HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
#HSBM Season 2 Pesona Sang Duda


__ADS_3

Yunita masih asik dengan ritual mandinya, berendam untuk menghilangkan lelahnya. Seharian ini Oma Rose membawanya kemana pun si nenek tua itu memintanya. Dengan santainya Yunita melepaskan semua yang menempel ditubuhnya, bernyanyi seperti biasa sambil menikmati guyuran air yang keluar dari shower kamar mandinya. Yunita berfikir tak ada siapapun di rumah membuatnya ceroboh. Tak mengunci pintu kamar mandi yang kini sedang dia gunakan.


Disisi lain ada pria tampan yang baru pulang dari dinasnya.


"Tin dimana Non mu?" tanya Robet pada Tinah saat membukakan pintu untuk majikannya.


"Ada Den, baru juga masuk. Kayaknya masih mandi deh!" jawab Tina.


"Oh ya udah, kamu boleh istirahat. Aku udah makan, dia udah makan belum?" tanya Robet.


"Non kalau malam ga makan Den," jawab Tinah.


"Oh ya udah, kamu boleh istirahat," ucap Robet. Kemudian dia pun segera belari menaiki anak tangga untuk segera berjumpa dengan hidangan buka puasanya.


Robet membuka pelan kamarnya, "Ga dikunci, dasar ceroboh," gumam Robet.


Pria tampan ini hendak langsung masuk ke kamar mandi sayangnya ponselnya berdering. Salah satu kliennya mengundangnya untuk acara resepsi pernikahan putranya.


Saat sedang asik bersua Robet melihat bayangan istrinya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk.


Di sini bukan hanya Robet yang terkejut, Yunita pun sama. Dia teramat sangat malu dengan keadaanya. Yunita berdiri diam terpaku, terlebih Robet berjalan menghampirinya. Robet tersenyum walau masih sibuk melayani percakapan di ponselnya. Yunita ingin lari tapi Robet keburu meraih pinggangnya.


Yunita tak bisa menolak, toh dia sudah janji. Ya Tuhan rasanya seperti menghadapi peperangan yang sangat pesar. Jantung Yunita berdetak kencang terlebih saat Robet mengahiri panggilanya dan mengantongi ponselnya.


"Mau lari kemana?" tanya Robet sambil menatap wajah sang istri, wajah polos itu terlihat sangat menggemaskan.


"Ganti baju," jawab Yunita lugu.


"Ngapain ga usah," goda Robet dengan senyuman yang amat menggoda.


"Malu mamas dih...."


"Malu sama siapa?" agaknya Robet tak mau kalah.


Yunita tersenyum, Robet tak butuh ijin lagi untuk memulai ini. Robet mulai mengecup kening wanita cantik ini. Lama kecupan itu bersarang disana, Yunita mencengkeram kuat handuk yang melilit dadanya, seolah itu adalah caranya untuk melindungi diri.


Senyum mengembang di bibir kedua sejoli mana kala Robet melepaskan kecupanya. Robet juga mencium harum pipi sang istri. Mereka terlihat sangat bahagia, terlebih hati mereka kini sedang berada di puncak asmara.


"Nita ganti baju dulu ya," pinta Yunita berusaha melepaskan diri dari cengkraman suami tampannya.

__ADS_1


Robet tak menjawab, dia malah mendaratkan bibirnya pada bibir pemilik cintanya. Seolah mendapat dorongan dari masing masing hati mereka pun tak malu lagi mewujudkan cinta yang mereka rasakan.


Kecupan kecupan halus itu menjadi semakin halus, hingga membuat rasa yang sulit mereka ungkapkan.


"Boleh kah Mas melakukanya honey?" tanya Robet. Muka Yunita memerah, rasa panas tiba tiba menjalar di seluruh tubuhnya. Robet bisa merasakan getaran itu saat dia lebih mengeratkan pelukannya.


Yunita tak menjawab, dia hanya membiarkan tubuhnya dibawa keranjang oleh samg suami dan Robet menganggap itu adalah sebuah jawaban yang pasti.


Robet merebahkan tubuh indah istrinya yang nasih terlilit handuk itu, mematikan lampu utama dari romote yang ada di ponselnya. Yunita terseyum malu mana kala Robet mulai melepaskan satu persatu pakaiannya.


