HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Keluarga Kandung Vero


__ADS_3

Dua hari berlalu...


Malam ini Robet masih setia menjaga kekasih hatinya hingga benar benar pulih. Yunita hanya tersenyum sambil memperhatikan calon suaminya bekerja. Dia terlihat sangat tampan jika sibuk. Bener kan mbak Nita.


"Mas," panggil Yunita.


"Heemm, apa sayang?" tanya Robet. Dia pun menaruh laptop yang ada dipangkuanya.


"Nita capek baring Mas. Boleh bantu Nita duduk?" tanya Yunita.


"Tentu sayang, atau mau duduk sini dekat Mas ha?" tanya Robet.


"Boleh," jawab Yunita. Robet pun membantu Yunita turun dari ranjang. Dan membantunya membawa infusan.


"Mau makan ga Yank?" tanya Robet.


"Ga Mas, ini kan udah malem?" jawab Yunita.


"Loh emang kenapa kalau malem?" Robet mulai kepo dengan kehidupan pribadi calon istrinya.


"Nanti Nita gemuk, ga bisa lari," jawab Yunita sambil cengengesan. Robet mengacak gemas rambut kekasihnya.


"Aaaa...Mamas ah," ucap Yunita sambil memukul manja kekasih hatinya.


"Ngrengek cium ni," ancam Robet. Yunita langsung menutup mulutnya dengan jari jari cantiknya.


"Hemmm, gayanya ditutup. Mas bisa aja paksa!" ucap Robet meledek Yunita.


"Coba aja," jawab Yunita. Robet yang merasa tertantang pun segera hendak melancarkan aksinya.


Sayangnya aksinya diganggu oleh tamu yang tak diundang.


Tok..tok..tok..(bunyi pintu diketuk)


Robet pun beranjak dari temat duduknya, dan membuka pintu untuk tamu mereka. Ternyata sepasang suami istri yang terlihat berkelas.

__ADS_1


"Permisi...selamat malam, apakah benar ini kamar nona Yunita?" tanya wanita paruh baya itu.


"Bener Nyonya, anda siapa ya?" tanya Robet.


"Oh, kami adalah orang tua Bima. Suami Almarhum Desi," jawab wanita paruh baya itu.


Tentu saja Robet tercengang dengan ini. "Anda pasti bingung ya?" tanya pria yang ada disebelah wanita itu mungkin itu adalah suaminya.


"Oh..." jawab Robet. Jujur dia sangat syok dan tidak nenyangka ini.


"Boleh kami masuk?" tanya Pria itu.


"Boleh silakan!" ucap Robet sambil membuka lebar pintu itu lebar lebar.


"Apakah ini nona Yunita?" tanya Wanita itu.


"Benar Bu saya Yunita, anda siapa ya?" tanya Yunita sambil mencoba berdiri. Tapi wanita itu melarangnya.


"Ga usah kamu ga usah berdiri, Ibu kesini hanya mau bertanya sesuatu, eemmmm...atau lebih tepatnya mengatakan sesuatu dan meminta sesuatu," ucap Ibu itu lagi. Sebelumnya Robet telah mempersilahkan mereka duduk di kursi yang telah Robet sediakan.


"Jadi begini nona Yunita...kami ini adalah orang tua Bima. Bima adalah suami sah almarhum Desi," ucap pria paruh baya itu.


"Dan itu berarti kami adalah keluarga kandung gadis yang sedang kamu asuh. Dan Bapak angkat sebagai anak. Kami sungguh berterima kasih akan kebaikan hati kalian mau menjaga dan merawat keturunan anak kami. Tapi jika kalian berkenan apakah boleh jika anak itu kami yang membesarkanya," ucap ibu itu. Tentu saja ini membuat syok Yunita. Bagaimana tidak selama beberapa bulan ini dialah yang merawat dan menjaga Vero putri mendiang Desi.


Yunita hanya diam, bibirnya terlihat gemetar seperti sedang menahan tangis. Robet mengerti benar apa yang dirasakan calon istrinya ini.


