawa kabar yang mengejutkannya. Bukan karena surat perceraian yang telah Desi tanda tangani. Tetapi karena Toko bagunan beserta gudang dan isinya telah berpindah tangan menjadi milik Desi.


Yudha sungguh tak menyangka bahwa dia telah menikahi wanita ular, kelicikan Desi telah membuat hidupnya kembali ketitik terendah.


Menyesal pun percuma, tempat usaha yang dia bangun bersama Istri tuanya dari nol hingga menjadi besar pun hilang dalam sekejap mata atas kebodohan yang telah dia lakukan.


"Bagaimana ini, bagaimana caraku menjelaskan ini padamu Rum!" ucap Yudha dalam lamunannya.


Menyadari fakta bahwa dia telah ditipu telah membuat Yudha kembali frustasi. Berfikir jernih pun rasanya Yudha sudah tak sanggup.


Yudha tak bisa merebut kembali harta miliknya karena tanda tangan yang ada disurat kuasa dan sertifikat kepemilikan Toko dan gudang itu asli tanda tanganya.


Desi dan pengacaranya pun datang sesaat setelah Yudha menerima surat tanda bukti bahwa dia telah mengalihkan seluruh hartanya pada Desi.


"Silahkan anda kemasi barang barang anda tuan besar karena ini semua sudah menjadi milik saya, dan anda bukan lagi suami saya bukan," ucap Desi dengan nada meledek.


Yudha ingin sekali menyerang wanita penghianat ini, sayangnya dia membawa beberapa ajudan beserta kuasa hukumnya.


Yudha tak ada pilihan lain selain mengemasi barang barangnya. Meskipun dalam hati dia merasa sangat sakit atas apa yang mantan istri mudanya ini lakukan. Harga diri Yudha telah terinjak injak dengan aroganya.

__ADS_1


Mau membalas pun percuma, toh ini nyata kesalahan fatalnya.


Dendam mulai menyelimuti hati Yudha, matanya menatap tajam ke arah Desi. Dendam itu begitu membara Yudha perlihatkan sayangnya itu tak berpengaruh buat Desi.


"Heh, kamu ingin ini semua, silahkan ambil kalau hanya harta aku bisa cari lagi tapi ingat bahwa semua ada balasanya. Tunggu saja apa yang akan kamu dapatkan setelah ini," balas Yudha.


"Kamu pikir aku takut, kamu sekarang sudah miskin. Kamu pikir ada wanita yang mau sama kamu dasar pria bodoh. Ingat istri tuamu aja ninggalin kamu kan, dasar kalian sama sama bodoh" tambah Desi.


Yudha tak terima jika ada orang yang berani menjelek jelekan Arumi dan anak anaknya.


"Apa kamu pikir kamu lebih baik dari dia, ahlak dan kecantikanmu ga ada seujung jari pun jika dibandingan denganya," jawab Yudha dengan nada bangganya.


"Oh ya, lalu kenapa kamu memilih bersamaku tidak dengan nya saja hah, apa waktu itu matamu buta hah," ejek Desi.


Yudha melangkahkan kakinya dengan sangat kesal, dia memasukan barang barangnya dibagasi mobil dengan dibantu oleh mantan pekerjanya.


"Brengsek," teriak Yudha sambil memukul stir mobilnya. Dengan perasaan kalutnya Yudha pun tancap gas menuju rumah yang pernah ditempatinya bersama Arumi.


Sayangnya rumah itu sudah disegel bank, Yudha pun terkejut dengan ini. Yudha mengambil ponselnya dan menanyakan pihak bank apa maksud semua ini

__ADS_1


Ternyata Desi tak membayarkan cicilan pinjamanya dibank, dan kala itu Yudha mengambil pinjaman dengan mengadaikan sertifikat rumah yang anak istrinya huni.


"Ya Tuhan, ujian apa lagi ini," sesal Yudha dalam tangisnya.


Yudha memangis meraung raung dalam mobilnya, untung saja saat ini hujan deras hingga tak ada satu orang pun yang bisa mendengar tangisanya.


Yudha melajukan lagi mobilnya menuju restauran yang dia beli dari kakak iparnya. Dia berharap harta miliknya yang tinggal satu satunya ini bisa luput dari incaran rubah betina itu.


Yudha menatap restauran yang dia miliki ini, terlihat sepi tak ada satu pun pengunjung yang datang. Berbeda sekali saat dia yang menjadi chef, bahkan dulu dia sempat lembur sampai jam du dini hari. Omsetnya sungguh menyenangkan kala itu.


Yudha melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan khusus untuknya. Disana ada kamar yang biasa dia gunakan untuk istirahat.


Untungnya tak ada satu pun kariawan yang menyadari kedatangannya, Yudha memeriksa laporan keungan restauranya semua minus. Restauran ini juga berada dititik terendah rupanya.


Yudha duduk temenung di sofa ruang kerjanya, menyalakan rokok dan menghisapnya pelan tapi pasti.


Yudha mengambil alkohol yang ada dilemari kerjanya, memikmati minuman itu hingga habis tak bersisa.


Sejenak Yudha bisa melupakan masalahnya dengan berlari bersama minuman laknat itu. Yudha tertidur dengan perasaan tak menentu.

__ADS_1


Ahh Yudha entah kapan kamu akan terus seperti ini.


Bersambung...


__ADS_2