HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Tak Tik Deren DKK (dan kawan kawan)


__ADS_3

Robet mengikuti apa yang kekasihnya sarankan. Dia kembali dikejutkan dengan cara Yunita membawa mobil. Yunita tak tampak seperti wanita pada umumnya. Ia memiliki kemampuan diatas rata rata ketika membawa mobil. Sampai terbesit dalam pikiran Robet apakah wanitaku juga pembalap batin Robet. Robet terus saja menatap mobil yang dikendarai kekasihnya. Tak berapa lama mobil itu pun hilang dari pandanganya.


Diam diam didalam mobil itu Yunita sudah menyiapkan segala keperluanya termasuk jaket anti peluru.


Dia hanya menurut ketika sang sopir membawanya ke tempat yang tidak dia kenal. Di dalam mobil tak ada sekalipun percakapan. Mereka yang membawanya hanya diam, hingga membuat Robet sedikit takut. Kembali lagi dia mengingat moment di mana tadi kekasihnya menciumnya dengan penuh kelembutan. Senyuman itu tiba-tiba mengembang di wajahnya. Dia tak menyangka Yunita bakalan seberani itu. Biasanya kalau dia hendak pergi atau mereka hendak berpisah paling mereka hanya saling melambaikan tangan dan tersenyum, sekali lagi entah kenapa tadi dia begitu berani.


Robet kembali bingung karena mereka membawanya ke rumah yang lumayan indah. Rumah itu tidak besar mungkin hanya berkisah 6x9 meter. Salah satu dari mereka membukakan pintu untuknya dan membawaku masuk kedalam.


Robet kembali dikejutkan dengan suasana ruang tamu yang bisa dibilang sangat minimalis. Semua ruanganya bernuansa crem yang apik.


Ingin rasanya Robet bertanya siapakah pemilik rumah ini tapi pria yang membawaku hanya diam dan mengunci mulutnya membuat Robet ikutan diam.


Dia menyerahkan kunci itu dan pergi begitu saja. Tinggalah Robet sendiri menjelajahi rumah setiap sudut rumah ini.


Robet masuk kedalam salah satu kamar. Kamar ini bernuansa pink seperti kebanyakan kamar gadis pada umumnya. Disana banyak terdapat piagam piagam dan juga piala, mungkin itu milik yang pemilik kamar ini.


Robet membaca salah satu piagam yang ada disana. Terlulis nama "AINUR ROHMAH". Ainur rohmah siapa itu, batin Robet.


Ditelitinya lagi foto foto itu. Robet kembali bingung, karena foto yang tertempel dipiagam itu mirip sekali dengan Yunita.


"Mungkinkah ini nama aslinya," gumam Robet.


Robet mulai lagi menjelajah setiap sudut kanar itu, Robet duduk dimeja kerja yang ada diruangan itu. Meja ini mirip meja belajar anak SMA sangat manis dan menggemaskan.

__ADS_1


Disitu ada satu buku berwarna pink juga, seperti buku harian anak anak SMA pada umumnya.


Pelan tapi pasti dibukanya buku itu. Robet tersenyum tapi juga bingung. Buku itu bertuliskan sandi sandi, mungkin hanya pemiliknyalah yang tau.


"Ahh...Yunita Mas makin ga ngerti soal kamu," gumam Robet.


***


Disisi lain Yunita dan timnya bersiap menangkap target mereka. Diam diam Yunita dan anak buahnya mengawasi setiap sudut rumah Yudha karena disana ada umpan mereka untuk memancing Desi dan komplotanya.


Tanpa Yudha dan Arumi ketahui, Deren juga sudah ada di dalam rumah mereka. Entah dari mana pria misterius itu sudah stanbay ditempat yang sangat rahasia itu.


Yunita terus memantau dari luar. Waspada dan terus waspada. Mereka harus curiga pada setiap orang yang melintas dideoan rumah Yudha.


Yunita merasa sangat senang karena target benar benar masuk kedalam perangkapnya. Yunita langsung memberi kode pada Deren dan beberapa orang yang ada didalam. Bahwa target mendekat.


Deren langsung membekap dua asisten rumah tangga Arumi dan Yudha hingga mereka menurut. Lalu Deren meminta anak buahnya untuk mengamankan dua pekerja itu beserta dua bayi yang harus mereka jaga.


"Diam kalian, jangan ada yang bersuara. Usahakan kedua bayi itu tidak menangis menegerti!" perintah Deren. Cicik dan Patmi tam ada pilihan selain menurut. Mereka dilarikan melalui jendela. Ada anak buah Deren yang siap membawa lari mereka.


Tinggallah sekarang dua orang yang bisa mereka umpankan yaitu Yudha dan Arumi. Deren masuk kedalam kamar itu, tak perduli mereka berdua sedang bercinta atau tidak.


Tentu saja Yudha dan Arumi terkejut melihat Deren masuk kedalam kamar mereka tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


"Woy...!" ucap Yudha terkejut.


"Ssstttt..." pinta Deren.


Deren pun memberikan ponselnya dan meminta Yudha membaca pesan itu "Jangan terkejut target sudah didepan pintu, bersikaplah biasa kami ada dibelakangmu," begitulah isi tulisan itu kira kira. Yudha pun membangunkan istrinya. Arumi yang baru bangun tidur tak kalah terkejut dengan ini.


"Pakai ini dan sambut mereka!" perintah Deren. Deren pun membantu Yudha naik keatas kursi rodanya. Banyak pertanyaan yang berkecambuk didalam otaknya. Namun dia paham tak mungkin bertanya detail dalam situasi seperti ini.


Arumi pun sama dia segera memakai bra dikamar mandi dan bersiap menyambut tamu yang dimakasud Deren.


Deg degan pasti, takut apa lagi. Kalau sudah berhubungan dengan senjata api dan sebagainya tak mungkin jika tamunya adalah orang orang biasa.


Deren meminta Arumi keluar duluan untuk membukakan pintu untuk para tamu mereka. Meski Yudha khawatir tapi dia percaya pada Deren.


Tanpa meminta ijin Deren membuka laptop milik Yudha. Mengotak atik laptop itu dan memasukan kata sandi yang terhubung dengan kamera yang diam diam Yunita pasang kemarin.


Tak perlu dipertanyakan bagaimana wanita cerdas itu memasang semua alat yang merek perlukan.


Sekali lagi Yudha hendak bertanya, tapi dia tahu sistem kerja sahabatnya Ini. Dikamar itu Yudha bisa melihat apa yang Istrinya lakukan diruang tamu itu. Mereka berbicang santai kelihatanya. Tampak satu wanita dan dua pria disana. Deren sudah bersiap mengambil ancang ancang.


"Apapun yang terjadi jangan keluarkan suara, target mereka adalah kamu mengerti," ucap Deren pada Yudha.


Tak lama ucapa Deren terbukti, terlihat seseorang mengancam Arumi dengan senjata api. "Ingat jangan keluar suara, tetap disini dan jangan ke mana-mana," pinta Deren langsung mematikan laptopnya. Tak mungkin dia mengijinkan Yudha melihat langsung apa yang terjadi pada istrinya. Bisa bisa semua rencananya akan gagal.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2