
Mr. Zen tak seperti penjahat pada umumnya, dia sangat pandai bermain petak umpet rupanya. Setelah di ketahui berada di Palembang ternyata dia sekarang sedang asik bermain dengan kekasih gelapnya di kawasan perumahan elit di Samarinda.
"Bos ada kabar mengejutkan!" ucap Kopri melaporkan apa yang dia ketahui tentang mr. Zen.
"Apa itu?" tanya Deren masih santai dan menaruh kakinya sejajar dengan meja yang ada di depannya.
"Ternyata Zen kepar*t itu ada main dengan nyonya Marta Bos, usut punya usut mereka pernah pacaran saat masih sekolah," ucap Kopri.
"CLBK (cinta lama bersemi kembali) maksudmu?" tanya Deren.
"Sepertinya begitu Bos!" jawab Kopri.
Deren diam, Deren masih memikirkan langkah apa yang harus dia ambil. Dia tak mungkin gegabah karena ini menyangkut nama baik keluarga klien sekaligus sahabatnya.
"Apakah Robet si brengs*k itu tau kelakuan emaknya?" tanya Deren, kali ini Deren sangat marah terhadap Robet dan Kopri sangat tahu dengan itu.
"Sepertinya seluruh keluarga belum tahu Bos, termasuk nyonya besar," jawab Kopri.
"Kita bisa aja tangkap mereka Pri, tapi bagaimana jika awak media tahu. Kita tahu seberapa baik nama keluarga mereka di mata masyarakat. Kita harus koordinasi dulu dengan Nyonya Rose, setidaknya dia bisa mengambil ancang ancang untuk membungkam mulut media," ucap Deren.
"Siap Bos!" jawab Kopri bersiap menyusun laporan untuk nyonya besarnya.
"Ingat target utama kita hanya Zen, masalah Marta itu adalah masalah keluarganya. Tak ada sangkut pautnya dengan kita, mengerti!" ucap Deren menengaskan. Sungguh ini adalah keputusan yang sulit baginya, bagaimana tidak menghancurkan Zen dan membongkar kebusukan mereka adalah resiko yang tidak main main.
"Sepertinya Zen sengaja memperlihatkan perselingkuhanya Bos, dia sudah memperhitungkan ini," ucap Kopri.
"Kamu benar Pri, dia berani terbuka begini ga mungkin ga ada maksud," balas Deren.
"Bos, nyonya besar merindukanmu hahaha," ucap Kopri sambil tertawa meledek bos tampannya.
"Diem lo kampret, apaan lo jodoh jodohin ane ama nenek nenek hih...!!" ucap Deren ngeri.
__ADS_1
"La nyatanya si Oma kalau deket bos semangat bener, berasa muda lagi mungkin," goda Kopri lagi.
"Jangan sampai kedengeran Robet lo, ngomongin Omanya. Dicekik tahu rasa lo," ucap Deren.
"Iya Bos maafkan saya, YN udah sampai Bos. Besok dia udah balik," ucap Kopri.
"Jangan kasih dia balik ke Jakarta. Suruh langsung ke Malang aja. Di sana ada kerjaan buat dia, aku mau dia ngurus perkebunan aja. Cukup sudah dia kerja beginian Pri, kasihan biar dia bisa dekat dengan keluarganya. Rencananya ane mau boyong adek sama bapaknya ke sana aja. Supaya mereka bisa kumpul. Nanti adeknya juga biar bisa sekolah, biarkan dia buka lembaran baru di sana. Menikmati hidup, agar lebih dekat dengan penciptanya. Ane udah pesankan satu tempat tinggal buat dia, nanti dari hasil kebun bisa buat nyicil kurangannya," jawab Deren. Agaknya Deren tak mau jika Yunita kembali pada Robet. Dia merasa bahwa derita yang diterima Yunita harus segera diakhiri. Wanita yang sudah dia anggap adek sendiri itu berhak bahagia pikirnya.
"Emang Bos jadi beli perkebunan itu?" tanya Kopri.
"Jadi Pri, kasihan juga pemiliknya banyak hutang. Habis itu sakit lagi buat berobat. Kamu masih mau ikut nyonyamu apa balik ke ikut aku?" tanya Deren.
