
Robet tak mau menyerah begitu saja, dia langsung mengambil kunci mobil dan langsung mengejar mobil yang membawa kekasih hatinya.
Kopri menyadari bahwa Robet membuntuti mereka.
"Nyonya, tuan muda ada dibelang kita," ucap Kopri memberitahu majikanya.
"Jangan pulang kerumah, kita bawa istrinya ke apartemen baru saja," perintah Oma Rose.
"Siap!" jawab Kopri. Oma Rose melirik gerak gerik Yunita, Oma Rose sangat tahu jika wanita disampingnya ini sangat gelisah. Oma Rose paham jika Yunita khawatir pada suaminya. Yunita sangat takut terjadi apa apa dengan sang suami dan itu wajar.
Ponsel Yunita berbunyi, dia sama sekali tak berani mengangkat panggilan itu. Oma Rose langsung meminta ponsel itu dan mengnonaktifkanya.
"Rasakan!!" umpat Oma Rose kesal.
"Kopri berikan posel baru pada Nonamu, pastikan pria bodoh itu tak mengetahui nomer ponselnya biar tahu rasa, biar pinter sedikit jadi orang, " ucap Oma Rose geram. Astaga Oma Rose benar benar tak main main jika marah.
"Siap Nyonya!" jawab Kopri.
Kemampuan Kopri lari dari kejaran lawan tak diragukan lagi. Mantan anak buah Deren ini memang dinilai sangat lihai dalam mengelabuhi musuh. Jangankan sekelas Robet sekelas mafia kelas kakap aja kalah.
"Apakah dia masih dibelakang Kopri?" tanya Oma Rose.
"Sepertinya tidak Nyonya, tuan muda sudah jauh tertinggal," jawab Kopri tenang. Dia mulai mengatur laju kendaraannya.
"Maaf Nyonya, apakah besok saja boleh ijin?" tanya Kopri.
"Kemana?" tanya Oma Rose.
"Pertemuam biasa Nyonya," jawab Kopri.
"Heemmm, sampaikan pada pria tampan itu Oma mau bicara," ucap Oma Rose memperingatkan.
"Siap Nyonya," jawab Kopri tegas. Jujur saja saat ini Kopri sedang dalam taraf jiwa juang yang tinggi. Ingin rasanya dia terbang ke Palembang sekarang juga. Mr. Zen kabarnya kabur kesana setelah tahu anak buah Deren mencarinya.
"Non A113?"tanya Kopri.
__ADS_1
"Ya," jawab Yunita, .(A113 artinya meminta ijin membuka rahasia, yang artinya Yunita mengijinkan Kopri menceritakan masalahnya pada big bos mereka).
Oma Rose tak mau bertanya, dia sangat paham dengan cara kerja Deren dan kawan kawannya. Mereka memiliki kode kode rahasia yang hanya bagian dari merekalah yang tahu.
Kopri memarkirkan kendaraannya di kawasan apartemen yang dimaksud ibu bosnya. Kopri pun membukakan pintu untuk bos dan juga nona bos nya.
"Kamu tunggu di sini saja Kopri, usahakan Robet tak mencari kita lewat GPS," ucap Oma Rose.
"Sudah saya stel mode pesawat Nyonya," jawab Kopri.
"Bagus, apa ponsel yang ku pesan bisa siap malam ini?" tanya Oma Rose.
"Kurir on the way Nyonya," jawab Kopri.
"Heemmm," jawan Oma Rose mengerti. Dia pun menggenadeng cucu mantu kesayangannya.
"Jangan bersedih putriku, tak akan terjadi apa apa pada suamimu. Kita memang harus memberinya pelajaran. Agar tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Agar dia tahu, mana yang realita dan mana yang semu, agar dia tahu mana tang tulus dan mana yang enggak, kamu mengerti maksud Oma kan," ucap Oma Rose saat hendak masuk ke dalam lift.
"Iya Oma," jawab Yunita lemah. Yang ditakutkan Yunita sekarang bukan hanya kemarahan Oma Rose pada suaminya. Tetapi Ketegasan Deren untuk kasus ini.
Meskipun nantinya dia memohon untuk tidak menyentuh Robet, tetap saja Deren adalah Deren. Tak ada yang bisa mencegah pria itu untuk mengambil keputusan, Yunita sangat paham bahwa hidupnya adalah mutlak milik pria itu.
