
"Apa kau mencintai cucuku sayang?" tanya Oma Rose, Yunita menatap teduh mata wanita tua itu. Yunita takut kejujurannya tidak akan diterima baik oleh Oma dari suaminya ini, seperti ibu mertuanya.
"Kau tak usah takut pada Oma anaku, Oma tidak seperti ibu mertuamu yang juga bodoh itu," ucap Oma Rose meyakinkan Yunita agar berani jujur.
"Apa Oma marah jika saya bilang saya mencintainya," jawab Yunita jujur.
Oma Rose tersenyum mendengar jawaban Yunita.
"Tentu saja tidak sayang, bagaimana Oma marah pada wanita baik hati sepertimu hah. Oma yakin cintamu tulus padanya putriku. Sayangnya pria bodoh itu telah buta mata hatinya," jawab Oma Rose geram di akhir.
"Berapa hutangmu padanya?" tanya Oma Rose sambil menatap mata Yunita. Yunita melongo tak percaya dengan pertanyaan yang barusan dia dengar.
"Kau tak usah takut, Oma hanya mau memberi pelajaran pada pria bodoh itu. Biar matanya terbuka lebar, memangnya hanya uang bisa bikin seseorang bahagia," ucap Oma Rose geram. Yunita masih bingung dengan apa yang dipikirkan wanita tua di depanya ini.
"Maksud Nyonya?" tanya Yunita.
"Kau mau ku marah juga hah, kau ini bisa memimpin pasukan segitu banyaknya. Tapi mikir urusan cinta aja ga becus. Ambil surat perjanjianmu dengan pria bodoh itu, Oma mau tau seberapa hebatnya dia tanpa wanita yang dia cintai," ucap Oma Rose geram. (Aduh Yunita kamu membangunkan singa betina gengs, sudah sana ambil surat perjanjianmu dari pada nanti kamu dijadiin rendang bisikan otor ditelinga Yunita).
Yunita tak menjawab lagi, dia pun segera beranjak dari duduknya dan mengambil surat perjanjian yang diminta oleh Oma Rose.
"Ini surat perjanjian saya dengan mas Robet Nyonya," ucap Yunita sambil menyerahkan surat perjanjianya dengan Robet. Sedangkan surat pelunasan hutangnya dengan mr. Zen sudah dibawa oleh Kopri.
Oma Rose membaca dengan teliti surat perjanjian itu.
"Jadi dia akan melepaskanmu jika hutangmu lunas?" tanya Oma Rose lagi. Mata wanita itu masih sangat jeli melihat kata demi kata yang tertera di sana.
"Iya Nyonya," jawab Yunita.
"Heeemmm, kita lihat apakah dia serius dengan ini," ucap Oma Rose. Yunita masih diam dan menunggu keputusan yang akan diberikan oleh wanita tegas ini.
"Apakah kalian serius dengan poin ini?" tanya Oma Rose sambil menunjuk poin paling unik menurutnya.
"Yang mana Nyonya?" Yunita malah balik bertanya sambil membaca poin itu.
"Saya serius Nyonya, tapi mas ga kayaknya," jawab Yunita pelan. Oma Rose yang mendengar jawaban unik itu seketika mendapatkan ide yang menurutnya super brilian.
"Maksudnya enggak?" tanya Oma Rose berusaha memperjalas jawaban Yunita.
"Tadi malam mas hendak memaksa saya untuk berhubungan badan dengannya," jawab Yunita lugu, Oma Rose terlihat geram dan menatap tajam kearah Yunita.
"Heh... dia bukan hanya bodoh tapi juga mesum. Perjanjian dibuat sendiri tapi juga hendak dilanggar sendiri. Lihat saja hadiah apa yang akan Oma berikan padanya," ucap Oma Rose.
"Maksud Nyonya?" kembali Yunita menunjukan kebodohannya.
