HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
#HSBM Season 2 Salah Lagi


__ADS_3

Sesampainya di rumah Robet langsung membuka pintu mobil itu dan membantingnya sekeras mungkin. Tentu saja Yunita terkejut. Robet membuka paksa pintu mobil bagian kemudi di mana ada istrinya di sana.


Robet mengukung tubuh istrinya dengan kemarahan yang sulit untuk diartikan. Robet memaksa Yunita menatap matanya. Api cemburu terlihat kelas di sana. Ya Tuhan salah apa lagi aku, kenapa dia marah seperti ini, batin Yunita.


"Ingat baik baik wanita jal*ng, saat ini kamu masih istriku. Istriku !, jadi... jangan pernah mencoba menggoda laki laki manapun. Jangan membuatku semakin muak padamu!" bentak Robet tepat di wajah Yunita. Yunita hanya diam tak menjawab sepatah kata pun. Yunita hanya menatap sekilas wajah itu.


Robet mencengkeram kedua pipi Yunita dengan satu tanganya. Meski sakit Yunita tak mengeluh. Wanita ini terlalu kuat untuk menyembunyikan rasanya, Yunita sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun dia masih bertahan dengan kepercayaannya bahwa dia kuat. Bahkan setetes air matapun tak terlihat di matanya.


Robet semakin kesal karena tak ada reaksi perlawanan sedikitpun dari Yunita. Robet melepas kasar wajah Yunita, dan berteriak marah.


"Aaahhhgggg Sial !" teriak Robet sambil memendang ban mobil miliknya.


"Keluar kamu!" pinta Robet kasar. Yunita pun melepas seltbeltnya dan keluar dari mobil dan bersender di pintu mobil itu. Yunita masih bisa bersikap tenang dalam menghadapi kemarahan suaminya.


"Apa yang kamu katakan pada Sean ?" tanya Robet penuh emosi. Astaga apaka pria ini sedang cemburu, heh bodo amat jika seandainya iya, Batin Yunita. Yunita melipat tanganya seolah memberi jawaban pada Robet bahwa dia tak perduli dengan kemarahan suaminya.


"Saya tidak mengenal pria itu Pak!" jawab Yunita tegas, setegas saat dia menjawab pertanyaan Deren.


"Lalu bagaimana dia bisa menawarkan gaji dua kali lipat padamu, kalau kamu tidak merayunya?" tanya Robet masih dalam mode marahnya.


"Apakah saat Bapak membayar hutangku aku memintanya, tidak kan?" jawab Yunita kembali ke sikap tegasnya. Yunita sungguh mampu menjawab dengan baik pertanyaan pria bodohnya ini. Yunita masih bersikap tenang, tak ada sedikit pun sikap goyahnya. Robet menatap mata indah itu. Terlihat jelas ada luka di sana tapi Robet malu untuk mengakui itu.


"Aaahhhhgggg!" teriak Robet lagi. Dia pun masuk kedalam rumahnya, kembali dia membanting pintu dengan keras.


"Tinah!!" teriak Robet.

__ADS_1


"Cih...dasar manusia tak punya etika," gerutu Yunita. Yunita pun masuk kedalam rumah dan melihat Tinah lari tergopoh gopoh mendekati sang majikan.


"Saya Den!" jawab Tinah. Tinah adalah salah satu asisten rumah tangga dirumah pribadi Robet.


"Bantu wanita ini memberekan barang barangnya dan pindahkan dia di kamar bekas Mamat (mantan sopir pribadi Robet)!" suruh Robet dengan nada tingginya.


"Loh kenapa Den, non Vero mana?" tanya Tinah sambil clingukan mencari keberadaan gadis cilik yang biasa dia jaga.


"Tidak ada, dia sudah kukembalikan ke keluarganya. Makanya aku minta bibik bantuin pengasuh Vero ini pindah ke tempat yang seharusnya. Mengerti!" ucap Robet sehalus mungkin, perkataanya penuh penekanan sehingga berasa penuh arti yang menyakitkan.


"Baik Den!" jawab Tinah tanpa bertanya lagi.


Tinah pun melangkah menuju kamar di mana dulu Vero tinggal. Yunita pun mengikuti langkah Tinah.


"Tinah!" panggil Robet lagi, Tinah pun menoleh.


"Saya Den!"


Yunita tak mau menjawab apapun, karena pada kenyataanya memang di sanalah tempat yang seharusnya dirinya berada. Yunita terbiasa hidup susah ini bukan situasi yang buruk baginya.


"Tinah!" panggil Robet lagi.


"Saya Den!" jawab Tinah lagi.


"Posisi dia saat ini sama dengan kalian, jam makan dan istirahatnya juga sama dengan kalian. Dia juga merangkap jadi sopir. Pastikan semua mobil bersih, oia satu lagi, jangan ijinkan dia menyentuh pakaianku. Kamu dengar Tinah!" ucap Robet lagi. Ya Tuhan ada apa dengan pria bodoh ini. Apakah dia pikir dengan bertingkah kekanak kanakan seperti ini aku akan tahluk padanya, heh mimpi saja kau. Batin Yunita bergemuruh. Dia pun tak mau berbicara lagi, dia pun segera masuk kekamar dimana dia dulu pernah tinggal, mengemas semua barang barangnya tanpa tertinggal satu pun. Yunita juga membawa boneka bear kesayangannya.

__ADS_1


Tinah dengan sabar membatu Yunita memindahkan barang baranganya. Tinah masih belum berani bertanya kenapa majikanya terlihat marah pada wanita yang selalu berada di dekatnya. Bahkan dulu saat masih ada Vero mereka sering bercanda seolah mereka adalah teman dekat.


"Makasih ya Tinah," ucap Yunita.


"Sama sama Mbak Nita, " jawabnya.


Tinah membantu Yunita mengganti sprei bekas pakai itu, mengganti sarung bantal dan selimut itu.


"Mbak Nita aden kenapa ya tadi?" tanya Tinah, ahirnya dia berani juga menyuarakan isi hatinya.


"Ga tau saya Tin, mungkin Bapak galau kali Vero diminta sama keluarga kandungnya. Jadinya keselnya ama saya!" jawab Yunita. Bagi orang awam sepertin Tinah, jawaban itu ya sah sah saja.


"Bisa jadi ya Mbak," jawab Tinah dengan muka lugunya.


"Mbak Nita udah makan belum?" tanya Tinah.


"Belum Tin, kamu masak apa?" tanya Yunita.


"Tumis kubis sama ayam goreng mbak, mau Tinah ambilin?" tanya Tinah. Belum sempat menjawab Tinah sudah dipanggil sama Robet.


"Eh Mbak Nita kayaknya aden panggil deh, saya pergi dulu ya. Nanti kalau mau makan minta aja ama Yuli," ucap Tinah sambil berlari keluar mencari keberadaan bos nya.


Yunita temenung di dalam kamar yang bisa dibilang sempit ini. Kamar berukuran 3x 2 meter ini akan menjadi tempat melepas penatnya sampai misi membayar hutangnya berakhir.


"Sabar Ainur Rohmah, kamu pasti bisa. Buk doain Rohmah ya buk. Supaya ujian ini segera berakhir," ucap Yunita.

__ADS_1


Perutnya terdengar berbunyi, pertanda dia sangat lapar. Yunita pun membersihkan diriny kemudian melaksanakam kewajibanya, dan bersiap kerumah belakang untuk makan.


Bersambung...


__ADS_2