
Yunita dan kedua rekan kerjanya masih diam terpaku, mereka masih tak percaya dengan kemarahan majikanya barusan.
"Yul...kamu sih tu aden jadi marah ama Mbak Nita," Tinah mulai mengajak temannya bergosip.
"Ya kan Yuli ga tahu Mbak kalau aden ada dimari," jawab Yuli sedih.
"Maafkan Yuli ya Mbak Nita, eh tapi ngomong ngomong kenapa aden marah yak. Harusnya ga masalah dong kalau dari kita pacaran," tambah Yuli lagi, mukanya berubah heran. Kesedihan nya sudah tak nampak lagi.
"Udah Yul ga usah dibahas lagi, lagian bapak juga udah marah. Udah ga usah diomongin lagi. Hadiahnya balikin ja, bilang sama temen temenmu itu kalau sebenarnya aku sudah ada suami di kampung gitu. Kalau perlu bilang sama mereka kalau aku juga udah punya anak. Jadi mereka ga ganggu ganggu lagi," ucap Yunita. Tinah dan Yuli saling menatap heran.
"Kok Mbak Nita aneh. Kenapa mesti boong Mbak. Emang Mbak Nita ga pengen punya pacar terus nikah gitu," balas Tinah heran.
"Bukan gitu Tinah, aku masih banyak mimpi jadi ga pengen mikir begituan. Lagian apa indahnya menikah hanya bikin susah saja," jawab Yunita. Dia tak ingin membahas masalah ini. Yunita pun memilih meninggalkan kedua temannya. Lebih baik dia bekerja dari pada memikirkan hal yang tidak penting.
Yunita mengambil peralatannya untuk melanjutkan pekerjaanya. Masuk ke kolam renang yang sudah kosong itu. Menyikat sisi sisi kolam itu dengan semangat. Yunita tak menyesali ini, kalaupun saat ini keringatnya habis dia tak perduli. Yang penting hutangnya lunas dan bisa segera pergi dari rumah ini.
***
Di sisi lain ada seorang oma oma sedang marah besar pada Giral dan Marta. Dia marah karena tak di undang kepernikahan cucu kesayangannya. Dia merasa sangat tidak dihargai.
"Maaf kan kami ma, bukan kami ga mau kasih tahu, tapi ini sungguh diluar kendali kita. Robet sangat kekeh menikahi gadis miskin tak tahu diri itu ma," ucap Marta.
"Diam kamu!" bentak Nenek Rose. Rose sepertinya memang tak suka pada Marta makanya dia malas mendengar suara yang keluar dari mulut menantunya ini.
"Ma...!" ucap Giral mencoba menenangkan ibunya.
"Apa !, kamu juga mau bilang kalau cucu mantu mama orang miskin ga cocok jadi menantu dikeluarga ini begitu hah. Makanya kalian sembunyiin ini dari mama hah. Dimana hati nurani kalian jadi manusia. Memang kenapa kalau dia miskin, saat mama dan papamu ini menikah kami juga bukan oramhvada Giral, memangnya kamu pikir kami langsung kaya gitu. Bisa seenak jidat belanja itu tanpa mikir (maksudnya nyindiri Marta manantunya gaes).Tidak Giral, kami tidak kaya, kami ga punya apa apa juga saat itu. Bahkan untuk membeli susu untukmu aja mama mesti ngutang ke tetangga. Dan kamu Marta aku tau apa yang kamu lakukan, jadi jangan macam macam!" ucap Oma Rose sambil memberikan peringatan pada menantunya ini.
Marta hanya mengumpat kesal dalam hati pada ibu mertuanya.
__ADS_1
"Suruh mereka besok datang kemari, mama mau tahu gadis yang di nikahi cucu kesayangan mama. Dan satu lagi buat kamu Marta awas bikin ulah lagi!" ucap Rose kambali mengancam Marta. Marta hanya menggerutu kesal.
***
Malam telah tiba, semua penghuni rumah Robet sudah bersiap tidur tak terkecuali Yunita. Yunita baru selesai mandi, karena malam ini sangat panas baginya.
Yunita membuka pintu kamarnya, saat hendak menutup pintu kamar itu Yunita dikejutkan dengan keberadaan Robet dengan muka siap menerkamnya.
Yunita hendak menghindar tapi Robet keburu menutup pintu itu dan menguncinya. Tatapan mata Robet sungguh menakutkan.
"Bapak jangan macam macam ya!" ancam Yunita.
