HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
#HSBM Season 2 Pagi Yang Indah


__ADS_3

Robet sudah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, dia sengaja tak membangunkan istrinya untuk melaksankan shalat berjamaah. Dia sangat tahu kalau Yunita lelah karena ulahnya. Robet tersenyum menatap wajah sayu itu.


"Sayang..." panggil Robet dengan lembut agar istrinya tak terkejut. Robet juga mencium kening wanita cantik dengan penuh kasih sayang.


"Apa Mas, udah azan ya?" tanya Yunita.


"Udah dari tadi sayang, ini udah jam lima," jawab Robet sambil mengelus pipi mulus itu. Duh yang lagi kasmaran, ampek azan subuh pun tak dengar.


Yunita tersenyum mendapati suaminya tampak tampan, sudah mandi dan wangi.


"Mas udah mandi ya, tungguin Nita ya sholatnya," pinta Yunita.


"Mas ma udah sholat, tu sajadahnya aja belum di rapiin," jawab Robet sambil menunjuk sajadah yang digelar rapi di tempat biasa dia sholat.


"Eemm, ga ditungguin, curang," ucap Yunita manja.


Robet hanya tersenyum saat mendengar ucapan manja istrinya.


"Udah mandi sana, sholat dulu keburu habis waktunya," ucap Robet, Yunita pun tersenyum dan mulai membungkus tubuhnya dengan selimut tebal itu. Berjalan dengan segala keribetanya, Robet malah membantu memegang selimut itu sampai Yunita masuk ke dalam kamar mandi.


Robet tersenyum sambil menggosok gosok tengkuknya, rasanya sungguh luar biasa. Pengalaman pertama yang sangat mengesankan.


Robet mulai membuka laptopnya dan memeriksa jadwalnya hari ini, asisten almarhum papinya sudah menjadwalkan semua pekerjaannya.


Rasanya tak sanggup jika Robet mengerjakan ini sendiri, dia pun mulai mencari asisten pribadi yang bisa dia percaya nantinya.


Yunita sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melekat di tubuhnya. Mereka saling melempar senyum malu malu.


Robet tak ingin terlalu agresif, sejak kepergian papinya dan beberapa kejadian yang menimpanya kini Robet bisa bersikap lebih tenang dan bersabar atas segala hal.


Oma Rose juga mengakui bahwa cucunya kini sudah berubah. Robet dinilainya lebih dewasa sekarang.


Robet menunggu dengan sabar mana kala Yunita melaksanakan kewajibanya sebagai muslim yang baik, bahkan tak henti hentinya pria tampan ini memuji kecantikan wanita yang rela menjadi pendamping hidupnya dunia ahirat ini.


Yunita melipat mukenanya, merapikan dan mengembalikanya ke tempat semula.


Yunita menghampiri suaminya dan duduk manis dipangkuan pria yang dicintainya ini.


"Mas mau sarapan apa?" tanya Yunita sambil merangkul mesra leher sang pujaan hati.


"Sarapan kamu boleh!" jawab Robet dengan senyuman manis yang menggoda.

__ADS_1


"Loh Nita bukan makanan Mas," jawab Yunita manja.


"Bagi Mas kamu hidangan terbaik buat Mas," balas Robet tak kalah romantis. Robet menyatukan hidung mereka dan bibir pun ikutan nakal.


"Mas mau ke Riau besok sayang, apa kamu mau ikut heemm?" tanya Robet.


"Mas kok pergi terus sih!" Yunita mulai protes dengan bibir manyun yang menggemaskan.


Robet tersenyum mendengar protes dari istrinya.


"Deren mau lihat pekebunan di sana, kayaknya dia mau invest. Tapi ga tahu juga Mas. Dia minta di temenin," ucap Robet memberitahu bahwa kepergiannya ke Riau bukan masalah pekerjaannya tetapi abang iparnya mau meminta pendapatnya.


"Emmm, bukan soal kerjaan sendiri ni,"


"Iya bukan, kayaknya Deren udah mau berhenti dari dunianya sekarang," ucap Robet. Yunita pun berajak dari pangkuan Robet dan berjalan menuju meja rias.


"Kenapa, kayaknya kamu sedih?" tanya Yunita.


"Enggak Mas, Nita hanya ga tahu bagaimana caranya Nita berterima kasih sama pak Deren." ucap Yunita.


"Doain aja supaya dia sehat, cepet dapet jodoh. Biar ada yang ngurus," jawab Robet sambil duduk diranjangnya.


"Tanya apa?"


"Yun, rasanya gimana kalau habis sholat, gitu!" jawab Yunita.


"Terus kamu jawab apa?"


"Ya Nita jawab, rasanya tenang aja pak, kan Nita berasa ada yang melindungi," jawab Yunita.


