HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Bukti Ketulusan Yudha


__ADS_3

Ditya dan Mawar tersenyum renyah saat menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Ditya langsung menghampur kegendongan Abinya, Mawar pun tak mau kalah.


Putri rewel satu ini sangat menggemaskan jika berebut Abi dengan abangnya.


"Bi, bi ndong (gendong)," pinta Mawar sambil menarik tangan Abinya.


Ditya yang super iseng pun melarang dan merebut tangan Abinya. "Jangan bi, Abi buat abang aja," goda Ditya, Alhasil Mawar menangis dan mengadu pada bundanya.


"Nda Abi nda," ucap Mawar dalam tangisnya. Menunjuk pada Abi dan Abangnya yang iseng padanya.


"Ooo chayangnya Bunda, udah dek cup jangan nangis. Biarkan saja dua pria menyebalkan itu. Sini adek sama bunda," ucap Arumi berusaha membujuk putri cantiknya.


"Bang ratu drama ama princes tukang rewel bersatu bang," bisik Yudha.


"Biari aja bi, kita cuekin aja," balas Ditya dengan suara sedikit keras. Mawar yang mendengar ejekan abang nya tentu saja mengeraskan tangisanya. Membuat Arumi geram.


"Abi sama Abang kenapa sih, issh suka bener godain putri cantiknya Bunda ni," ucap Arumi sambil memeluk putri cantiknya. Ditya dan Yudha malah tertawa bahagia dengan kelucuan adeknya. Tentu saja Arumi gemas dipukulnya paha suaminya yang menjengkelkan ini.


Yudha mengengam mesra tangan yang memukulnya manja tadi. Rasanya sangat bahagia jika setiap hari bisa berkumpul dan bercanda sepeti ini.


Andai goncangan itu tak datang pasti tak akan pernah ada luka dihati mereka. Tapi sisi baiknya jika badai itu tak datang mungkin hubungan mereka akan terasa biasa biasa saja dan monoton.


Ahhh...indahnya memaafkan.


.....


Malam semakin larut, Mawar dan Ditya sudah terlelap dikamar anak anak. Arumi pun kelaur dari kamar putra putrinya dan kembali kekamar dimana suaminya berada.


Yudha masih sibuk dengan beberapa kertas dan peralatan kerjanya. Arumi menghampiri suami tercintanya dan bertanya.


"Masih banyak kerjaannya Bi?" tanya Arumi. Wih tumben istri gue mau manggil abi, biasanya mas, mamas. Menjengkelkan sekali kalau dipanggil begitu batin Yudha.


"Masih ni, Bunda kalau mau bobo duluan ga papa. Besok masih ikutan kan nanti ngantuk, besok Masternya bukan Abi lo?" balas Yudha. Arumi tersenyum mendengar ucapan suaminya. Jika serius seperti ini dia terlihat sangat tampan.

__ADS_1


"Emang besok siapa yang bakalan kasih materi plus tugasnya Bi ?" tanya Arumi sambil duduk manja dimeja kerja suaminya.


"Chef Juna," jawab Ditya.


"Serius Bi chef Juna besok yang kasih materi, asik!!" seru Arumi sambil tertawa dan menggosok gosokan tanganya bahagia. Seolah hendak bertemu pujaan hati saja. Yudha memperhatikan istrinya dengan tatapan emosi rupanya.


"Eh, Abi ngapa mukanya begitu?" tanya Arumi.Yudha melepaskan bolpoin dari mulutnya dan berkata, "Lupa ya yang tempo hari Abi lakukan?" tanya Yudha. Seketika keberanian Arumi langsung menciut. Dia pun memilih menghindar. Pelan tapi pasti beringsut menghidar dari depan suaminya.


Arumi langsung berlari naik keranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Tutup aja rapetin, Bunda kira Abi ga bisa gitu!!" seru Yudha. Arumi tak perduli dia terus saja sembunyi didalam selimut tebalnya.


"Kalau ga dibuka tu selimut Abi paksa ni," ancam Yudha. Didalam selimut itu Arumi pun mengumpat kesal. Dia pun menuruti permintaan suaminya untuk keluar dari selimut.


