
Robet tak perduli walau Yunita meronta, menjambak bahkan mencakar lengan lenganya. Robet terus melancarkan aksinya. Dia tak mau tahu pokoknya malam ini Yunita harus bertekuk lutut dan kapok menurutnya.
Robet membawa Yunita ranjang singlenya, Yunita mencoba lari tapi sayang tenaga Robet lebih besar darinya. Ciuman Robet sudah sampai kedada indah itu. Ketika Robet tengah asik bermain disana tiba tiba Yunita punya ide untuk menggigit telinga Robet, baru mau meraih telinga itu Yunita mendengar seseorang bernyanyi dan mendekati kamarnya.
"Mas, mas!" panggil Yunita. Robet masih saja bermain didada Yunita, membuat Yunita sangat geram.
"Mas...ada yang dateng," ucap Yunita. Robet pun menghentikan aksinya. "Ahh..siapa itu?" tanya Robet.
"Sepertinya si Yuli," jawab Yunita. Robet lengah seketika Yunita mendorong tubuh gempal itu dan mengumpat kasar.
"Dasar pria mesum!" umpat Yunita. Kemudian dia pun kembali memukul geram lengan Robet.
"Au..sakit Nit!!" pekik Robet pelan.
"Bodo amat!" balasn Yunita geram.
"Apakah dia mau kesini?" tanya Robet.
"Tentu saja!" jawab Yunita senang karena selamat dari predator gila ini.
Yunita bangkit dari ranjang dan meraih baju kimononya yang tadi dilepas paksa oleh Robet. Yunita belum sempat memakai baju Yuli sudah keburu mengetuk pintu.
Tok tok tok...(Suara pintu diketuk).
"Mbak Nita udah bobok kah?" tanya Yuli.
"Belum Yul, bentar ya lagi ganti baju habis mandi!" jawab Yunita. Robet gugup Yunita pun sama. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang ketahuan hendak berbuat zina atau sepasang kekasih yang sedang ketahuan berselingkuh. Ekekkeke...kalian sangat menggelikan.
"Nit gimana ini?" tanya Robet.
"Mas sembunyi dikolong aja!" jawab Nita memberi ide
"Ya Salam aku kayak orang takut ketahuan tidur ama istri orang. Padahal ini ma ya istri sendiri," gerutu Robet kesal. Yunita tertawa pelan sambil membekap mulutnya. Robet melirik lucu kearah Nita. Pertemuan mata mereka seolah memancarkan benih cinta yang mulai mereka sadari.
"Cepetan," bisik Yunita.
Robet malah meraih tubuh istrinya dan mendaratkan ciuman indah dibibir Yunita. Yunita hanya diam dia masih tak ingin membalas ciuman itu. Yunita masih berpegang teguh pada prinsipnya yang tak ingin terlalu dalam mencintai Robet. Toh pada akhirnya semua ini harus diakhiri bukan.
"Mbak....kok lama!" teriak Yuli lagi.
"Bentar Yul, masih pakek BH," jawab Yunita lagi.
"Ck, dasar...mengganggu saja," gerutu Robet lagi.
Yunita tertawa pelan mendengar suaminya menggerutu. Yunita hanya menatap lucu saat melihat suaminya kesusahan masuk kedalam kolong ranjang yang sedikit sempit itu.
Yunita langsung mengambil BH dan kaos dilemarinya, memakainya dan segera membukakan pintu untuk rekan kerjanya.
"Ada apa Yul?" tanya Yunita. Yuli tak menjawab dia malah nylonong masuk dan menjatuhkan tubuhnya keranjang milik Yunita. Kalian pasti tau kan betapa lucunya ekspresi kemarahan babang Obet, hahaha otor ga tahan ga tertawa. Oh my god.
"Mbak... Yuli bisa gila kalau begini," ucap Yuli sambil merebahkan tubuhnya diranjang itu, kembali Robet mengumpat kesal disana.
__ADS_1
Yunita duduk di kursi meja riasnya yang berda persis disisi ranjang. "Loh gila kenapa?" tanya Yunita.
"Mereka orang orang yang suka sama Mbak ngancem Yuli Mbak. Mereka bilang Yuli boong!" ucap Yuli lugu. Yunita hanya tertawa melihat ekspresi ketakutan Yuli.
"Emang kamu bilang apaan?" tanya Yunita.
"Ya bilang seperti yang Mbak suruh tadi, kalau mbak udah punya suami udah punya anak juga," jawab Yuli lugu.
"Udah ga usah diperduliin, oia ini apaan yang kamu bawa?" tanya Yunita.
"Itu sate ayam dari Aak Satpam samping rumah Mbak," jawab Yuli kemudian dia duduk kembali, Robet semakin kesal pada Yuli yang terus bergerak dan menyiksanya.
"Ya udah kamu makan lah," suruh Yunita.
"Ogah, bukan Yuli yang dikasih. Mbak Tinah juga ga mau!" jawab Yuli sambil memonyongkan bibirnya. Yuli juga merogoh kantong saku nya dan menyerahkannya pada Yunita.
"Nah!" ucap Yuli.
"Uang apa lagi ini?" tanya Yunita.
"Ini teman teman Yunita bayar pulsa," jawab Yuli.
"Ooo, kirain ada yang kasih aku uang juga. Kalau ada terima aja Yul, lumayan buat bantu Mbak bayar utang hahaha," jawab Yunita sambil mengambil uang itu dan menghitungnya.
"Ah Mbak bayar utang banyar utang kayak punya utang aja," jawab Yuli tak percaya.
"Punya Yuli, mana kamu tau tentang hidupku. Aku bukan anak orang kaya seperti yang kamu pikirkan," jawab Yunita apa adanya.
"Emang iya Mbak?" tanya Yuli tak percaya.
