
Arumi kembali meringkuk di ranjang pasien yang membelenggunya. Dia hanya bisa memperhatikan asisten suaminya yang sibuk didepan layar laptop miliknya.
"Eemmm mbak boleh nanya ga?" tanya Arumi.
Asisten itu pun meletakan laptopnya dan beranjak dari sofa untuk menghampiri Arumi yang terbaring lemas.
"Boleh bu, silakan," ucapnya.
"Apa kamu sudah lama mengenal suamiku?" tanya Arumi penasaran.
"Tidak bu, saya tidak mengenal suami anda tapi bos saya adalah sahabat dekat suami Anda," jawab wanita itu.
"Oh, boleh tau siapa namamu?" tanya Arumi lagi.
"Maaf bu di tim kami tidak boleh memberikan informasi termasuk identitas diri," jawabnya.
Hah, suamiku berteman dengan gangster kah, batin Arumi.
"Ada ya mbak tim kayak gitu, apakah kalian gangster?" tanya Arumi lugu. Dia meremas selimutnya seperti orang yang ketakutan.
Wanita itu hanya tersenyum melihat tingkah konyol Arumi.
"Ibu tidak perlu takut pada kami, kami hanya memukul jika darurat," astaga wanita ini malah membuat nyali Arumi menciut.
"Oke oke, kamu boleh duduk," ucap Arumi gemetar wajahnya sangat menggemaskan kala itu.
Mas, lebih baik kamu yang sini dibanding asisten asistenmu yang menakutkan ini, batin Arumi. Ketakutan Arumi bertambah saat Kopri masuk kedalam ruangan mereka.
"Ada apa bang!" tanya wanita itu. Kopri hanya menjawab dengan berbisik pada wanita itu. Mereka sepertinya sedang mendiskusikan masalah yang sangat penting.
"Oke bang, bos on the way saya akan segera membereskan barang barang saya," jawab wanita itu. Sebelum pria bernama Kopri itu pergi dia sempat melepar senyumnya padaku. Menakutkan sekali bisa berada di lingkungan mereka. Suamiku kenapa kamu berteman dengan orang orang yang tak biasa ini. Batin Arumi terus bergejolak tak menentu. Bertanya dan terus bertanya tanpa ada yang bisa menjawabnya apa yang menjadi ganjalan dihatinya.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit Yudha pun datang. Yudha menerima sebuah amplop berwarna putih yang tadi diberikan Kopri pada asisten wanita itu.
__ADS_1
Mereka terlihat sangat akrab bahkan wanita itu menatap Yudha dengan tatapan yang bukan seperti atasan dan bawahan. Cih denganku saja sok formal sama suamiku kecentilan batin Arumi lagi. Sebenarnya mereka diskusi biasa saja sih cuma Aruminya aja yang kelewat cemburu, aneh.
Ingin rasanya Arumi melempar sesuatu kearah Yudha dan asistenya, tapi Arumi masih merasa waras dia pun memilih diam dan terus memperhatikan suami tampanya.
Asisten itu pun meninggalkan ruangan ini. Tinggalah sekarang Arumi dan Yudha mereka masih berdiam diri. Yudha terlihat masih cuek dan lebih asik dengan laptop dan ponselnya. Entah kenapa barang barang itu lebih menarik dibanding dirinya sekarang.
Arumi kesal ahirnya dia pun menghubungi Robet untuk datang ke Rumah sakit dimana dia dirawat. Ceritanya mau balas dendam buk, astaga Arumi kamu kekanak kanakan sekali.
Yudha membukakan pintu ketika pintu kamar rawat istrinya diketuk oleh seseorang. Yudha tersenyum saat membukakan pintu untuk orang tersebut.
"Hay bro, ngapain lo dimari gue kagak salah kamar kan," sapa Robet pada Yudha mereka saling berpelukan seolah sudah sangat akrab.
"Gue mana tau lo salah kamar apa kagak " jawab Yudha. Robet pun menatap keranjang pasien.
"Rasanya kagak bro, dia yang gue cari. Lah hubungan kalian apa?" tanya Robet bingung.
Yudha hanya tersenyum mendengar pertanyaan konyol sahabatnya.
"Rum, jangan bilang kalau chef kece ini laki elo!" selidik Robet, Arumi hanya diam menatap sebel kearah Robet.
