HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Pelajaran Buat Yudha


__ADS_3

Yudha berusaha tenang menghadapi istrinya. Sesuai dengan arahan abang iparnya dia pun mulai mempelajari celah dimana nantinya Arumi akan mereda emosinya dan bisa menerimanya kembali.


Yudha menjaga putri kecilnya saat sang istri memasak. Dengan sabar Yudha menuruti setiap keinginan putrinya.


Arumi masih saja cuek padanya, Yudha mendekati istrinya dan bertanya, "Bun, masak apa?".


Arumi hanya menjawab dengan lirikan ketusnya.


"Bun jangan galak galak dong, takut abi," ucap Yudha lagi.


Arumi tak perduli dengan ucapan suaminya, mulutnya masih dia kunci. Yudha tak menyerah dia pun masih berusaha mengambil hati istrinya.


"Abi cobain ya bun," ucap Yudha lagi. Arumi hanya memberinya sendok dan meninggalkan suaminya sendiri di dapur.


"Astaga istriku, sesakit ini kah hatimu dulu. Maafin Abi ya bun," gumam Yudha.


Yudha masih berusaha menahan perasaanya, biarlah jika ini hukuman yang memang harus dia terima.


Mawar menangis mungkin dia haus, Yudha pun membawa putrinya ke kamar, terlihat Arumi sudah menganti bajunya sepertinya dia bersiap pergi.


"Bun, adek nangis mungkin dia haus," ucap Yudha.


Arumi pun meletakan bedaknya dan mengambil putrinya dari gendongan suaminya. Mengajak Mawar duduk disofa dan memberikan ASI untuk putrinya.


Yudha memberanikan diri duduk disamping Arumi.


"Bunda cantik amat mau pergi ya?" tanya Yudha.


"Hem," jawab Arumi.


"Kemana bun?"


"Main ama temen," jawabnya singkat.


"Abi ikut ya!" pinta Yudha.

__ADS_1


"Ga usah ngapain, Rum dijemput temen," tolak Arumi.


" Temennya cewek apa cowok?" tanya Yudha kepo.


"Cowok, anak nya bos," jawab Arumi jujur. Tentu saja ini membuat sedikit gusar perasaan Yudha.


"Bunda temenan sama anak bos, beneran cuma temen bun?" tanya Yudha masih berusaha tenang. Arumi hanya melirik kesal pada Yudha.


Yudha menatap iba ke arah Arumi, Arumi pun sedikit mencuri pandang pada suaminya. Tapi Arumi tetep kekeh dengan pendirianya. Dia harus tetep tega dan tegar untuk masalah ini. Arumi tak ingin masuk kelubang yang sama. Arumi harus bisa melancarkan rencananya agar Yudha bersedia meninggalkanya.


"Kalian ga ada hubungan apa apa kan bun, kamu masih istriku lo bun," ucap Yudha pelan tapi ucapan itu mengisaratkan Arumi bahwa dia masih berada di zona merah.


"Dulu mas masih suami Rum juga kan waktu nikah ama dia," balas Arumi ketus.


"Kan Mas udah minta maaf sayang, mas janji ga bakalan gitu lagi," jawab Yudha.


"Rum udah maafin mas, tapi Rum juga minta maaf Rum ga mau mengulang lagi kisah tentang kita. Jadi mas ga usah susah susah dan repot repot bujuk Rum buat balikan lagi sama mas," jawab Arumi tegas.


Yudha masih belum mau menyerah, dia yakin bahwa masih ada dia dihati istrinya.


"Kalau sayang ya lepasin lah, biar Rum bisa nikah sama pacar Rum yang sekarang," ucapan Arumi, tentu saja ini membuat terkejut hati Yudha. Arumi sangat keterlaluan kali ini.


"Kamu punya pacar Rum, kamu masih istriku lo Rum," Yes dia mulai terpancing. Arumi malah tertawa dalam hati.


"Ya punya lah, emang mas doang ya bisa cari gantinya Rum, Rum juga bisa kali. gantinya mas lebih ganteng tajir perjaka pula heh, mas gini gini Rum juga masih laku. lihat aja ntar cowok yang bakalan jemput Rum ga kalah tampan sama mas," jawab Arumi sambil berdiri hendak meletakan Mawar ke ranjang, Mawar si gadis cilik itu sudah terlelap rupanya.


"Jagain anak anak, gantian Rum mau pacaran," ucap Arumi sambil masuk kedalam ruang gantinya. Didalam ruangan ganti itu Arumi tertawa mengingat mimik muka Yudha yang terlihat bingung mau berkata apa.


Arumi menganti lagi pakaianya agar terlihat lebih sexy dan menggoda. Saat ini Rum memakai dress warna biru dongker dengan panjang selutut dan lengan pendek, potongan lehernya agak kebawah hingga saat dia menunduk tentu saja PD nya akan terlihat. Arumi tertawa lagi membayangkan reaksi suaminya. Arumi memang sengaja memakai dress itu untuk membakar hati Yudha. Dress itu terlihat sangat pas ditubuh Arumi, manis sekali kelihatanya.


Saat keluar dari ruang ganti terlihat Yudha masih duduk termenung disofa. Arumi mendekatinya.


"Minta sangu," pinta Rum sambil mengulurkan tanganya.


"Loh, kok minta sangu ama mas, bukanya pacar kamu tajir," balas Yudha.

__ADS_1


"Malu lah minta minta ama cowok, gengsi dong ntar Rum dikatain matre ga jadi dikawinin nanti," jawab Rum enteng.


"Rum, kamu serius dengan ini?" tanya Yudha mukanya kusut sekali astaga.


"Serius lah, mana ATMnya cepetan Rum udah ditungguin tu," ucap Arumi.


Yudha gemas sekali rasanya, ingin rasanya marah tapi kalau dia marah yang ada Arumi tambah kesal padanya. Ingat Yud ingat mengalahlah untuk menang.


Yudha pun berdiri dan menyerahkan dompetnya pada istrinya. Arumi pandai sekali kali ini dia mengambil gold card dari dompet itu karena dia yakin dari sekian banyak kartu itu pasti isinya yang paling banyak.


"PIN nya?" tanya Arumi lagi.


"Tanggal lahir abang," jawab Yudha.


"Oke, salim," pinta Arumi, Yudha pun mengulurkan tanganya dengan terburu buru Arumi pun mencium tangan itu.


"Ingat jagain anak anak, jangan dibikin nangis," pesan Arumi seraya melangkah dan mengucapkan salam.


"Rum," penggil Yudha.


"Ya,"


"Ganti dong bajunya jangan pakai itu," pinta Yudha memelas.


"Enak aja, ini baju paling sexy cantik nan elegan yang Rum punya, pacar Rum yang beliin tau," jawab Arumi bohong. Duh Rum ga taukah kamu rasanya hati pria ini menagis sakit.


Arumi tak perduli dengan permintaan suaminya, dia pun nekat pergi menggunakan baju itu.


Yudha menatap kepergian istrinya dengan perasaan tak menentu. Benarkah Arumi sekarang punya pacar. Benarkan dia sudah melupakanku. Benarkah cintanya bukan untuk ku lagi.


Banyak sekali pertanyaan yang menganjal dihati Yudha, untuk memastikan ucapan Arumi Yudha pun mengintip dibalik jendela.


Ternyata Arumi tak bohong sebuah mobil mewah telah menunggunya didepan rumah. Bahkan sang pria membukakan pintu untuk istrinya. Semakin terbakarlah hati Yudha ketika melihat istrinya sangat bahagia dengan pria yang diakui Arumi sebagai pacarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2