
Yunita tiba dengan selamat di tempat tujuan. Kini dia juga sudah berdiri tegak di apartemen mewah sambil menunggu sang penerima bingkisan keluar dari kamarnya.
Apartemen ini terlihat sangat sepi, Yunita sangsi apakah di sini ada penghuninya apa tidak. Hampir setengah jam menunggu ahirnya pria yang dimaksud keluar bersama dua rekan kerjanya.
"Kamu YN?" tanya tuan tampan itu.
"Iya ini saya Tuan," jawab Yunita. Yunita langsung tahu itu adalah pria yang maksud tuan Handoyo karena sebelum ini dia sudah melihat fotonya.
"Kamu langsung masuk keruangan pojok kiri itu," perintah Tuan Juan.
"Siap Tuan," jawab Yunita kemudian meninggalkan tiga pria yang ada di depannya.
Yunita masuk kedalam ruangan yang sangat besar menurutnya, sebenarnya dia sudah terbiasa masuk kedalam ruangan ruangan seperti ini. Karena yang memakai jasa timnya biasanya bukan orang sembarangan.
Yunita melirik setiap sudut ruangan yang dia pijak, dalam situasi seperti ini dia sangat dituntut untuk selalu waspada. Bagaimana tidak, ruangan seperti ini biasanya banyak mata yang memandang.
Hampir sepuluh menit Yunita menunggu, akhirnya Tuan Muda Juan pun masuk ke dalam ruangan di mana dia menunggu.
"Mana dokumen itu?" tanya Juan. Yunita pun membuka releting jaketnya dan mengeluarkan tas kecil yang berisi sesuatu yang maksud Juan. Yunita menyerahkan barang rahasia itu. Juan menerimanya dan langsung membaca dengam teliti setiap kata yang tertera di sana. Yunita masih menunggu dan berdiri tegak di depan Juan.
"Apa kau tidak capek berdiri terus?" tanya Juan pada Yunita. Yunita hanya menjawab dengan senyumanya.
"Duduk!" perintah Juan. Yunita pun menuruti perintah sang tuan muda itu dan duduk di depannya.
"Siapa namamu ?" tanya Juan.
"Yunita Tuan Muda," jawab Yunita.
"Apakah kau salah satu anak buah pria kepar*t itu?" tanya Juan. Yunita hanya mengerutkan dahinya.
"Maksudku si Deren sialan itu?" tambahnya lagi.
"Siap Tuan, anda benar," jawab Yunita.
__ADS_1
"Kemana dia sekarang? kenapa bukan dia yang mengantarkanya sendiri hah, kenapa malah menyuruh wanita sepertimu. Sangat tidak kompeten!" ucap Juan sambil mengumpat kasar. Ya Tuhan apakah semua pria kaya hobi makan cabe, mulutnya pedas sekali rasanya, batin Yunita.
"Big bos sedang ada misi Tuan, beliau juga meminta maaf soal ini," jawab Yunita apa adanya.
"Aahh....menjengkelkan sekali. Dia selalu banyak alasan. Kenapa harus wanita yang dia perintahakn, apakah tidak ada yang lain. Aku tidak suka wanita karena wanita itu bodoh," ucap Juan menyuarakan isi pikiranya.
"Maaf Tuan Muda, sepertinya anda salah. Tidak semua wanita seperti itu. Kalau saya bodoh, kemungkinan besar saya tidak akan sampai di sini dengan selamat," jawab Yunita tegas. Juan tersenyum meledek. Sebenarnya Juan tahu bahwa membawa dokumen rahasia ini berarti menyerahkan nyawanya pada musuh terlebih jika dokumen ini jatuh ke tangan orang orang yang mengincarnya, hukuman dari pemilik dokumen ini juga tidak main main. Tentu saja nyawanya, dan Juan sangat paham itu.
"Benarkah kamu pintar?" ledek Juan lagi.
"Tentu saja kenapa tidak?" Yunita tak mau kalah kali ini.
"Kalau gitu pergi ke dapurku sekarang dan buatkan aku makan. Awas kalau kau kasih racun," hardik Juan.