__ADS_1
"Kau bisa tidak jangan panggil nyonya nyonya, panggil saya Oma. Dasar gadis ga tahu aturan. Nyonya nyonya kau pikir aku majikanmu. Dasar bodoh, sama saja kau dengan suamimu!" ucap Oma Rose dengan nada mulai meninggi. Ya Tuhan ku kira dia wanita lemah lembut, ternyata seperti singa betina beneran, batin Yunita.
"Siap Nyonya siap...eh Oma," jawab Yunita menurut.
"Apa dia suka mencuri ciuman darimu?" tanya Oma Rose, memastikan analisanya. Yunita tersipu malu, berarti apa yang dipikirkan Oma Rose tak salah.
"Oke kau tak perlu jawab, Oma sudah tahu jawabanya. Pokoknya nanti apapun yang Oma ucapkan kau tidak boleh melawan, ikut saja apa yang Oma ucapkan. Mengerti!" ucap Oma Rose memperingatkan.
"Siap Oma!" jawab Yunita tegas. Mereka diam sejenak, Oma Rose mengeluarkan buku cek dan menulis sesuatu di sana. Yunita tak tahu harus berbuat apa yang jelas saat ini yang dia tahu wanita yang ada di depannya ini hendak mengambil kendali atas jalan hidupnya.
Hari semakin malam Yunita pun berpamitan untuk memasak makan malam untuk mereka. Yunita hendak memasak di dapur belakang, tetapi Oma Rose melarangnya. Oma Rose meminta Yunita tak menghiraukan peraturan yang di buat oleh Robet. Oma Rose menjelaskan pada Yunita bahwa seisi rumah ini juga hak nya.
Oma Rose duduk di sofa ruang tamu rumah Robet menunggu masakan Yunita siap, disamping itu dia juga menunggu kedatangan cucu kebanggananya yang saat ini sudah mampu menyulut api peperangan dalam dirinya.
Tak lama setelah masakan Yunita siap terdengar deru mobil dari luar. Oma Rose tahu jika yang datang adalah targetnya.
Oma Rose bersiap menyambut kedatangan Robet dengan senyum penuh kasih sayang.
"Hay Oma kapan datang?" tanya Robet sambil mencium pipi dan memeluk Oma kesayangannya.
"Oma sudah di sini cukup lama, kenapa kau tak pulang pulang hah?" tanya Oma Rose dengan nada lembut seperti biasa.
"Banyak kerjaan di kantor Oma, oia Oma udah makan belum?" tanya Oma Rose.
"Aku mandi ya Oma," ucap Robet berpamitan, tak luoa Robet juga menghampiri Yunita di dapur. Dia berpura pura mesra dihadapan Omanya, mencium mesra pipi istrinya.
"Jangan macam macam kamu," ancam Robet pada Yunita, Yunita memberikan angukkan pertanda dia menyetujui permintaan suaminya.
Robet pun langsung pergi ke kamar untuk membersihkan dirinya, bodohnya dia sama sekali tak memiliki firasat apapun tentang ini.
Robet sudah merasa segar, dia pun kembali ke meja makan bergabung dengan Yunita dan Omanya.
"Bagaimana kantor, apakah lebih baik atau makin keruh saat dipimipin papimu?" tanya Oma Rose.
"Lumayan Oma, harga saham mulai naik. Keadaan udah mulai stabil," jawab Robet. Yunita mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Robet hanya melirik sekilas tanpa mengucapkan terima kasih. Setelah melaksanakan tugasnya Yunita pun mundur dan berdiri sejajar dengan ketiga temannya.
Kali ini Oma Rose tak mempermasalahkan itu, karena dia juga malas ngedrama bareng cucunya.
Yunita hanya tersenyum kepada dua rekannya yang sudah mulai tahu rahasia yang dia simpan selama ini
"Sabar ya Mbak Nita," ucap Tinah pelan.
"Insya Allah Tin," jawab Yunita pelan.
__ADS_1
"Kenapa kamu nikah ga kasih tahu Oma?" tanya Oma Rose mulai percakapanya.
