
Dokter telah memeriksa Desi, dengan setia Arumi menjaga rivalnya. Deren dan Deka menunggu mereka di depan ruang pemeriksaan.
Terdengar ponsel Deren bergetar, Deren pun langsung meminta ijin pada Deka, untuk mengangkat panggilannya. Deren memilih menjauh dari Deka untuk mengangkat panggilan itu.
"Ya," jawab Deren.
"Bos, target sudah ditemukan. Beliau sekarang sedang dirawat disalah satu rumah warga di daerah ini. Beliau dalam keadaan cukup memprihatinkan, sepertinya mengalami patah tulang. Tapi beliau masih bisa diajak berkomuniskasi, beliau meminta keberadaan beliau dirahasiakan dari siapapun termasuk istrinya," jawab anak buah Deren.
"Kenapa begitu?" tanya Deren.
"Tidak tau bos," jawabnya.
"Ini kami sedang membuat tandu untuk membawa beliau keluar dari dusun ini," jawab Anak buah Deren.
"Oke terimakasih, jangan lupa berikan tanda terimakasih untuk mereka," pinta Deren.
"Siap bos," jawabnya.
"Syukurlah, Tuhan terimakasih," ucap Deren. Tak ada yang lebih baik dari berita ini bukan. Deren sangat menyayangi Yudha karena dulu orang tua Yudha juga sangat menyayanginya. Dia masih ingat betul saat kedua orang tuanya meninggal kakung Sarjonolah dan Uti Tika yang selalu memberinya makan kala itu. Mengingatkanya untuk selalu ke greja dan kadang kadang juga membayar sekolahnya.
"Kamu bawa kerumah sakit, kasih tau alamatnya nanti aku kesana," jawab Deren.
" Siap bos. Tapi Ingat ya bos, beliau ga mau siapapun tau soal ini, saya sudah berjanji," ucap anak buah Deren.
"Heemmm,"
__ADS_1
Deren kembali ke ruang dimana Desi dirawat.
"Bang, udah selesai belum?" tanya Deren.
"Belum, Rum juga masih ada didalam," jawab Deka.
"Bang, ane pergi dulu ya. Ada kerjaan mendesak bang," pinta Deren.
"Iya, lo hati hati ya kabarin kalau ada sesuatu," jawab Deka.
"Siap bos," jawab Deren.
Deren pun langsung meluncur kelokasi dimana Yudha sekarang berada. Deren merasa sangat bahagia bisa menemukan sahabatnya dalam keadaan selamat.
Anak buah Deren sangat kesulitan membawa Yudha keluar dari perkampungan itu. Mengingat medan yang harus mereka lalui sangatlah terjal dan tak bisa di masuki mobil.
Deren menyambut kedatangan sahabatnya dengan deraian air mata.
Deren membantu anak buahnya memasukan Yudha beserta tandunya kedalam mobil itu.
"Anj*y diem lo kampret, ngapain nangis orang ane kagak kenapa napa sih," ucap Yudha dalam senyumannya seperti biasa.
Deren tak menjawab dia langsung memeluk tubuh Yudha dengan tangisan yang makin menjadi.
"Preman nangis malu maluin ane aja lo, kagak malu apa yak dilihatin ama anak buah lo. Harga diri lo ancur beg*k," umpat Yudha. Deren tak perduli dia sangat bahagia. Dia pun mengelap air matanya dan tersenyum.
__ADS_1
"Tutup mata kalian brengs*k," umpat Deren pada semua anak buah yang mentapnya. Pria yang dikenal berdarah dingin ini tentu saja ga rela jika harga dirinya hilang.
Yudha dan beberapa orang orang disebelahnya pun tertawa. "Diem atau mau ane patahin rahang kalian satu persatu!!" hardik Deren lagi.
Seketika semuanya diam, tak dipungkiri bahwa dihati mereka masih saja tertawa.
Mobil yang membawa Yudha pun langsung meluncur kerumah sakit. "Kenapa lo ga nelpon ane bro, lo tau kita semua kayak orang gila," ucap Deren. Yudha hanya tersenyum.
"Gimana caranya nelpon, lo tanya aja ama mereka listrik ada kagak disana," ucap Yudha.
"Astaga miris banget yak," ucap Deren.
Sedari tadi Deren tak melihat Yudha bergerak, hanya matanya saja yang terus mengikuti kemana arahnya.
"Yud, lo kok ga gerak dari tadi?" tanya Deren. Yudha tersenyum pelan.
"Nikmat gerak ane udah diambil ama yang punya bro," jawab Yudha singkat. Deren tertegun, matanya kembali berkaca kaca. Deren tak tau harus menjawab apa.
Deren kembali menangis dan menangis, Yudha malah tersenyum geli.
"Ane ga tau harus ngomong apa Yudh, lo luar biasa," puji Deren.
"Luar biasa apanya bro, ga bisa apa apa gini kok luar biasa," jawab Yudha pelan. Tak dipungkiri bahwa saat ini Yudha juga terluka. Bukan hanya fisiknya tapi juga hatinya.
Yudha memang selalu bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan. Tak mudah bagi orang orang disekelilingnya untuk paham dan mengerti apa yang dia rasakan.
__ADS_1
Bersambung...