
Yudha kembali kekamar dimana anak istrinya berada. Yudha sudah bertekat akan berterus terang dengan apa yang menjadi ganjalan dihatinya.
Yudha terkejut saat melihat Arumi menangis sambil menggendong putrinya.
"Rum ada apa, kenapa kamu nangis?" tanya Yudha sambil melangkah mendekati istrinya.
"Jangan sentuh Rum, Rum benci sama mas!" teriak Arumi sambil mendorong tubuh Yudha. Yudha yang tidak siap dengan serangan itu pun langsung terjatuh.
"Ada apa Rum, mas ga ngerti!" ucap Yudha.
"Lihat ini mas lihat, mas masih mau boong apa lagi hah. Bilang sama Rum kalau mas udah ga ada hubungan sama wanita itu. Bilang sama Rum kalau bayi itu bukan anak mamas. Lihat akte dan tanda tangan itu lihat mas," teriak Arumi. Selama hampir sembilan tahun Yudha mengenal Arumi baru kali ini Yudha melihat wanita ini marah dan berteriak padanya. Bahkan Arumi berani melempar handphone itu kearah Yudha. Untung dengan sigap Yudha menghindar jika tidak habislah kepalanya.
"Rum, mas bisa jelasin sayang ini semua ga bener!" ucap Yudha masih berusaha meredam emosi istrinya.
"Apa yang mau mamas jelasih ke Rum ha, mas mau bilang kalau anak itu bukan anak mamas, Akte itu buktinya mas, disurat kuasa itu juga ada nama anak itu. Bahkan dengan suka rela mamas menyerahkan semua hak anak anak Rum untuk anak wanita jahat itu. Kenapa mas kenapa, mas tega sekali sama kami. Kenapa bukan hanya Rum yang mas sakiti. Kenapa harus anak anak Rum juga yang mas hianati. Kamu jahat mas, Jahat," ucap Arumi sambil menangis menjadi jadi bahkan Mawar yang ada digendongan Arumi pun ikut menangis.
__ADS_1
"Mas bisa jelasin Rum, bukan seperti itu realitanya," ucap Yudha sambil berjalan mendekat ingin mengambil Mawar untuk menenangkanya.
"Apa yang ingin mas jelaskn ha, sekali penghianat tetap penghianat. Rum aja yang terlalu bodoh percaya begitu saja sama mas. Harusnya Rum ga buka pintu rumah Rum buat mas, Mas ga pantas disebut suami mas ga pantas di sebut Abi. Keluar mas keluar aku membencimu," sepertinya Desi berhasil menyulut kembali perasaan benci Arumi pada Yudha.
Perkataan Arumi tentu saja membuat Yudha shock, dia sudah sangat berusaha menjadi lebih baik. Membuktikan pada dunia bahwa dia telah berubah, bahwa dia sangat mencintai keluarga kecilnya.
"Rum kamu salah paham Rum, percayalah," Yudha masih berusaha meredam emosi Arumi.
"Sudah lah mas, jalan terbaik untuk kita memang perpisahan. Rum sudah ga bisa percaya sama mas. Rum ga butuh orang sepertimu untuk membesarkan anak anak Rum, dan anak anak Rum juga ga butuh bapak penghianat sepertimu." ucap Arumi dengan emosinya Arumi pun mengambil dompetnya dan mengembalikan dua card yang pernah Yudha berikan padanya.
"Ini Rum kembalikan semua yang mas kasih buat kami, mulai hari ini kami ga butuh apapun dari mas. Rum masih sanggup kasih mereka makan, berikan saja semua hartamu pada wanita ular itu. Pergilah mas jangan pernah kembali lagi. Sudah cukup kamu memberikan luka pada kami, Mari kita ahiri semua sampai disini," ucap Arumi.
"Apa yang salah mas hah, masih mau bilang kalau mas cinta ama Rum, sama anak anak Rum bulshit mas, sebaiknya mas pergi. Rum haramkan mas masuk kedalam Rumah ini. mas dengar," teriak Rum lagi.
"Jaga ucapanmu Rum, kamu tak mengenalku!" tantang Yudha.
__ADS_1
"Kurang menjaga apa Rum selama ini mas, Run mencintai mas dengan segenap jiwa raga yang Rum miliki. Nyatanya apa yang Rum dapat hah. Kejujuran mas itu yang seolah mencabik harga diri Rum. Kurang tulus apa Rum sama mas. Mas masih ingin Rum jaga, enak saja memangnya siapa anda berani menyuruh Rum selalu menjaga. Ngaca mas ngaca memangnya apa yang mas lakukan untuk membuat kami bahagia, katakan," sepertinya Arumi tak bisa mengalah kali ini. Kebencian nya pada Yudha serasa sudah memuncak.
"Aku hanya melakukan kesalahan sekali Rum. Dan aku sudah berubah tapi sayangnya perubahanku tak berarti bagimu. Aku memang tak pantas disebut suami Rum, kamu benar aku juga ga pantas disebut abi, lakukan apa yang ingin kamu lakukan, mas rela mas hanya berharap kamu tak akan pernah menyesal dengan keputusanmu," ucap Yudha pelan, Yudha terlihat hancur. Dia pun tak ingin menjadi pecundang dimata Arumi, dengan harga diri yang masih tersisa ahirnya Yudha memutuskan untuk meninggalkan kediaman Arumi.
Arumi menangis menjadi jadi sesaat setelah kepergian Yudha. Hatinya lebih hancur dibanding pertama kalinya luka itu muncul. Sekali lagi kehadiran Yudha telah memberinya luka baru. Arumi memaki, Arumi marah, Arumi berteriak dan membuang semua barang yang ada didalam kamarnya.
Mawar hanya menangis saat mengaksikan kegilaan ibunya. Arumi berjanji dalam hati akan membalas semua perbuatan Yudha padanya dan anak anaknya.
"Awas kamu mas, lihat apa yang akan Rum lakukan pada kalian. Cukup sudah kalian berdua menginjak harga diri Rum. Tertawa aja terus kalian tunggu saatnya dimana Rum akan membuat kalian menangis dan berlutut dihadapan anak anak Rum," ucap Arumi sambil menghapus kasar air matanya
......
Yudha kembali hancur, Yudha kembali ketitik terendah dimana dia pernah merasakan ini. Bahkan ini lebih parah. Yudha tak menyangka bahwa Arumi wanita lemah lembut itu tega mengatakan hal yang tak disangkanya.
Arumi bukan hanya menyakiti perasaanya tapi juga menginjak harga dirinya. Bahkan Arumi tak segan segan meragukan identitasnya.
__ADS_1
Yudha duduk termenung dikamar hotel yang disewanya, saat ini Yudha masih belum bisa berfikir jernih dan melakukan apapun untuk membuktikan bahwa dirinya tak bersalah.
Bersambung...