
Keesokan harinya...
Deren dan Robet sampai di kediaman istri dari Master chef sahabat mereka. Arumi terkejut dengan kedatangan dua pria yang dinilainya aneh.
"Masuk Bet ada apaan nih?" sapa Arumi dengan suara khasnya. Robet hanya tersenyum.
"Rum, kenalin ini Deren. Sahabat suamimu," ucap Robet. Keraguan nampak jelas disana. Arumi pun tersenyum dan mempersilahkan mereka duduk.
"Tapi mas Yudha ga disini Bet, dia dirumah bini mudanya," jawab Arumi santai. Robet dan Deren saling menatap.
"Bini muda siapa Rum?" tanya Robet.
"Ya bini mudanya lah, siapa tu yang model itu bikini itu loh," jawab Arumi masih saja santai. Disini Deren dan Robet menangkap kesalah pahaman diantara Arumi dan Yudha.
"Si Desi maksud mbak?" tanya Deren ragu ragu.
"Wah ga tau ya siapa namanya. Dia kan ceweknya banyak," balas Arumi lagi.
"Tunggu dulu, sepertinya mbak salah paham deh," ucap Deren.
"Salah paham gimana sih. Orang bini mudanya sendiri bilang gitu sih," Arumi tak mau kalah dengan persepsinya.
"Kalau si Desi ma sekarang dipenjara mbak, dan jujur saya ga tau siapa pacar Yudha yang mbak maksud. Karena setau kami dia cuma pernah terlihat dengan satu perempuan selain mbak," jawab Deren tegas. Arumi hanya tersenyum meremehkan.
"Situ yakin!" tantang Arumi.
"Ya saya yakin, karena saya sahabatnya. Sepertinya mbak salah sangka dengan suami mbak deh," ucap Deren serius.
__ADS_1
"Salah sangka dari mana. Dia tu pembohong mas kamu jangan mau ditipu. Bilangnya bukan anaknya tapi apa lihat sono di apartemen dia nyembunyiin darah dagingnya," jawab Arumi, terlihat marah kesal plus emosi.
Deren malah tertawa, "Mbak jangan sembarangan nuduh kalau ga tau kebenaranya. Itu memang anak Desi tapi bukan sama Yudha. Ni tes DNA nya kalau mbak ga percaya. Mbak juga bisa tanya sama pengasuhnya tentang kebenaran yang saya bawa. Itu emak sibocah lagi dipenjara dan mengidap tumor otak stadium 4 mbak. Dia nitip anaknya ke Yudha, mbak kan tau Yudha orangnya ga tegaan," ucap Deren kesal. Arumi kembali tertawa meremehkan.
"Kenapa mbak tertawa. Apakah mbak sangsi dengan kebenaran yang saya bawa?" tanya Deren.
"Ya iyah lah sangsi, bagaimana tidak kalian ga sahabatnya tentu saja belain dia, bisa aja kan kalian dibayar untuk ini," balas Arumi tak mau kalah.
"Sebaiknya mbak jangan meremehkan persahabatan kami mbak. Kami memulai semua ini dari nol, Saya kenal Yudha dari kecil mbak. Yudha memang bukan tipe orang yang gampang terbuka. Tapi dia baik mbak dia jujur. Kenapa saya bilang dia jujur. Buktinya dia minta ijin kan sama mbak pas mau kawin lagi, mungkin waktunya ga tepat saat itu, jujur saya juga sudah mengingatkan. Tapi ga tau kenapa dia bisa senekat itu. Maklumlah namanya juga khilaf mbak, mana mungkin sih bisa milih waktu. Tapi sumpah saya ga ngerti dengan mbak. Pantesan Yudha minta disiapin surat cerai ternyata istrinya tak bisa mengerti akan dirinya. Tak paham akan kesungguhanya, tak percaya akan kejujuranya. Saya menyesal mbak datang kesini," ucap Deren. Wajah Deren memang sedikit menyeramkan. Tapi anehnya mana kala dia mengucapkan itu matanya sedikit berkaca kaca seolah bisa merasakan sakit hati yang sahabatnya rasakan sebelum ini.
Arumi hanya diam setelah mendengarkan perkataan Deren.
"Tapi saya ga mau tanggung tanggung dalam bekerja mbak, sebentar lagi pengasuh dan bayi dari mantan istri suami mbak akan datang. Silahkan anda tanya kebenaranya. Tapi kalau mbak masih tidak percaya dengan bukti yang kami bawa silakan mbak cek sediri. Anda bisa cocokan DNA anak itu dengan anak mbak. Apakah mereka ada ikatan darah atau tidak, bisa kita ketahui dari sana," ucap Deren lagi.