"Kayaknya dia sekarang lagi gencar belajar kepercayaan kita, kasihan dia seperti orang yang tersesat. Tak mengenal dirinya sendiri dan Tuhannya. Kayaknya sekarang dia lagi banyak belajar sama bang Deka," ucap Robet memberi tahu apa yang dia ketahui tentang Deren.


"Iya Mas kasihan kalau orang ga ada pegangan tu seperti orang hilang, tak tahu arah jalan pulang," jawab Yunita.


"Mas bisa lebih baik juga kenal Yudha, dia yang selalu nasehati Mas agar selalu dekat sama sang pemberi hidup. Kamu tahu sendiri kan Yank mami papi kayak gitu," ucap Robet menjelaskan keadaan keluarganya.


"Kalau ibuk sama bapak ketat Mas, kalau kita malas ke TPA jangan harap dapat uang jajan hahahaha," ucap Yunita merasa lucu ketika ibunya marah karena dia malas pergi ke kajian.


"Bersyukur kamu hidup dilingkungan yang mendidik keras dirimu soal ilmu agama sayang. Aku ingin anak anak kita juga tahu tentang ini, dan Mas percaya kamu bisa membawa mereka ke jalan yang baik," ucap Robet kemudian dia pun berdiri dan mengecup bibir istrinya.


Yunita menerima kecupan itu, bahkan dia membalasnya lebih, membuat Robet kehilangan kendali.

__ADS_1


Permainan mengesankan yang mereka lakukan tadi malam seolah menuntun mereka untuk mengulangnya kembali.


Tanpa malu malu mereka mulai menjalankan apa yang mereka inginkan. Jauh dari lubuk hati masing masing mereka sangat bahagia dengan ini. Robet mulai jatuh cinta dengan sarapan yang berbeda dari biasanya ini.


Yunita tak menolak sama sekali keinginan indah ini. Justru dia malah membalas dengan penuh kasih sayang. Permainan lembut itu sudah tak terlihat lagi, kini mereka sudah terlihat arogan dan berani mengekpresikan apa yang diam diam mereka pelajari.


Cinta yang terwujud itu membali menorehkan pengalaman yang sangat mengesankan buat mereka. Bermain di pagi hari tanpa rasa malu sama sekali.


"Kamu sangat indah istriku, terima kasih," bisik Robet sambil melaksanakan tugasnya yang terahir.


Yunita hanya tersenyum manja mana kala Robet sudah sampai dipuncak pendakiannya. Ini sungguh berbeda dari tadi malam, sudah tak ada rasa sakit lagi. Yang ada hanya rasa bahagia dan indah.


Robet tumbang, tenanganya habis tak bersisa. Nafasnya mulai tak beraturan, tubuhnya lemas seolah habis melakukan lari maraton saja.


"Capek Mas," goda Yunita, Robet hanya tersenyum dan menyembunyikan wajah lelah tapi bahagia itu di dada Yunita. Yunita menelus rambut suaminya yang mengeluarkan aroma wangi itu.


"Mas ga mau kemana mana sayang, tolong bilang sama Aldi Mas libur ngantor ya," ucap Robet, Yunita malah tersenyum mendengar ucapan manja suaminya. Aneh sekali mendengar dia tiba tiba malas bekerja karena kelelahan akibat pertempuran mereka yang menguras tenaga ini.


"Baiklah nanti Aldi Nita chat," jawab Yunita masih bertahan dengan senyuman menahan tawa karena ulah suaminya.


"Mas mau tidur sayang, kamu jangan kemana mana ya," pinta Robet.


"Aduh Mas kita ni bukan pengantin baru sayang, masak istrinya mau aktifitas ga boleh," ucap Yunita menawar.


"Kita akan seperti ini terus sayang, semua tidak akan pernah berubah kita akan terus saling mencintai sampai kapanpun," ucap Robet melemah, sepertinya dia sudah mulai malas berdebat.


"Mana ada bisa begitu, yang ada Oma akan ngamuk kalau cucunya jadi pemalas gini," jawab Yunita mengingatkan bahwa di tengah tengah mereka ada seseorang yang selalu setia mengawasi.


"Astaga Mas lupa, Oma mau Mas datang rapat hari ini," Robet tiba tiba ingat pesan Oma Rose saat dia landing semalam.


"Jam berapa rapatnya dimulai sayang?" tanya Yunita.


"Jam sepuluh sih, Mas bobo ya nanti bangunin oke," pinta Robet mulai memejamkan matanya.


"Baiklah," jawab Yunita sambil mengalus kepala pria yang setia berada di dadanya.


Yunita merasakan pagi yang sangat indah hari ini, bisa memadu kasih dengan pasangan halalnya. Yunita berharap paginya akan selalu indah seperti ini hingga sang maut menghampirinya.


Bersambung....


Like dan komen kalian adalah dukungan terbaik buat Emak😘 maaf up pertama banyak typo..soalnya emak ngetiknya sambil ngobrol online alias chating wkwkwk..maafnya.

__ADS_1


__ADS_2