HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
#HSBM Season 2 Saling Terbuka (2)


__ADS_3

Beberapa kali Yunita melihat Robet menguap, bahkan menguap pun dia tampan, batin Yunita tersenyum manis di depan Robet.


"Mas ngantuk?" tanya Yunita.


"Iya," jawabnya, tanpa ijin Robet pun merebahkan tubuhnya disamping istrinya serta menjadikan paha Yunita sebagai bantalnya.


Robet meminta Yunita memainkan rambutnya, Yunita merasa ini sangat lucu, kebiasaan aneh menurutnya.


"Apa Mas manja?" tanya Robet.


"Tidak."


"Mas bahagia istriku," ucap Robet, Yunita tersenyum dan masih saja mengelus pipi tirus suaminya.


"Bolehkah Mas tahu lebih dalam tentangmu istriku?" tanya Robet serius.


"Tentu saja Mas, tanya aja oia sebelumnya Nita mau kasih tahu sesuatu sama Mas. Ini berhubungan dengan keluarga Nita," ucap Yunita.


"Apa itu?" tanya Robet.


"Jangan marah tapi..."


"Siap..."


"Sebenarnya Nita bukan anak kandung Ibu sama Bapak," ucap Yunita, tentu saja ucapan Yunita membuat Robet terkejut. Robet pun bangun dari pembaringanya


"Maksud kamu!" Robet masih pura pura tak tahu.


"Iya Nita bukan anak kandung mereka," ucap Nita mempertegas ucapannya.


"Lalu...apakah kamu tahu siapa keluarga kandungmu?" tanya Robet.


"Tidak...Nita tidak tahu siapa keluarga Nita sesungguhnya," jawab Yunita. Robet sedikit lega dengan jawaban istrinya, tapi dia tak tahu juga kenapa dia begitu.


"Kamu tahunya kapan kalau kamu bukan anak kandung mereka?" tanya Robet.


"Tetangga di rumah lama yang kasih tahu, mereka kalau ngatain Nita anak pungut, anak pungut dasar anak tong sampah gitu," jawab Yunita, Robet menatap mata cantik itu. Tentu saja ada luka tersembunyi disana, ternyata malam ini dia mendapat jawaban sebab luka terdalam itu.


"Mereka semua bodoh, kamu bukan anak seperti itu. Kamu permata yang sangat indah istriku. Jangan sedih lagi ya," ucap Robet mencoba membalut luka hati wanita yang sangat dicintainya.


"Tapi Nita ga berani nanya sama bapak sama ibu, karena mereka teramat sayang sama Nita. Bapak sama ibu tak pernah membedakan Nita dengan Mala. Nita ga tega jika hendak bertanya," ucap Yunita, dari perjalanan rumah tangga mereka sampai detik ini Yunita mengambil kesimpulan bahwa semua harus dibicarakan di awal agar semua terbuka jelas. Tanpa ada penyesalan dikemudian hari.

__ADS_1


"Tak apa sayang, udah ga usah kamu pikirin. Oia bapak ada di Malang kan ama Mala sekarang?" tanya Robet mencoba mengalihkan perhatian istrinya.


"Iya pak Deren nemuin pengobatan alternatif yang bagus disekitar rumah lamanya dan Nita setuju karena Nita juga mau bapak sembuh," jawab Yunita apa adanya. Robet memuji dalam hati bagaimana Deren bisa membujuk istri dan keluarganya untuk pindah.


"Mas udah kirim uang bulanan buat Mala sama bapak sayang," ucap Robet agar Nita tak menghawatirkan keperluan mereka.


"Loh, ngapain Mas kirim uang buat mereka Mas, mereka kan tanggung jawab Nita," ucap Yunita sedikit tak senang.


"Dasar gadis bodoh, kamu tanggung jawab siapa sekarang?" tanya Robet.


"Mamas!"


"Berarti mereka juga tanggung jawab siapa?" tanya Robet lagi, Yunita diam dia tak berani menjawab sekarang.


"Udah ga papa, kalau Mas ada rejeki pasti Mas bagi buat mereka." jawab Robet.


"Ahhhh...kita bahas apaan sih, udah ah jangan bahas yang sedih sedih. Hemmm...besok Mas ada rapat pagi, mainin rambut Mas yank biar Mas cepet tidur," pinta Robet sambil merebahkan tubuhnya kembali. Yunita pun menuruti keinginan suaminya. Mulai menggerakan jari jarinya di kepala suaminya.


"Istrinya Mamas yang dulu orang mana?" tanya Yunita.


"Orang Pademangan situ, kasihan dia tahu Yank!" jawab Robet.


"Dia sakit kanker darah," jawab Robet.


"Ya Tuhan kasihannya,"


"Yang lebih sedih adalah keinginan terahirnya," ucap Robet.


"Apa itu?" tanya Yunita penasaran.