"Mohon maaf Nyonya Tuan, bagaimana kalian bisa tau kalau putri Desi kami yang mengasuh?" tanya Robet.


"Sebelum putra kami meninggal, dia pernah berkata bahwa dia telah menikah dan istrinya sedang mengandung buah hati mereka. Karena jujur kami tidak tau kalau dia menikah, kami memang tidak merestui hubungan mereka karena kalian pasti paham alasanya." tambah ibu tadi.


"Putra ibu meninggal?" tanya Robet tak percaya.


"Iya putra kami meninggal dalam kecelakaan. Tapi kami tidak tau apakah itu murni kecelakaan atau dimanipulasi. Soalnya semua terasa janggal bagi kami," tambah pria paruh baya itu.


"Lalu bagaimana cara kalian membuktikan bawa anak yang sedang kami asuh adalah cucu kandung kalian?" tanya Robet. Dia berhak curiga dong ya kan. Ini kan orang asing.

__ADS_1


"Kalian bisa melakukan tes DNA pada kami," jawab pria itu.


"Bagaimana Yank?" tanya Robet pada calon istrinya.


"Nita ga tau mas," jawab Yunita sambil menyembunyikan wajahnya di pundak kekasihnya.


"Kami tidak akan melarang kalian untuk bertemu cucu kami. Tapi kami sangat berharap kalian biaa mengerti keadaan kami. Cucu kami itu adalah satu satunya keturunan kami." jawab wanita paruh baya itu sambil menatap iba kearah Yunita. Mata sayu wanita itu terlihat menyimpan banyak sekali kesedihan.


"Kami butuh bukti yang real nyonya sebelum kami mengambil keputusan," jawab Robet.


"Selain itu kami juga harus berunding dulu. Karena sebelum kami ada seseorang yang harus terlibat dalam masalah ini. Dia adalah mantan suami Desi yang diminta Desi untuk menjaga putrinya," jawab Robet tegas.


"Baiklah tidak masalah, kami akan menunggu sampai kalian benar benar mendiskusikan ini. Tapi om dan tante berharap kalian biasa mengerti keadaan kami," jawab wanita paruh baya itu.


"Iya om tante, kita pun ga mau menjauhkan Vero dari orang yang lebih berhak atasnya," jawab Robet. Yunita meremas tangan kekasihnya sebegitu kuatnya. Tanda dia merasakan sakit dan sedih di hatinya. Tapi mau gimana ini adalah jalan yang harus mereka lalui.


"Baiklah ini adalah kartu nama om danini adalah sample untuk kalian test kebenaran tentang kami." ucap pria itu sambil menyerahkan kartu nama dan rambutnya. Robet pun menerimanya dengan senang hati.


"Baik om, besok saya akan bicara dengan teman saya," jawab Robet.


Mereka pun bercengkrama sebentar dan meminta ijin undur diri. Tak lupa mereka juga mendoakan Yunita agar cepat sembuh.


Setelah mereka pergi terlihat Yunita snhat sedih. Dia matanya berkaca kaca bibirnya gemetar. Dia sangat takut kehilangan Vero.


"Sayang...jangan nangis. Kalau memang mereka lebih berhak ya ga papa to. Kita harus bersikap lebih dewasa. Kamu ga kasihan sama Vero kalau seandainya dia hidup jauh dari keluarga kandungnya hemmm," ucap Robet berusaha menasehati dan meredam ego kekasihnya.


"Nita sayang sama Vero Mas," jawab Yunita pelan.


"Iya sayang, Mas tau. Mas ngerti kalau kamu sayang sama dia. Tapi Mas harap kamu bisa berlapang dada sayang." ucap Robet sambil mengelus pundak kekasihnya.


Yunita sangat sedih dengan ini. Tapi Robet lebih bisa bersikap dewasa. Dia pun terua berusaha menenangkan kekasihnya.


Bersambung...


CA:" Gengs yang suka dengan novel lucu dan bikin ngakak, kalian bisa banget tongkrongim karya anak emak...dijamin ga bakalan nyesel deh😍😍😍."

__ADS_1



__ADS_2