"Emang saya boleh bos milih, tu si nenek nenek pedes bener Bos. Kalau boleh jujur sih saya lebih milih ikut Bos," jawab Kopri, Kopri masih asik membaca satu persatu pesan yang Bosnya terima, biasanya ini adalah pekerjaan Yunita.
"Boleh, asal kamu siap ditembak mati ama nyonya besarmu itu," jawab Deren sambil tertawa pelan.
"Si nenek emang aneh bos, ada dimarahin ga ada ditanyain kapan balik Kopri kapan balik, astaga macam istri aja tu si nenek nenek," ucap Kopri sambil mengeleng gelengkan kepalanya.
"Baik bos, kasihan juga sih. Anak cuma satu tapi dapat mantu begitu," balas Kopri.
"Kampret ngapa lo jadi ghibahin keluarga orang set*n," umpat Deren sambil memukul kepala kopri dengan bantal sofa yang dipeluknya dari tadi.
"Aduh bos, sakit," ucap Kopri sambil mengelus kepalanya, Deren tak perduli, pandanganya kembali kosong menatap lurus ke atas, perasaanya masih berkecambuk memikirkan bagaimana caranya membuka kebusukan musuhnya tanpa terendus media.
"Pri habis masalah ini ane ga mau kerja beginian lagi Pri, capek," ucap Deren.
"Terus bos?" tanya Kopri.
"Ane mau pulang ke Malang aja, mau buka usaha di sana!" jawab Deren.
"Ya ga papa, lagian Bos udah tua. Waktunya punya bini. Emang ga kasihan apa sama senjata kesayangan Bos tu hah hahaha," jawab Kopri sambil bercanda.
__ADS_1
"Diem lo set*n...dasar kepar*t, ama bosnya berani ngledekin," umpat Deren sambil memukul kepala Kopri dengan buku besar yang ada di sampingnya.
"Lah ya bener bos," ucap Kopri masih dengan tawa khasnya. Deren tak menyalahkan Kopri juga, jika mempunyai pemikiran seperti itu, tapi Deren sendiri belum kepikiran kesana.
"Bos!"
"Heeemm"
"Ngapain ni si tuan muda Juan nanyain boidata YN Bos?" tanya Kopri sambil menunjukan email dari Juan. Deren membaca pesan itu dengan perasaan sedikit risau, Deren sangat tahu bahwa Juan adalah pria yang ambisius. Dia selalu mau mendapatkan apa yang dia mau bagaimanapun caranya.
"Matilah kita Pri!" ucap Deren.
"Kenape Bos?" tanya Kopri.
"Jangan bilang kalau dia jatuh cinta ama Yunita, bisa repot urusanya. Kenapa ane gobl*k suruh Yunita yang pergi," ucap Deren risau.
"Lah kan rencananya mau ngawal tuan Handoyo kan, bukam ke Australi nganterin apa tu katanya," jawab Kopri tenang.
"He em sih, ahhh...semoga urusanya ga jadi ribet Pri, malas juga aku ngurusin masalah yang berhubungan dengan hati. Ribet kayak Yudha ama bininya dulu ahhhh...dasar wanita bikin ribut dunia aja," ucap Deren mulai tak bersemangat.
"Ya ga papa Bos, mending YN sama tuan Juan dari pada ama tuan Robet," jawab Kopri enteng.
"Mata lo soak, mereka berdua sahabat ane beg*k," ucap Deren geram.
"La apa hubunganya dengan Bos lah, lagian YN juga mau cerai kan ama tuan ribet itu," jawab Kopri ikutan marah dengan perlakuan Robet ke sahabatnya juga.
"Ane ga enak aja kalau mereka rebutan cewek, udah gitu anak buah kita pula. Ane ga mau merusak apapun Pri, kecuali kalau sesuatu itu butuh di rusak," jawab Deren tegas.
"Ahhhh....lebih baik ngadepin 10 penjahat dari pada berurusan dengan cinta Bos, ribet," jawab Kopri lagi. Kopri benar bahkan sangat benar menurut Deren, bahkan saat ini hati Deren juga sedang galau. Entah karena apa itu..
Bersambung.....
__ADS_1
Like dan Komenya jangan lupa...