"Maaf Tuan, itu bukan bagian dari tugas saya," jawab Yunita berani.
"Apa kau takut dengan tantanganku, apa kau bodoh seperti wanita yang hobi shopping itu hah, dasar," ucap Juan lagi dengan nada sedikit marah. Merasa tertantang akhirnya Yunita pun menyanggupi keinginan Juan untuk membuktikan bahwa semua wanita mempunyai pontensi sendiri sendiri termasuk dirinya.
Sepertinya Juan sudah memiliki rasa pada Yunita, sejak pertama kali dia melihat foto wanita ini.
"Deren tahu aja kalau sahabatnya jomblo, dikasihnya aku bidadari cantik gini!" gumam Juan, sepertinya Juan belum tahu jika Yunita sudah berkeluarga.
"Jangan pakek cabe aku tak suka," ucap Juan ketus.
"Siap," jawab Yunita pelan, malas sekali rasanya mengerjakan tugas yang tidak tertera dalam surat perjanjian.
Yunita pun menghidangkan masakan yang dia masak, jujur dia sangat sedih kali ini. Dia adalah istri dari seorang pria lalu kenapa takdirnya memintanya untuk membuat masakan untuk pria lain. Ya Tuhan ampunilah aku batin Yunita.
Juan mulai diam dan terus memperhatikan Yunita, dia cantik batin Juan.
"Berapa umurmu?" tanya Juan.
"Maaf Tuan Muda dalam kesatuan kami, kami dilarang memberikan informasi pribadi," jawab Yunita tegas.
__ADS_1
"Apa kau tahu siapa aku?" tanya Juan.
"Tahu Tuan, anda adalah cucu dari tuan besar Handoyo dan sahabat big bos," jawab Yunita sesuai yang dia tahu.
"Jadi kamu tahu kan siapa aku, ck... baiklah," jawab Juan, kemudian dia pun mulai menyantap masakan Yunita. Emmm....ini sungguh enak seperti masakan rumaham khas indonesia yang dia rindukan.
"Berapa lama kontrak kerjamu dengam kakekku?" tanya Juan.
"Hanya seminggu Tuan, besok saya sudah harus kembali ke Indonesia," jawab Yunita.
"Oke, malam ini kamu tidur di sini temani aku kerja," perintah Juan.
"Maaf Tuan Muda tugas saya hanya mengantarkan baramg pesanan anda saja, selebihnya saya berhak menolak," jawab Yunita tegas, dia tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Terlebih saat ini dia harus pandai menjaga pandangan pria lain darinya. Benarkan.
"Kenapa kamu terlihat takut, apa kamu pikir aku akan berbuat lebih padamu?" tanya Juan sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Tidak Tuan Muda, saya hanya bekerja sesuai surat perjanjian," jawab Yunita lagi, dia masih terus berusaha menghindari apa yang Juan inginkan.
"Aku akan membayarmu lebih, tenang saja," tambah Juan.
"Maaf Tuan Muda itu bukan masalahnya, saya hanya mengikuti peraturan dan...tugas saya sudah selesai saya mohon diri, selamat sore," ucap Yunita kemudian dia pun memilih meninggalkan apartemen mewah milih Juan.
Di sini Juan merasa disepelekan. Bagaimana tidak, banyak sekali wanita yang ingin dekat dengannya. Lah ini cuma seorang ajudan menolak ajakanya, membuat Juan makin penasaran pada Yunita.
***
Dilain pihak Yunita merasa sangat lega, dia merasa kembali terbebas dari maut. Yunita sungguh tak ingin main api. Dia hanya ingin berjalan sesuai jalur, mengingat dan terus mengingat statusnya sekarang.
Yunita masuk kedalam mobil yang tadi mengantarkan ke kediaman Juan. Yunita segera meminta sopir itu ke hotel di mana dia menginap.
Bersambung...
CA:" Makin penasaran kan bagaimana Aak Deren menghajar Robet, ayo ayo like dan komennya jangan lupa,"
__ADS_1