
Oma Rose tak menunggu lagi, dia pun meminta Kopri menyiapkan mobil mewahnya. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan istri cucunya. Oma Rose ingin membuktikan sendiri ucapan anak buahnya barusan.
"Silakan Nyonya," ucap Kopri sambil membukakan pintu untuk nyonya besarnya.
"Langsung ke Pondok Labu," pinta Oma Rose.
"Siap Nyonya," jawab Kopri tegas. Oma Rose mengotak atik ponselnya, menggomel kesal, kadang kadang juga menggerutu. Ahhh dasar nenek nenek batin Kopri geli.
"Kenapa pria tampan (Deren) itu susah sekali dihubungi," ucap Oma Rose sambil mengulang dan mengulang lagi panggilannya.
"Maaf Nyonya, apakah Nyonya hendak menghubungi big bos Deren?" tanya Kopri pelan.
"Benar, kau tau nomernya selain ini?" tanya Oma Rose sambil menyodorkan ponselnya pada Kopri. Kopri malah tertawa.
"Kurang ajar sekali kau, siapa yang suruh kau tertawa hah!" bentak Oma Rose geram.
"Bukan Nyonya maaf," jawab Kopri hormat.
"Awas kau, sekali lagi tertawa jangan harap kau ku kasih bonus bulan ini," ancam Oma Rose.
"Aduh Ibu Nyonya yang baik jangan gitu lah. Kasihanilah saya," ucap Kopri merayu.
"Hah, aku sudah tahu kau hanya merayuku. Tak akan mempan, kalau kau tak kasih tau nomer big bosmu padaku jangan harap nominal di regkeningmu bertambah!" ancam Oma Rose lagi. Dia sangat paham organisasi mereka, tak akan mudah bagi siapapun meminta info soal big bos di kesatuan mereka.
"Maaf Nyonyaku yang baik, janganlah begitu. Anda sangat paham dengan kami bukan. Lagian saya juga tidak tahu di mana big bos kami sekarang. Semua serba tertutup Nyonya, semua berjalan sesuai kehendaknya. Saya harap anda mengerti," jawab Kopri, tu kan bener anak buah laknat ini tak akan mau memberitahu di mana bos besarnya sekarang berada. Rose juga tahu bahwa Deren hanya akan menghubungi seseorang yang dia inginkan. Selebihnya hanya orang orang tertentu yang tahu nomer ponselnya.
"Pria tampan itu sangat menyebalkan," gerutu Oma Rose. Oma Rose sangat menyayangi Deren karena berkat Deren dan anak buahnya dia masih bernafas sampai sekarang, khususnya Yunita yang saat itu terus menempel di dekatnya.
Oma Rose turun dari mobil mewahnya dengan begitu anggun. Kopri juga berdiri tegak disampingnya. Berjaga jaga jangan sampai terjadi sesuatu pada wanita yang diam diam memiliki banyak musuh ini. Bagaimana tidak pesaing bisnisnya tidak main main itu sebabnya dia membutuhkan sopir sekaligus pengawal yang sangat handal dan bisa dipercaya contohnya seperti Kopri ini.
"Siapa nama cucu mantuku?" tanya Oma Rose pada Kopri.
"Miss YN Nyonya," jawab Kopri.
__ADS_1
"Bukan julukanya bodoh!" bentak Oma Rose geram.
"Maaf Nyonya, namanya Yunita," jawab Kopri sedikit bercanda. Oma Rose mengibarkan kipasnya dan mulai berjalan masuk ke kediaman Robet.
Kopri selalu setia berada di belakang wania tua ini, karena dia memang selalu meminta Kopri mengikutinya kemanapun dia pergi, kecuali tidur dan ke kamar kecil. Selebihnya Kopri hampir setiap detik ada di sampingnya.
Tinah dan Yuli yang sudah tahu bahwa Nyonya besarnya akan datang langsung menyambut di depan pintu.
"Dimana Nyonya rumah ini?" tanya Oma Rose pada kedua asisten rumah tangga di rumah Robet.
Tinah dan Yuli saling menatap mereka bingung dengan apa yang dimaksud oleh nyonya besar mereka.
"Maaf Nyonya Besar di sini tidak ada Nyonya yang anda maksud, kan Nyonya Kayla sudah meninggal Nya," jawab Tinah pelan karena takut salah. Oma Rose langsung memukul kepala Tinah dengan kipasnya.
