
Setelah mendapatkan kendaraan untuk menuju Jakarta, Deren pun langsung mengantarkan Yudha ke landasan pacu heli tersebut.
"Lo hati hati bro, yang sabar jangan kebawa emosi," Deren masih terus berusaha membuka mata hati sahabatnya agar tak terburu buru mengambil keputusan.
"Heem," jawab Yudha singkat.
"Emang ada apaan sih kok lo tiba tiba mau keJakarta, mana malem malem gini?" tanya Deren, masih konsentrasi dengan mobil yang dibawanya.
"Barusan anak ane telpon dia bilang bundanya tidur ga bangun bangun," jawab Yudha tenang tapi takut.
"Hah," Deren terkejut mendengar wajaban sahabatnya, pantesan dia panik. Hati hancur dari hongkong nyatanya masih khawatir juga lo, dasar hati mana bisa dih boong. Deren malah tersenyum melihat kegundahan sahabatnya.
"Sabar bro semoga ga ada apa apa, lo udah suruh Kopri(salah satu anak buah Deren yang disewa Yudha untuk mengawasi rumah anak istrinya) bawa kerumah sakit kan?" tanya Deren.
"Udah bro, cuma anak anak ane kagak ada yg jaga mbak nya lagi pulang kampung," jawab Yudha.
"Sabar ya bro, semoga ujian lo segera berahir, lo pakek apartemen ane aja. Barang barang lo juga masih ada disana kagak ane buang. Sekalian lo bayarin tu apartemen juga boleh." ucap Deren sambil bercanda, Yudha diam dia malas meladeni candaan sahabatnya. Tapi ngomong ngomong dia kan juga butuh tempat tinggal secara sebentar lagi dia kan juga ada kerja disana.
"Heemm, nanti ane tranfer uangnya," jawab Yudha.
"Anj*y tahu harganya kagak main iya aja lo," umpat Deren sambil tertawa pelan, sahabatnya ini memang unik jika tak fokus.
"Sampai Jakarta ane pinjam mobil lo," ucap Yudha.
"Pakek aja, sekalian dibayarin juga boleh," goda Deren lagi.
"Kirim aja nomer regkening elo," jawab Yudha enteng, Deren tertawa semakin kencang. Dia menilai sahabatnya ini konyol sekali. Hah semoga masalahmu segera berahir bro ane yakin seyakin yakin nya lo tu orang baik, saking baiknya ampek ga berasa dimanfaatin orang batin Deren.
......
Arumi masih belum sadarkan diri saat Yudha tiba di rumah sakit. Terlihat dua orang suruhan Yudha menjaga buah hatinya dengan sabar. Mawar tidur dipangkuan abangnya sedangkan Ditya tidur sambil duduk bersender pada orang suruhan abinya.
Yudha berlari mencari dimana keberadaan anak dan istrinya. Betapa sedihnya dia melihat buah hatinya tidur dengan posisi seperti itu.
"Apakah dia sudah sadar?" tanya Yudha pada Kopri.
__ADS_1
"Belum bos!" jawabnya.
"Heemmm, ada kenalan yang bisa bantu jaga istri saya?" tanya Yudha.
"Ada bos, adek saya sudah ada didalam jagain nyonya dia yang akan mantau perkembangan nyonya,!" jawab Kopri.
"Oke terimakasih, kata dokter istriku kenapa?" tanya Yudha.
"HB nya rendah bos ditambah asam lambung naik, kayaknya nyonya ga makan berhari hari bos tubuhnya lemas sekali saat saya bawa tadi," jawab Kopri.
" Astaga, dasar wanita bodoh. Oke terimakasih, tolong bantu saya bawa anak anak ke mobil," pinta Yudha. Kopri pun menggendong Ditya dan Mawar dibawa sendiri oleh Yudha.
"Aku tak perduli Rum apapun yang akan kamu katakan dan kamu lakukan yang jelas aku sangat menyayangi mereka. Meskipun kamu meragukan ketulusanku, cintaku padamu tapi aku tetap menyayangi kalian, Kenapa kamu ga makan Rum ga kasihankah kamu sama mereka, kamu boleh marah padaku boleh membenciku tapi kamu juga harus ingat ada mereka yang membutuhkanmu, " ucap Yudha dalam hati. Dia juga memukul strir mobil yang dibawanya sebagai bentuk betapa sakit ya g ia rasakan dihatinya.
