
Robet keluar dari tempat persembunyiannya. Sesak sekali rasanya, walau dengan susah payah akhirnya dia pun berhasil keluar dari tempat laknat itu.
"Sial!!" umpat Robet. Perasaannya bertambah kesal mana kala Yunita berhasil lolos darinya. Robet duduk termenung diranjang istrinya. Berfikir kembali atas apa yang dia lakukan pada istrinya. Mungkinkah aku salah menilainya, mungkinkah pria itu membohongiku. Lalu kenapa dia mendukung pemikiran bodohku, batin Robet.
"Aahh...aku harus mencari tau kebenaranya.sebelum terlambat," ucap Robet. Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke kamarnya.
Robet duduk di sofa kamarnya, meraih ponselnya dan berusaha menghubungi istrinya. Sayangnya Yunita tak mau mengangkat telponnya. Yunita terus merijek panggilnya.
"Ya Tuhan apakah dia marah," ucap Robet. Kembali dia berfikir, kira kira dengan siapa dia bisa mencari jawaban atas keresahanya.
"Deren," ucap Robet. Robet pun berusaha menghubungi Deren, berkali kali dia mencoba sayangnya tidak bisa. Robet tak menyerah, dia pun terus mencoba dan mencoba. Sayangnya hanya operator yang terus menjawab panggilannya.
Robet mulai berfikir kembali, siapa kira kira yang tau lebih dalam tentang istrinya dibanding diri. Tak lama sebuah nama terlintas di benaknya.
"Yudha," ucapnya. Robet pun segera munghubungi sahabatnya ini, karena dulu saat dia pertama kali mengenal Yunita juga dari kasus yang menjerat Yudha. Lagi lagi Robet gagal menghubungi sahabatnya. Robet mengeluh, "Mereka pada kemana sih!" gerutu Robet.
Robet merebahkan tubuhnya diranjang besar nya. Dalam lamunanya Robet mengingat betapa sedihnya mata wanita yang dia sakiti dulu. Robet mengingat jelas percakapanya di hotel bersama sang istri. Harusnya malam itu menjadi malam yang indah buat mereka. Ga tahunya semua malah berantakan.
Sorot mata Yunita memancarkan luka yang mendalam, kenapa baru sekarang dia menyadari ini."Bodohnya aku!" ucap Robet.
Malam semakin larut tapi Robet sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Rasa penasaranya tentang istrinya telah menyiksa batinnya.
Robet Robet ahirnya sadar kan lo.
***
Disisi lain....
Yunita meringkuk kedinginan di kasur lantai di kamar Yuli. Dia pun sama matanya sulit terpejam mengingat betapa kejamnya Robet padanya. Sampai kapan pria bodoh itu akan membiarkannya hidup tenang.
Bagaimanapun Yunita adalah wanita biasa yang akan menangis jika dia sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit dihatinya.
"Ya Tuhan...apa yang harus aku lakukan. Aku ga mau sama pria bodoh itu Tuhan," gumam Yunita.
"Kenapa Engkau membuat hatiku selemah ini Tuhan. Kenapa rasanya aku tak tega menyakitinya. Apakah benar aku mencintainya?" tanya Yunita pada pemilik hidupnya. Tak Terasa air mata itu deras mengalir saat dia ingat betapa kasarnya tadi terhadap suaminya.
__ADS_1
"Apakah punggungmu sakit mas, apaka perih hemm. Kepalamu pusing ga sekarang!" kembali Yunita mempertanyakan keadaan suaminya.
Saya rasa cinta kalian sudah sangat dalam sekarang.
***
Kesesokan harinya...
Robet sudah rapi dengan stelan jasnya. Hari ini adalah penentuan siapa yang berhak memimpin perusahaan keluarganya menggantikan omanya. Dia ataukan papinya.
Robet melangkah menuruni anak tangga, dia melihat Yuli sedang sibuk didapurnya sedangkan Tinah tak tahu kemana.
"Yul...Nita kemana?" tanya Robet.
"Oh...mbak Nita badannya panas Den!" jawab Yuli. Sebenarnya Robet khawatir dan terkejut tapi dia juga harus pandai menyembunyikanya bukan.
"Di mana sekarang?" tanya Robet.
"Di kamar Yuli Den," jawab Yuli. Robet menunggu sampai Yuli lengah dan tak menyadari tindakanya.