"Abi jangan ya, Bunda takut," ucap Arumi. Yudha pun berjalan menghampiri ratu dramanya.


"Takut apa?" tantang Yudha.


"Takut Abi paksa Bunda lagi," jawab nya lugu. Dasar ratu drama ekpresinya aja begitu bilang takut.


"Loh kenapa Bi, kan Bunda ikut audisinya aja susah Bi, masak ya Abi ga kasih, tega banget Abi ni," ucap Arumi memohon.Mulutnya dimonyong monyongin seolah hatinya kecewa.


"Matanya jelalatan gitu lihat cowok. Lagian apa tampanya si Juna itu. Manusia kaku tanpa senyum aja digilai," Jawab Yudha sambil mengaca di lemari istrinya.


"Justru itu Bi yang bikin doi makin mempesona, dimata kami kaum hawa. Bayangin Bi, dia ga senyum aja tampan apa lagi kalau senyum bisa meleleh hati adek bang," ucap Arumi lagi sambil mengelus dadanya. Yudha menghentikan aktifitasnya dan menatap penuh emosi kewajah istrinya.


Arumi yang sedari tadi senyum senyum seketika sadar akan kemarahan suaminya. Arumi pun menutupi separo wajahnya agar tawanya tak terciduk oleh Yudha.


Yudha berkacak pinggang kesal, bagaimana tidak istri yang dikenalnya pendiam bisa bertingkah seperi ABG yang kasmaran. Saat melihat dan menengidolakan laki laki lain.


"Kamu suka ama si Juna sialan itu?" tanya Yudha emosi.


"Enggak Bi, cuma ngefans aja ngefans," jawab Arumi.

__ADS_1


"Kamu tau Juna udah mau kawin?" tanya Yudha lagi, masih dengan api cemburunya yang menggebu.


"Tau, kan bunda ngikutin perkembangan berita tentang dia Bi," jawab Arumi jujur. Astaga Arumi kamu oon sekali. Ga tau apa emosi ni si singa udah berada dipuncaknya.


"Terus kamu suka?" tanya Yudha lagi.


"Suka dia kan tampan Bi," astaga Arumi. Yudha tak tau harus ngomong apa lagi. Dia langsung masuk kekamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air shower yang dingin.


Yudha menumpahkan kemarahanya disana, Arumi hanya tertawa melihat kecemburuan tak jelas Yudha.


Yudha keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Duh suamiku kamu bikin hati adek bergetar.


Arumi menghampiri suami dengan menggunakan ligerly warna merah yang menggoda. Arumi memeluk manja tubuh kekar suaminya.


"Abi marah?" tanya Arumi. Yudha diam tak menjawab.


Arumi pencium harum punggung suaminya. Yudha masih diam, dia terus saja melanjutkan aktifitasnya tanpa kata.


"Suami tampanku ini marah kah," rayu Arumi, Yudha masih tak mau menjawab.


Arumi membalikan paksa tubuh Yudha hingga menatap manis kearahnya. Arumi menundukan wajah tampan itu dan mulai menciumi bibir milik suaminya.


"Kamu adalah pemilik utuh cintaku suamiku, mana mungkin aku menghianatimu heemm," ucap Arumi sambil terus mengecup dan mengecup bibir Yidha yang masih terkunci itu.


"Abi ga mau bunda begitu," ucap Yudha.


"Iya sayang, ga akan lagi," balas Arumi.


"Kamu miliku istriku, aku ingin hanya aku yang ada dihatimu. Aku mau egois soal ini," ucap Yudha. Arumi tersenyum.


"Apakah aku boleh seperti itu juga suamiku, bolehkah aku serakah kali ini. Bolehkah mulai hari ini aku menjadi pemilik utuh hatimu heemm," balas Arumi, Yudha pun membalas ucapan istrinya dengan serangan tak terduga.


Arumi sudah bisa memahami jawaban suaminya dari tingah arogan yang membahagiakan ini. Peringatan pernikahan mereka kali ini menjadi peringatan yang paling membahagiakan.

__ADS_1


Api cinta antara Yudha dan Arumi kembali bergelora. Semoga tak ada lagi kesalahpahaman antara kalian ya mbak Rum mas Yudha..


Bersambung...


__ADS_2