Jika boleh jujur saat ini batin Yudha menangis menjerit. Rasanya sakit sekali jika ingat perkataan Arumi yang mengatakan dia tak pantas disebut suami, tak pantas dipanggil abi. Tapi tak dipungkiri bahwa cintanya jauh lebih besar dibanding luka ini.
Yudha membawa anak anak nya keapartemen milik Deren, tak lupa dia meminta orang orang nya untuk menyiapkan baju dan semua peralatan untuk anak anaknya.
Yudha tak mungkin pulang kerumah istrinya, meskipun dalam keadaan marah Arumi sudah mengatakan bahwa Arumi mengharamkan dirinya masuk kedalam rumah itu. Tak mungkin baginya untuk melanggar itu.
.....
" Sayang putri abi kenapa nak, " sambut Yudha, gadis cilik itu kini sedang berada digendongan Ditya itu pun seketika diam.
"Adek haus bi," ucap Ditya.
"Ooo, oke mari kita bikin susu yuk," ajak Yudha sambil mengambil alih Mawar dari Ditya.
"Nda bi?" tanya Mawar.
"Bunda ada, habis ini kita siap siap terus datang bunda ya!" ucap Yudha sambil membuatkan susu yang Mawar minta.
"Abang sarapan dulu gi, habis itu siap siap kita ke Rumah sakit bunda udah sadar," ucap Yudha pada Ditya. Ditya pun menuruti perintah abinya.
"Bang, nanti abi anter abang pulang ya abang ambil baju baju abang sama adek, selama bunda dirawat abang mau kan tinggal disini sama abi?" tanya Yudha, Yudha tau kalau putranya ini cerdas. Dia pasti tau dan pahan kondisi orang tuanya saat ini.
__ADS_1
"Oke bi," jawab Ditya singkat.
"Bang, bunda kenapa kok ga mau makan?" tanya Yudha.
"Ga tau bi, bunda ga cerita bunda cuma diam," jawab Ditya.
"Nanti dirumah sakit abang bujuk bunda ya, suruh makan. Bilang sama bunda adek kan cari cari bunda. kasihan adek ya, rayu bunda ya bang supaya bunda cepet sembuh," ucap Yudha, Ditya pun mengiyakan permintaan abinya.
....
Yudha menggendong Mawar dan menggandeng Ditya saat memasuki kamar rawat inap istrinya.
Baik Yudha maupun Arumi mereka saling diam. Yudha masih bertahan dengan sikap jaim nya sedangkan Arumi masih dengan sikap marahnya.
"Bang, ini adeknya jagain ya abi mau ketemu dokter dulu!" ucap Yudha sambil menyerahkan Mawar pada putranya.
"Iya bi," jawab Ditya..
"Nanti kalau abang denger bel bunyi tiga kali abang keluar bawa adek ya, itu pertanda jam besuk udah habis. Kita diharapkan pulang oke. Abi tunggu di depan ruangan," pesan Yudha pada putranya, Ditya pun menghiyakan kembali pesan Abinya.
Yudha pun keluar ruangan itu dan menunggu didepan ruangan Arumi. Ditya berjalan menghampiri Bundanya dan menaruh adeknya di samping bundanya.
"Bunda udah makan?" tanya Ditya, Arumi mengangguk.
"Bunda jangan sakit kasihan adek cari cari bunda," ucap Ditya.
"Kok ada abi disini, abang kasih tau abi ya?"tanya Arumi penasaran.
"Iya bun, habis di HP abang cuma ada nomer abi!" upsss Ditya keceplosan.
"HP, abang punya HP siapa yang kasih!"
"Abi bun, pas abi mau balik ke Samarinda, abi dateng kesekolah abang minta abang jaga adek sama bunda," jawab Ditya.
"Emang abi pulang ke Samarinda bang?" tanya Arumi lagi, jujur saja dia makin penasaran dengan apa yang suaminya kerjakan.
__ADS_1
"Iya bun, pas abang telpon abi juga masih di Samarinda, tadi malem abi dateng naik helikopter turunya di lapangan samping rumah sakit ini bun," jawab Ditya, mendengar cerita putranya membuat Arumi merasa bersalah pada suaminya. Mungkin kah yang aku pikirkan tentangnya salah batin Arumi.
Bersambung....