"Mas ga tahu kalau dia naksir Mamas dari kecil. Kami pertama ketemu pas Mas ngater mami arisan dirumahnya. Saat itu dia masih SMP kata Mami. Mas juga ga tahu kalau dia ada sakit. Mas tahunya saat orang tuanya dateng kerumah dan minta tolong ama Mas buat nikahin dia," ucap Robet mulai mau terbuka dengan masa lalunya.


"Ya Tuhan, lalu..."


"Awalnya Mamas menolak, tapi saat papi ngajakin jenguk, Mas lihat dia duduk dikursi roda badannya sangat kurus. Kulitnya putih pucat, hati Mas rasanya perih, Mas ga tega. Ya udah Mas ngambil keputusan buat Nikahin dia. Apa salahnya memenuhi permintaan terahir seseorang. Itung itung ibadah," jawab Robet sedih mengingat keadaan terahir mendiang Karla.


"Ya Tuhan kasihan sekali, kita harus selalu bersyukur lo Mas dikasih sehat sampai sekarang," ucap Yunita.


"Kamu benar istriku, dia ga bisa sekolah karena sakitnya. Tapi anaknya sangat cerdas, dia pandai main piano. Main biola, usianya masih sangat muda dia menghembuskan nafas terahirnya pas diulang tahunya yang 18," Robet terlihat lebih tenang sekarang saat menceritakan masa lalunya bersama Karla sang mantan istri.


"Dih... Mamas pedofil," goda Yunita.

__ADS_1


"Pedofil dari mana, orang Mamas ga pernah ngapa ngapain dia sih, tidur aja kami terpisah. Sejak menikah dia lebih sering keluar masuk rumah sakit Yank, terahir dia pengen liburan ke Puncak, saat itulah dia menghembuskan nafas terahirnya. Dipelukan pria yang sangat dicintainya inilah," ucap Robet penuh percaya diri. Robet tersenyum diucapan terahirnya.


"Bersyukur Mbak Karla bisa bahagia sekarang. Keinginan terahirnya terpenuhi bisa hidup bersama dengan pria tampan dan berhati baik seperti Mamas walau hanya sebentar," puji Yunita pada suaminya.


"Berhati baik dari Mana Yank, buktinya aku tega nyakitin kamu. Walau sebenarnya hati Mas sakit saat lihat kamu nyuci mobil, tidur di ruang sempit, bersihin kolam renang," ucap Robet jujur.


"Ga papa Mas, semua sudah berlalu, tapi Mamas jahat dari mana ide mau perkosa Nita itu datang hah?" tanya Yunita geram.


"Habis kamu menggoda," jawab Robet.


"Menggoda gimana, orang kita jarang ketemu. Nita masuk kerumah aja ga boleh kan kalau Mas ada di rumah!" balas Yunita tak mau kalah.


"Ga menggoda gimana, sekarang aja kamu lagi godain Mamas kan," tambah Robet tak mau kalah.


"Mana ada sih Nita godain, perasaan dari tadi kita ngobrolnya juga biasa aja,"


"Yakin ga godain,"


"Enggak mana ada Nita godain," jawab Yunita geram.


Dasar Robet si kadal mesum, matanya langsung menatap buah dada Nita yang ada di depan mukanya. Seketika Yunita sadar akan apa yang dimaksud menggoda olah suaminya. Yunita langsung mengangkat kepala Robet dan menutup dadanya.


Robet tertawa melihat tingkah konyol istrinya, "Dasar mesum," umpat Yunita.


"Mesum gimana, ya wajar lah dari tadi disuguhinya begituan. Siapa yang salah sekarang!" Robet mulai bersemangat menggoda istri cantiknya. Yunita menatap tajam kearah Robet. Robet makin suka jika emosi Yunita mulai terpancing.


"Udah ga usah disembunyiin, kan Mas udah pernah ngrasain," Robet kembali menyulut emosi Yunita.


"Dasar pria gila, suka mengambil kesempatan. Dasar mesum," kembali Yunita mengumpat kesal, Yunita seperti tak menyadari bahwa Robet adalah suaminya. Melihat miliknya adalah hak Robet seharusnya. Yunita ini lucu sekali.


"Mesum sama istrinya sendiri kan ga papa Yank, sini..." pinta Robet sambil meraih tubuh Yunita dan membawanya kepangkuannya.


Yunita masih siaga berjaga jaga, sorot matanya masih terdapat kobaran api kemarahan.


"Mas udah bilang sayang, Mas ga akan pernah paksa kamu bukan. Mas akan menunggu sampai kamu siap dan iklas memberikan harta berhargamu untuk Mas," ucap Robet sambil mengelus halus rambut istrinya. Yunita membuka dekapan tanganya dan memeluk Robet penuh dengan cinta.


"Mamas ga boleh mesum," pinta Yunita.


Robet tak menjawab dia malah membiarkan Yunita terus memeluknya hingga wanita aneh ini tertidur pulas dipangkuanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2