Yuli sudah meninggalkanya. Naik kelantaibatas untuk melanjutkan pekerjaanya.
Sepertinya Yunita tak menyadari kedatangan sang suaminya. Dia masih saja meringkuk lemah.
Robet mengelus rambut panjang istrinya, memegang kening wanita cantik ini.
"Eemmmm...apaan sih Yul, ganguin aja. Kepalaku rasanya mau pecah Yul," ucap Yunita sambil memijat keningnya.
"Ke dokter yuk," ajak Robet.
Yunita membuka matanya seketika, karena suara yang dia dengar berbeda. Yunita langsung duduk dan menutup dadanya dengan bantal karena saat ini dia tak menggenakan bra.
"Ketua gang bisa sakit juga," ledek Robet. Yunita hanya melirik kesal pada Robet.
"Duh judesnya matanya," goda Robet lagi. Robet hendak mencium pipi Yunita tapi Yunita segera menepisnya.
__ADS_1
"Dosa lo suami mau cium ga boleh," goda Robet lagi. Yunita tak perduli dengan candaan suaminya. Rasa ucapan Robet serasa jarum baginya.
"Ni Mas bawain sarapan dimakan ya," ucap Robet sambil membantu Yunita meminum susu itu.
"Ga dikasih racun kan?" tanya Yunita.
"Tentu saja tidak, kalau kamu mati rugi banyak aku," canda Robet.
"Rugi apanya?" tanya Yunita lugu.
"Tentu saja uangku dan satu lagi....," ucap Robet sambil menatap dada Yunita yang tembus iti. Yunita yang menyadari kenakalan mata suaminya spontan langsung menutup dada itu.
"Dasar pria mesum, pergi sana!" teriak Yunita. Robet tertawa. Robet sangat tahu bagaimana cara membuat Yunita semangat untuk sembuh. Salah satunya adalah memancing emosinya.
Yunita bukan tipe wanita yang harus dielus elusin, dimanja manjain. Sedikit banyak Robet sudah mempelajari sifat Yunita. Semakin dia ditekan semangat juang yang ada didirinya akan tumbuh dengan sendirinya.
"Ya ga mesum lah, orang sama istrinya kok mesum. Lagian itu hak ku bukan," Robet masih sangat suka menyulut emosi istrinya.
Yunita kembali menatap penuh permusuhan pada Robet. "Nglihatinya ga usah gitu, isi dulu tenagamu kalau mau ngajakin aku beratem. Kamu yang sehat aja kalah lawan aku. Apa lagi sakit gini ck kecil, bisa jebol gawangmu nanti," ucap Robet semakin bersemangat membakar jiwa pejuang didiri istrinya.
Dugaan Robet tidak meleset, Yunita langsung memakan roti yang dia bawa sesekali dia juga menenguk susu yang dibawa serta oleh Robet. Robet hanya menunggu dengan santai saat Yunita dengan penuh emosi memakan makanan yang dia bawa.
Tak butuh waktu lama semua makanan dan minuman yang Robet bawa pun habis.
"Nah gitu dong, kan kalau kamu bertenaga kan makin asih duelnya," goda Robet lagi sambil mengacak rambut istrinya. Yunita langsung menepis tangan itu.
"Nah kan kuat sekarang, tadi lemes banget!" ledek Robet lago. Yunita tak perduli dengan candaan tak bermutu Robet menurutnya.
"Setengah jam lagi di minum obatnya. Biar kuat nyuci mobil sama nyikat kolam renangnya!" goda Robet lagi. Yunita tak menjawab dia memilih kembali merebahkan tubuhnya. Memunggungi pria yang menurutnya menyebalkan ini
Robet mengelus penuh kasih sayang rambut istri cantiknya, mengecup pipi harum itu. Robet juga menyibak rambut istrinya dan mencium harum tengkuk wanita cantik ini.
"Nanti kalau ga mau turun panasnya telpon Mas ya, kita ke dokter hemm," ucap Robet sambil mengelus lengan istrinya. Yunita masih diam, dia tak mau menjawab apapun yang suaminya ucapkan.
Robet keluar kamar yang ditempati Yunita, senyum mengembang di wajah tampan pria itu. Setidaknya dia berhasil maju selangkah untuk belajar mengerti sifat istrinya.
__ADS_1
Bersambung...
CA:"Semakin banyak like dan komen akan semakin rajin pula Emak update...😘😘😘."