"Aduh Nya, saya berani sumpah di sini ga ada Nyonya Nyonya saya tak bohong!" jawab Tinah sambil mengelus kepalanya.
"Kopri kamu bohong ya!" ucap Oma Rose sedikit keras.
"Tidak Nyonya mana saya berani, hey kalian di mana Non Yunita?" jawab Kopri sekaligus bertanya kepada kedua asisten rumah tangga yang tak tahu apa apa itu.
"Jangan kurang ajar kalian, masak pemilik rumah ini kalian suruh ngepel," ucap Oma Rose dengan muka ingin mencakar muka kedua asisten rumah tangga itu.
Yuli dan Tinah makin ga mengerti dengan apa yang diucapkan ibu bos besarnya ini.
"Kenapa kalian terlihat semakin bodoh?" tanya Oma Rose kepada kedua gadis itu. Mereka pun kembali saling menatap karena tak mengerti.
"Maaf Nyonya Besar, setahu kami mbak Nita itu posisinya sama seperti kami. Bahkan Aden sendiri yang bilang kalau mbak Nita itu sama seperti kami. Dia juga tidur bareng kami, makan bareng kami dan melakukan pekerjaan yang sama seperti kami," jawab Tinah menjelaskan apa yang dia ketahui tentang Yunita.
Oma Rose makin merasa dibohongi sama Kopri. "Kopri kamu bisa jelaskan ini?" tanya Oma Rose.
"Sebaiknya kita panggil Non Yunita aja Nyonya. Nyonya tanya sendiri yang benar saya atau mereka," jawab Kopri tegas.
"Oke, panggilkan dia kesini," pinta Oma Rose. Yuli pun menuruti perintah sang manjikan untuk membawa Yunita kehadapanya.
__ADS_1
Yuli berjalan menaiki anak anak tangga dengan terburu buru untuk mencari keberadaan Yunita.
"Mbak Nita," panggil Yuli, Yunita pun menghentikan pekerjaanya.
"Ya Yul ada apa?" tanya Yunita.
"Udah kerjanya, Mbak di cari sama Nyonya!" jawab Yuli gugup.
"Oh...maminya bapak kah?" tanya Yunita.
"Bukan Mbak, ini posisinya lebih tinggi lagi," jawab Yuli masih dengan kegugupannya.
"Lebih tinggi maksudnya?" tanya Yunita lagi.
"Ini Nyonya besar, artinya omanya aden!" jawab Yuli sambil merebut alat pel dari tangan Yunita dan meletakkannya.
"Lah ini pekerjaanya, bentar lagi bapak dateng loh Yul. Kan kamu tahu sendiri aku ga boleh masuk rumah ini kalau beliau di rumah," jawab Yunita mengingatkan aturan yang berlaku untuknya.
"Ga papa nanti Yuli yang nerusin, udah Mbak cepet temui sana nanti keburu ngamuk. Matilah kita!" ucap Yuli malah membuat takut Yunita.
Yunita pun tak menundanya lagi, dia segera turun kebawah mencari di mana nyonya besar yang Yuli maksud.
Yunita tertegun mana kala melihat Kopri mantan anak buahnya berdiri tegak di sana. Kopri memberi hormat pada Yunita dengan menaruh tangan kanannya di dada kirinya. Yunita pun mengangguk tanda menerima penghormatan mantan anak buahnya.
"Ini Nyonya, Non Yunitanya," ucap Kopri. Oma Rose pun menoleh, betapa terkejutnya Oma Rose melihat pakaian yang dikenakan menantunya. Pakaian yang dipakai Yunita sama seperti yang dipakai Yuli dan Tinah, yang berarti apa yang dikatakan Tinah tadi tidak salah..
Oma Rose berdiri menyambut wanita yang di sinyalir telah menikah dengan cucu kesayanganya ini.
"Astaga...apa ini?" tanya Oma Rose.
Yunita tak menjawab karena dia juga belum paham dengan apa yang terjadi.
"Kopri kamu bisa jelaskan ini?" tanya Oma Rose.
__ADS_1
Kopri hanya diam karena dia pun belum paham dengan apa yang tarjadi.
Bersambung....