"Maaf Oma, pernikahan kami hanya...?" jawab Robet sambil melirik Yunita.
"Hanya apa?" tanya Oma Rose sedikit geram. Sesaat Robet diam, dia ragu untuk menjawab tapi tatapan mata Yunita memberinya signal untuk berkata jujur.
"Pernikahan kami hanya sebuah perjanjian Oma," jawab Robet pelan, sebenarnya dia tahu bahwa ucapannya menyakiti Yunita. Yunita sudah terlihat pasrah akan hal ini. Sesuai dengan apa yang Oma Rose perintahkan.
"Perjanjian, Heemmm oke," jawab Oma Rose sambil menatap kesal pada cucu tak tahu diri ini. Makanan yang tadinya terasa sangat enak dimulutnya kini tiba tiba berubah menjadi hambar.
"Yunita..." panggil Oma Rose.
"Saya Oma," jawab Yunita sambil berjalan menuju Omanya. Yunita pun berdiri disamping Oma Rose dengan temang.
"Oma ingin dengar dari kalian berdua, sebenarnya perjanjian seperti apa yang menyelimuti pernikahan kalian?" tanya Oma Rose.
Robet diam begitu pun Yunita. "Kenapa kalian diam, Yunita buka mulutmu atau mau Oma paksa kau!" hadik Oma Rose mulai geram dengan kedua sejoli yang terlihat bodoh baginya.
"Saya punya hutang pada tuan muda Oma," jawab Yunita mulai mau menyuarakan kenyataan yang dihadapinya.
"Berapa?" tanya Oma Rose lagi.
"Hampir seratus juta Oma," jawab Yunita, padahal Oma Rose sudah menelitinya tadi.
"Oke, lalu perjanjian apa yang kalian sepakati?" tanya Oma Rose mulai merendahkan nada suaranya.
"Tuan muda akan melepaskan saya jika saya sudah melunasi seluruh hutang saya Oma," jawab Yunita apa adanya. Robet masih diam karena jujur bukan itu yang dia ingin kam sekarang.
"Apa benar itu Robet?" tanya Oma Rose. Robet menatap Yunita, Yunita pun sama. Oma Rose tak menyianyiakan kesempatan ini. Dia pun kembali melanjutkan rencananya.
"Oke...Oma sangat tidak setuju jika di dalam pernikahan ada sebuah perjanjian. Apa lagi itu berhubungan dengan uang. Oma akan menyelesaikan masalah kalian. Yunita kemasi barangmu sekarang dan kembalilah pada keluargamu. Jangan khawatir hutangmu akan menjadi tanggungan Oma. Anggap saja ini adalah bentuk rasa terima kasih Oma karena kamu pernah menyelamatkan nyawa Oma. Pergilah dari genggaman pria bodoh ini, kamu berhak bahagia cucuku," ucap Oma Rose, Yunita menatap teduh mata wanita itu. Dia sama sekali tak menyangka bahwa ketulusan akan pekerjaanya akan dibayar oleh sesuatu yang tak pernah diduganya. Robet tak menduga jika Omanya akan melakukan ini padanya.
"Baik Oma," jawab Yunita, kemudian dia pun undur diri untuk mengemasi barangnya.
"Oma dia istriku ," jawab Robet berusaha bernegosiasi dengan keputusan.
"Istri kau bilang hah. Suami macam apa kamu yang menyiksa istrinya lahir batin hah. Masih berani kau sebut dia istri!" ucap Oma Rose dengan dana tingginya.
"Maafkan Robet Oma..." pinta Robet memohon, sayangnya Oma Rose tak mendengarkan rengekan Robet dia berdiri dan menunggu kedatangan Yunita di ruang tamu.
Bersambung...
CA:"Jangan cuma jadi pembaca gelap ya gengs, partisipasi kalian sangat berarti buat emak.Like dan komen adalah hadiah terbaik dari kalian. Terima kasih😘."
__ADS_1