"Gila gila, gue bisa gila dengan ini." Robet gemes dengan kenyataan yang dihadapinya. Arumi wanita yang pernah dikaguminya dan kini menjelma jadi sahabatnya ternyata dia adalah istri teman karibnya.
Robet menjatuhkan tubuhnya disofa dimana Yudha duduk. Yudha hanya tersenyum melihat kekonyolan sahabatnya
Astaga Arumi kamu salah besar ternyata Robet kenal dengan Yudha. Bahkan mereka sahabatan. Arumi malah kesal mengetahui fakta bahwa Robet pria yang hendak diajaknya membuat kecemburuan suaminya malah huff menyebalkan.
"Bro, jangan bilang Deren ke Samarinda lagi bantuin elo?" tanya Robet, Yudha mengangguk menghiyakan.
"Sumpah gue ga nyangka anj*y!" umpat Robet. Yudha kembali tersenyum.
"Gimana perkembangan kasus elo bro, udah ada kemajuan?" tanya Robet.
"Udah, Alhamdulilah," jawab Yudha sambil menyerahkan amplop berwarna putih itu pada sahabatnya. Robet pun membaca dengan seksama.
__ADS_1
"Syukurlah gue ikutan senang, oia bokap nanyain no, elo kenapa kagak pernah main hah. Jadi kan lo ikutan event itu?" tanya Robet pelan, Arumi hanya mendengarkan obrolan dua sahabat yang lagi reonian itu.
"Belum sempet bro, masih kesana kemari gue," jawab Yudha.
Ingin rasanya Yudha bertanya bagaimana ceritanya sahabatnya ini mengenal istrinya. Tapi ada Rum Yudha takut Rum akan menilai dia terlalu ikut campur urusan pribadinya.
Yudha diam, begitupu Arumi. Robet menangkap mereka berdua masih marahan. Astaga kalian terlihat seperti ABG saling cinta tapi jaim.
Dasar Robet pria jahil ini pun langsung mengeluarkan jurusnya untuk membuat keduanya semakin terbakar cemburu.
"Bro, lo inget ga Stevani?" pancing Robet, Robet tau dong sejarah percintaan Yudha secara mereka sudah bersahabat lama. Jauh sebelum Arumi mengenal Yudha. Saat Yudha masih menjadi asisten chef papinya Robet di Lombok (Dibahas di novel IMPIAN DEKA ya geng).
"Ingat," jawab Robet, aha kena deh ni.
"Doi makin sexy bro, nanyain elo terus no ntar malem samperin yuk!" ajak Yudha.
"Boleh," jawab Yudha. Mendengar jawaban suaminya ingin rasanya Arumi menjabut selang infus yang menancap ditanganya dan kabur dari hadapan kedua pria yang menjengkelkan ini.
"Oke, gue calling doi ya. Pasti Vani bakalan seneng banget ketemu pujaan hatinya hahahaha, lumayan makan gratis," goda Robet. Robet melirik keranjang Arumi terlihat wanita itu menatapnya penuh permusuhan. Tapi Robet tak perduli dia malah semakin suka membakar api cemburu yang ada dihati istri sahabat ini.
"Sori bro gue ga bisa lama lama, gue doain wanita cengeng lo ini cepet sembuh ye," ucap Robet sambil menjabat tangan sahabatnya.
"Amin," jawab Yudha singkat.
"Jangan lupa ntar malem ya, Vani udah jawab bisa ni," ucap Robet lagi. Kalian pasti tau kan betapa kesalnya Arumi. Dasar pria gila semua sama aja, umpatnya dalam hati.
Robet menghapiri Arumi diranjangnya dan berpamitan seolah dia tak memiliku salah apapun.
"Neng, ntar malem abang pinjem suamimu ya buat cari makan gratis," goda Robet, tentu saja Arumi emosi.
"Bodo amat!" bentaknya.
"Uluh uluh sok sok an marah katanya ga cinta, mau pisah ngapain marah," astaga Robet kamu ember sekali. Yudha hanya bersikap tenang toh itu memang kenyataan yang sekarang sedang mereka hadapi bukan.
__ADS_1
Robet makin menikmati cinta dalam diam diantara kedua sahabatnya ini. Heemmm terusin aja makin seru rasanya bikin kalian semakin salah paham. Semakin kalian JAIM semakin aku suka dengan ini, batin Robet konyol.
Bersambung...