Yunita masih takut membantu Robet melepaskan pakaian kebesarannya. Semua terasa tiba tiba, tubuh pria yang mengisi hatinya itu kini telah polos, bagai bayi yang baru lahir.


Yunita hanya pasrah menerima setiap sentuhan sang pujaan hati. Tak ada lagi yang mereka tunggu, semua terasa indah saat sesuatu yang di nanti keluar dari tubuh Robet dan menyirami rahimnya.


Tangisan rasa sakit yang tadi terdengar sekarang sudah tak ada lagi, semua berganti dengan rasa indah yang sulit untuk diterjemahkan oleh akal sehat.


Yunita dan Robet telah bersatu dalam ikatan suci pernikahan yang sah lahir batin. Senyum kembali mengembang di bibir keduanya mana kala Robet melepaskan senjata pamungkasnya.


"Terima kasih istriku kamu sudah menjaganya untukku," ucap Robet sambil mencium kening wanita yang barusan dibuat menangis karena ulah arogannya.


"Sama sama suamiku," jawab Yunita bahagia.


"Amin, Nita sudah ga sabar pengen punya baby kayak Vero Mas," jawab Yunita.


"Mau punya baby kok nangis," canda Robet.


"Biarin, habis sakit," jawabnya.


"Yang sakit apanya?" tanya Robet lagi.


"Hatinya Mas, kan mahkotanya mau dilepas. Emang Mas pikir yang sakit apanya," balas Yunita geram. Astaga kalian baru saja bercinta tapi sudah berdebat.


"Berarti kamu ga iklas itu buat Mas?" tanya Robet lagi.


"Iklas Mas, kalau ga Iklas mana Nita nurut sih. Nita hanya sedih...." ucap Nita sambil membenamkan wajahnya di dada sang suami.


"Sedih kenapa sayang?" tanya Robet.


"Nita pikir ini hanya mimpi suamiku, mengingat betapa bencinya dirimu padaku," jawab Yunita, kembali wanita cantik itu meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Mas sama sekali ga membencimu sayang, Mas hanya marah sedikit. Sebenarnya Mas juga ga tega, maaf ya calon ibu dari anak anaku. Mas akan menjaga mu sampai maut memisahkan sayang, kamu adalah wanita pertama dan akan menjadi yang terahir sebagai pemilik hati dan ragaku," ucap Robet kembali mendekap erat istri manisnya.


"Mas..."


"Hemm,"


"Apakah Mas belum pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya Yunita.


"Belum," jawab Robet jujur.


"Jadi ini juga yang pertama buat Mas?" tanya Yunita lagi agaknya dia masih sangat penasaran.


"Iya..." jawab Robet sambil menghembuskan nafas dalam dalam.


"Tapi kan Mamas duda!"


"Duda hanya statusnya Yank, nyatanya aku dan dia sama sama masih suci. Kan hari itu Mas udah cerita," ucap Robet kembali memainkan anak rambut istrinya.


"Iya Nita lupa, Mas..."


"Heemmm...."


"Ga kebayang kalau pak Yudha dan pak Deren tahu ini," ucap Yunita, seketika Robet mengangkat kepalanya.


"Jangan macem macem kamu!" hardik Robet, Yunita sangat paham dengan maksud suaminya, Yunita pun tertawa akan ini.


"Jangan bawa bawa mereka, mereka semua itu manusia laknat. Bisa hancur harga diri Mas kalau mereka sampai dengar," ucap Robet.


"Yang penting ada komisi buat tutup mulut," canda Yunita sambil memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya.


"Awas aja kalau mereka sampai dengar!" ancam Robet.


"Itu bisa di atur," Yunita pun makin berani menantang sang suami. Robet tak mau mengambil kesempatan langka ini, dia pun langsung menggelitiki perut istrinya dan memintanya berjanji untuk tutup mulut.


Robet hanya ga mau jadi bahan ghibahan para sahabatnya, biarpun mereka cowok mereka sangat ember jika menyangkut hal beginian.


Bersambung...


Like dan komen kalian tetap amunisi untuk semangat buat Emak..😘

__ADS_1


__ADS_2