"Kenapa kalau aku macam macam hah, bukankah kamu suka ini. Aku akan membayarmu soal ini, kamu tidak usah takut," ucap Robet kesal, Robet terus saja melangkah hendak meluruskan niatnya. Yunita juga berjalan mundur mencari ancang ancang, bersiap membela diri jika diserang.
"Bapak, saya mohon jangan memaksa saya berbuat kasar pada Bapak!" ancam Yunita sambil menunjuk geram pada Robet, Robet malah tersenyum licik padanya.
"Heh, kamu pikir aku takut sama kamu. Bukankah demi uang kamu biasa melakukan ini hah," ucap Robet lagi sambil terus melangkah mendekati Yunita.
Yunita meronta dan mencoba mendorong Robet. "Mas....ini salah lepasin Nita Mas!" pinta Yunita memohon. Yunita masih waras rupanya, dia sama sekali tak ingin menyakiti Robet. Yunita tak bisa, Yunita tak tega.
"Katanya mau matiin Mas, ayo matiin aja. Mas pengen tahu setega apa ketua gangster kita ini ha," ucap Robet lagi mencoba memancing amarah Yunita.
Yunita menatap penuh permusuhan pada Robet, mulutnya sama sekali tak bisa berucap.
"Ayolah Mas jangan seperti ini. Nita mohon, tolong jangan paksa Nita buat nyakitin Mas," ucap Yunita masih berusaha meredam emosinya.
Tetap saja wanita ini meronta dan terus meronta, Robet tak mau kalah, semakin Yunita meronta semakin kuat pula dia mendekapnya.
"Enggak, Mas hanya mau tahu setega apa kamu dengan musuh musuhmu," pancing Robet lagi.
__ADS_1
"Andai Mas bukan sahabat pak Deren, mungkin Mas udah Nita tembak!" hardik Yunita, sorotan mata indah itu kembali memancarkan jiwa gangster nya.
"Oh ya, jadi selama ini kamu ga nglawan karena takut dengan Deren hah. Sungguh menggelikan," jawa Robet, Kembali Robet menarik tubuh Yunita lebih dekat dengannya.
Bukan hanya tubuh mereka yang dekat bahkan wajah mereka pun bisa dikatakan sangat intim.
Robet mendekatkan wajah bersiap mencium bibir Yunita, Yunita menolak dia pun segera menghindar. Sayangnya Robet nekat ciuman yang awalnya ditujukan pada bibir terpaksa berpindah tempat menjadi di leher Yunita.
Robet sangat menikmati leher indah itu. Leher ini sangat wangi hingga membuat Robet betah berlama lama di sana. Kecupan demi kecupan Robet lancarkan. Yunita marah dia mulai memukul punggung Robet.
"Mas hentikan kalau tidak aku berteriak!" ancam Yunita sambil terus berusaha meronta. Robet tak perduli, semakin Yunita meronta semakin dia menyukainya.
"Hanya segini kekuatan seorang ketua gang hah!" ledek Robet memegang kedua tangan Yunita dan menghimpit kaki mungil itu.
"Jangan meremehkanku Mas, kalau aku mau kemaluanmu bisa saja remuk sekarang!" balas Yunita tak mau kalah.
"Heh, kalau senjataku remuk lalu kamu mau bikin anaknya sama siapa hah?" tanya Robet sambil melonggarkan dekapannya.
"Mas jangan gila, Kita berdua tak akan punya anak karena kita tak akan pernah melakukannya," jawab Yunita tegas.
"Siapa bilang kita tak akan melakukanya hah, malam ini di sini kita akan buat anak itu," bawab Robet. Yunita sangat shock dengan ucapan arogan suaminya.
Ucapan Robet bukan isapan jempol belaka, dia benar benar melakukanya. Robet mulai merobek baju piyama Yunita, hingga semua kancing baju itu terlepas hampir semuanya. Dada mulus Yunita langsung terekspos ditambah saat itu Yunita tak mengenakan bra, karena niatnya memang hendak langsung tidur.
Robet terus berusaha meraih bibir Yunita, Yunita terus meronta dan melawan. Ingin sekali rasanya Yunita mengeluarkan jurusnya, menendang ******** milik pria mesum ini. Sayangnya dia tak tega.
Robet sungguh kehilangan kendali, dia terus melancarkan niatnya, sayangnya Yunita tak mau menyerah dia terus melawan dan melawan.Yunita tak ingin ini terjadi, kalaupun harus bukan seperti ini caranya.
Bersambung...
__ADS_1
CA:"Like dan komennya jangan...makin banyak like banyak komen emak bakalan ranjin up..janji deh..😘😘😘🤗."