"Enggak sih...eh enggak ding pernah!" jawab Yuli semangat.
"Pasal apa?" tanya Yunita.
"Pasal suami dan anak itu," jawab Yuli, Yunita tertawa.
"Kalau soal suami aku ga boong Yuli. Aku ini istri orang. Kalau soal anak aku memang belum pernah melahirkan," jawab Yunita sambil tertawa.
"Beneran Mbak udah ada suami?" tanya Yuli kepo.
"He em, Mbak ga boong!" jawab Yunita.
"Serius Mbak!"
"Dua rius malahan," jawab Yunita lagi.
"Kalau Mbak ada suami ngapain Mbak kerja. Lagian suami Mbak kok mau sih ditinggal jauh gini. Suami Mbak di Samarinda kan?" tanya Yuli mulai penasaran.
"Kan Mbak udah bilang, Mbak banyak hutang Yul. Mau ga mau Mbak kan harus kerja buat bayar. Kalau semuanya Mbak bebani ke suami kan kasihan," jawab Yunita mulai dengan nada lembutnya. Robet masih setia menjadi pendengar gelap di bawah kolong ranjang milik Yunita
"Emang banyak utang Mbak?" tanya Yuli lagi.
__ADS_1
"Banyak Yul, kalau ga banyak mana mungkin Mbak kerja sekeras ini. Udah gitu kamu lihat sendiri kan masih jualan online masih jualan pulsa juga. Asal ga jual diri aja hahahahaa," jawab Yunita diselingi candaan agar dia ga menangis saat menceritakan kisah hidupnya.
"Emang sebanyak apa Mbak hutang Mbak. Mbak kalau mau pakek aja uang Yuli!" ucap Yuli tulus. Yunita tersenyum mendengar ucapan tulus rekan kerjanya ini.
"Ga usah Yul. Mbak ga mau punya hutang budi sama orang. Kamu doain Mbak aja, sehat terus panjang umur biar bisa bayar hutang dunia Mbak. Jangan sampai nanti malaikat pencabut nyawa dateng Mbak masih punya utang," ucap Yunita lagi.
"Dih Mbak ngomongnya nakutin Yuli aja," ucap Yuli lagi.
"Loh ini kenyataan loh Yul. Gimana sih, makanya kamu bilang sama teman teman kamu yang naksir Mbak. Jangan lihat orang dari covernya, pada kenyataanya wanita yang mereka taksir banyak hutang hahahhaha," Yunita kembali tertawa agar bisa menutupi keadaan hatinya.
"Mbak Yuli serius pakek aja uang tabungan Yuli. Yuli masih lama pekeknya," ucap Yuli lagi.
"Enggak Yul, pokoknya Mbak ga mau nambah nambah hutang lagi. Stres Yul rasanya mikir hutang. Udah kamu simpan aja uang kamu, katanya mau kuliah. Pokoknya makasih Yul kamu udah baik sama Mbak," ucap Yunita lagi. Robet terlihat ikut penasaran berharap Yuli bertanya dipakai untuk apa yang sebanyak itu.
"Emang utang Mbak ada berapa juta Mbak, sampai Mbak harus banyak cari sampingan?" tanya Yuli lagi.
"Hampir seratus juta Yul," jawab Yunita jujur, sepertinya Yunita lupa bahwa selain mereka, ada sepasang telinga yang ikut mendengarkanya.
"Hah...!" ucap Yuli tak percaya.
"Kaget ya!" ledek Yunita.
"Serius Mbak, sebanyak itu!"
"He em,"
"Emang buat apaan Mbak,"
"Buat bantu orang tua Yul, dulu mereka punya usaha dan kena tipu. Mereka punya hutang dibank dan ya...kalau ga dibayar alamat rumah kami disita Yul, bapak bisa masuk penjara Yul, " jawab Yunita jujur, Yunita benar benar lupa sepertinya, bahwa ada seseorang yang menginginkan kejujuran ini.
"Ya Allah, yang sabar ya Mbak," ucap Yuli, Yunita tersenyum dan mengangguk.
"Insya Allah Yul," jawab Yunita.
"Terus suami Mbak gimana, emang dia ga mau bantu Mbak?" Yuli semakin semangat mengorek keterangan dari wanita yang ada di depannya ini.
"Suami Mbak ya ga gimana mana, dia udah tau kok kalau Mbak ni banyak hutang. Dia memaklumi," jawab Yunita.
"Syukurlah kalau memaklumi, takutnya Mbak dihina hina kayak di pilem pilem (film film)," jawab Yuli lagi sambil bercanda.
"Kalau soal dihina ma Mbak udah biasa Yul. Anggap aja semua itu warna dalam hidup Mbak," jawab Yunita. Tak sengaja mata Yunita menangkap kaki Robet. Astaga apa yang aku ucapkan barusan, Mas Robet????. Yunita terlihat gugup.
"Yul, kita makan satenya di belakang yuk," ajak Yunita.
"Yuk Mbak," balas Yuli.
"Yul...malam ini Mbak boleh ga tidur kamar dikamar kamu, pengen nonton TV Yul," pinta Yunita sekaligus memberikan alasan agar Yuli mengizinkan.
"Boleh atuh Mbak, ayok...bawa bantal ama selimutnya sekalian," ucap Yuli.
"Siap adekku yang cantik hehehe," balas Yunita. Yuli pun membawa makanan itu dan selimut milik Yunita. Sedangkan Yunita membawa bantal dan ponselnya. Mereka berdua meninggalkan kamar itu dengan hati gembira. Terlebih Yunita karena dia bisa selamat dari predator yang mengintainya.
__ADS_1
Bersambung...
CA:" Like n komenya jangan lupa...biar aku cemungut update oke...😘😘😘🤗. Sayang kalian."