Tak lama datanglah seorang wanita yang dimaksud Deren.
"Masuk Yun," pinta Deren.
"Permisi bu, pak," ijin Yudita pada Robet dan Arumi. Arumi kembali mengeluarkan muka kebencianya pada Yunita.
"Ya silakan," jawab Robet.
"Dia sebenarnya adalah anak buah saya mbak. Waktu itu dia ditugaskan oleh Yudha untuk mencari bukti bagaimana bisa Desi mendapatkan tanda tanganya dan mengambil separo hartanya. Karena ga mungkin dong Yudha kasih harta yang dia juga tau kalau itu haknya mbak dan anak anak," ucap Deren. Arumi kembali menatap tak percaya. Apakah mungkin apa yang Yudha katakan waktu itu benar. Apakah dia salah soal ini, kembali Arumi berperang dengan batinya.
Yunita pun menceritakan awal mula dia bisa terlibat dengan kasus ini. Bagaimana tugasnya, sistem kerjanya dan berapa Yudha membayarnya.
"Jujur bu saya punya hutang sama pak Yudha makanya saya mau saat beliau meminta saya menjaga anak ini. Disamping saya butuh uang saya juga kasihan sama anak ini bu. Mamanya selalu menyiksa anak ini, ibu lihat sayatan di lengan mungil ini. Ini adalah bukti kegilaan mamanya, gadis cilik ini tak tau apa apa bu. Jika dia bisa memilih mungkin dia akan memilih untuk tidak dilahirkan, ," jawab Yunita sambil menunjukan lengan Vero sibayi mungil yang tak berdosa ini. Yunita juga menciumi pipi dan sekali sekali mengajak bercanda bayi yang ada digendonganya ini.
__ADS_1
Arumi mentap nanar kepada semua tamu yang datang kerumahnya. Kembali Arumi bimbang. Apakah yang dia pikirkan salah.
"Apakah kalian serius dengan ini?" tanya Arumi.
"Tentu saja kami serius mbak, kuasa hukum Yudha nanti akan datang kesini membawa semua yang mbak mau. Hak anak anak mbak dan juga...surat cerai yang mbak mau," jawab Deren. Arumi menatap tak percaya pafa apa yang diucapkan sahabat suaminya. Hatinya sedikit goyah dengan ini. Pikiranya juga bertanya tanya kenapa sahabat suaminya yang datang. Kenapa bukan Yudha sendiri yang kesini. Ada apa ini?. Tapi Arumi masih belum berani bertanya makanya dia diam tak bersuara.
Robet pun sedikit ragu untuk mengampaikan kabar yang dia bawa.
"Pak, bagaimana sekarang?" tanya Yunita, dia bingung bagaimana dengan nasibnya dan anak yang ada didalam gendonganya ini, mengingat orang yang menaunginya telah dikabarkan menghilang.
"Nanti kamu ikut Robet dulu Yun, ga papa kan. Kami akan cari tau pasal kebenaran soal Desi," ucap Deren. Yunita pun menghiyakan apa yang bosnya perintahkan.
"Apakah kalian yakin kalau suamiku tidak ada hubungan lagi dengan mantan model itu?" tanya Arumi.
"Tentu saja,"
"Kalian tak bohong?"
"Demi Tuhan mbak kami tak bohong" jawab Deren sambil memegang kalung salip yang ada dilehernya.
"Kenapa dia tak menceritakan ini sendiri?" tanya Arumi dengan suara sedikit tertahan.
"Sebenarnya dia ingin cerita mbak, tapu dia baru punya bukti tes DNA. Dia ingin semua bukti terkumpul dan ingin mengembalikan hak mbak dan anak mbak yang sempat leoas dari tanganya. Sebenarnya kepergian dia ke Samarinda kali ini juga mau mengambil surat surat itu. Terus terang saya juga terkejut saat dia meminta saya dan pengacaranya untuk menyiapkan surat pisah kalian," jawab Deren lagi. Arumi menundukan kepalanya tak percaya dengan apa yang dia dengar. Kini Arumi menyadari bahwa dia melakukan kesalahan fatal.
"Dimana sumiku sekarang?" tanya Arumi. Deren dan Robet saling menatap. Ada keraguan dalam hati mereka untuk menyampaikan ini. Tapi mau ga mau ini harus dikatakan bukan.
Bersambung...
__ADS_1