Deren pasti tak akan terima jika gadis yang sudah dianggap adek ini ada yang menyakitinya, apa lagi memperlakukam dia seperti seorang pembantu.
Keresahan Yunita bukan tanpa alasan, Deren pernah berkata padanya. Kesucian seorang wanita adalah harga mati, selama kamu masih memiliki kesucian maka tak ada seorangpun yang boleh merendahkanmu, meskipun itu adalah anak konglomerat selalipun. Itulah kata yang selalu terngiang di ingatan Yunita. Entah dia sadari atau tidak.
Oma Rose membukakan pintu apartemen yang bisa dibilang seperti kos kosan mewah itu.
"Ini adalah unit milik suamimu, kau tahu kan usaha suamimu?" tanya Oma Rose.
"Saya tidak tahu Oma," jawab Yunita jujur. Oma Rose membelalakkan matanya.
"Kau tak tahu apa pekerjaan suamimu hah, astaga ternyata kau bodoh pun," ucap Oma Rose, matilah kau Yunita. Bodoh sudah keluar dari persembunyianya wkwkwkw.
"Maaf Oma," ucap Yunita.
__ADS_1
"Kalian ini memikahnya pakek dasar apa, harusnya kalau mau memikah ya harus tahu dulu pekerjaan suami. Memangnya kau tak takut tiba tiba kau suamimu itu bandar narkoba atau apalah itu yang tak baik. Kau tak takut kah?" omel Oma Rose, benrr juga apa yang dikatakan wanita tua ini.
"Setahu saya mas Robet itu usahanya restauran sama kerja jadi GM aja di hotel milik papi," jawab Yunita lugu.
"Ha....syukurlah setidaknya kau tau sedikit tentang suamimu. Jangan bodoh sepertinya, Oma takut anak kalian jadi oon nanti. Emaknya oon bapaknya oon. Hah...ga kebayang nanti anak kalian seperti apa, untung saja kau sedikit pandai," ucap Oma Rose, jujur saja Yunita ingin tertawa dengan sikap apa adanya wanita ini.
"Apakah mungkin kami akan memiliki anak Oma, bukankah hubungan kami sudah berahir Oma," jawab Yunita pelan, Oma Rose tau bahwa kali ini wanita perkasa di depanya ini menyimpan luka tentang cinta di hatinya.
"Kalian saling mencintai, tak ada alasan bagi kalian untuk berpisah. Yang harus kalian lakukan saat ini hanya saling mengerti memahami da memaafkan," ucap Oma Rose sambil mengelus lengan Yunita.
Yunita sangat mengerti dengan keadaannya sekarang, bukan dia tak mau memaafkan suaminya. Tetapi untuk kembali kepelukan pria itu rasanya sungguh sangat menyakitkan dan dia tak ingin.
"Nah...ini adalah kamarmu, nanti kalau kau butuh apa apa minta sama orang kepercayaan Oma ya. Kamu pegang ini kalau mau beli apa apa," ucap Oma Rose sambil menyerahkan amplop berisi uang cas pada Yunita.
"Tidak usah Oma, saya sudah ada," jawab Yunita menolak.
"Siapa yang mengizinkanmu menolak," ucap Oma Rose dengan mata melotot. Astaga Oma iya iya ini Nita ambil, galaknya guman Yunita dalam hati.
"Makasih Oma," jawab Yunita.
"Heeemm, Oma harap kamu lebih sabar ngadepin Robet. Pria bodoh itu biar Oma yang urus. Kau tenangkan pikiran saja di mari mengerti," ucap Oma Rose.
"Siap Oma," jawab Yunita.
Tak lama Kopri datang membawakan ponsel yang di minta Oma Rose untuk Yunita. Setelah berbicang agak lama Oma Rose dan Kopri pun berpamintan.
***
Disisi lain..
Robet putus asa, bagaimana tidak Omanya ternyata tak membawa istrinya ke rumah utama. Bahkan para asisten di sana mengatakan bahwa Oma Rose belum pulang.
Robet bingung, dia belum ada bayangan sama sekai kemana Omanya membawa istrinya. Bahkan berkali kali dia mengecek keberadaan sang istri lewat signal handphone pun tak bisa.
"Aaahhh...sial!" umpat Robet kesal. Dia pun menancap pedal gas nya kembali untuk kembali kerumah dan menenangkan diri.
__ADS_1
Bersambung....
Like n komenya jangan lupa.