
Semalaman Yunita tak bisa tidur memikirkan bayi yang selama ini diasuhnya. Menangis dan terus, membuat sang kekasih bingung.
Robet tak tau harus dengan cara apa dia membujuk kekasih hatinya.
"Udahlah sayang, Mas tau kamu sayang sama Vero, sama anak kita. Dia bukan rejeki kita hemmm. Maka lekaslah sembuh nanti kita bikin sendiri yang banyak," ucap Robet sambil menggoda calon istrinya.
"Mamas ih...," rengek Yunita manja.
Kesal rasanya Robet terus saja menghubung hubungkan masalah ini dengan sesuatu yang masih tabu untuk Yunita.
"Hari ini kamu udah boleh pulang loh, mau pulang kerumah sendiri apa ke mana?" tanya Robet.
"Ke rumah sendiri aja, tapi rumah Nita kecil," ucap Yunita.
"Oooo....berarti yang kemarin Mas kesana itu, rumah kamu?" tanya Robet.
"Iya," jawab Yunita lugu. Ahhh...ahirnya Robet mendapat jawaban atas rasa penasaranya.
"Nama kamu aslinya siapa yank?" tanya Robet.
"Ainur Rohmah," jawab Yunita jujur. Robet tertawa ketika mendengar jawaban sang kekasih.
"Kok Mas ketawa, emang apanya yang lucu?" tanya Yunita.
"Ga ada, Mas hanya penasaran aja. Kok nama kamu jadi Yunita?" balas Robet.
"Oh...itu, Yunita itu nama samaran aku Mas," jawab Yunita lagi.
"Kenapa pakek nama samaran," Robet makin penasaran.
"Masak Iya ketua gangstar namanya Rohmah, ga keren kan," jawab Yunita lugu sambil tersenyum malu malu.
"Ya...ya...ya.. masuk akal juga. Bisalah diterima, ngomong ngomong sejak kapan kamu gabung sama Deren?" tanya Robet dengan senyuman khasnya. Kembali menertawakan kekonyolan ini dalam hati.
"Sekitar tiga tahun Mas," jawab Yunita.
"Kok bisa gabung?" tanyanya.
"Biasalah Mas tuntutan ekonomi." jawab Yunita ringan.
"Kamu biasanya ngapain?" tanya Robet.
"Memancing musuh dengan kecantikan hehehehe," jawab Yunita apa adanya.
__ADS_1
"Astaga!" pekik Robet tak percaya.
"Udah ah bahasnya. Malas Nita," jawab Yunita sambil memanyunkan bibirnya.
"Bibir ga usah dimanyun manyunin," ucap Robet gemas.
"Omes ih," ucap Yunita sambil mendorong lengan kekasihnya.
Robet hanya melirik gemas kearah kekasihnya.
"Test DNAnya siap ni yank," ucap Robet. Dia pun membaca sebuah file yang dikirim ke ponselnya.
"Hasilnya apa Mas?" tanya Yunita penasaran. Robet masih melanjutkan membaca file itu. Dengan hati hati dan teliti.
"Dari uji paternitas ini mereka memiliki 96% kesamaan sayang. Yang berarti mereka memang memiliki hubungan darah," jawab Robet. Seketika tangisan Yunita kembali datang. Bagaimana ini dia sama sekali belum siap bepisah dengan Vero putri angkatnya.
"Iklaskan sayang, percayalah kita nanti bakalan dipercaya sama Allah oke. Anggap saja Allah belum percaya sama kita hemmm," ucap Robet dewasa. Yunita hanya mengangguk meski hatinya sangat sakit.
***
Dikediaman Yudha dan Arumi...
Yudha sedang menjalani terapi dengan dokter fisioterapi pribadinya. Arumi dengan telaten dan cekatan membantu suaminya sesuai arahan sang Dokter.
Arumi dan Yudha terlihat sangat bahagia dengan kabar ini. Sebentar lagi Yudha pasti hisa menggendong putri cantiknya lagi seperti dulu. Memanggu Ditya dan bekerja seperti sedia kala.
Arumi sangat berterima kasih pada Dokter yang telah sabar merawat suaminya. Sang Dokter pun demikian. Dia juga berterima kasih karena mereka telah percaya padanya. Dokter itu pun berpamitan.
"Bun, Abi seneng banget," ucap Yudha.
"Bunda juga Bi, ahirnya Abi bisa jalan lagi. selamat ya Bi," ucap Arumi sambil memeluk sayang suaminya.
"Berkat kesabaranmu istriku. Berkat cintamu, tanpa kamu Abi bukan siapa siapa sayang. Makasih banyak ya," ucap Yudha. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi ini. Semua terasa indah bagi Arumi dan Yudha untuk saat ini.
"Sama sama suamiku, maafkan bunda ya karena berfikir bahwa hati Abi bukan milik Bunda. Bunda hanya kurang sabar saat itu," balas Arumi. Duh kalian tulus sekali.
"Maaf atas ke khilafan Abi ya bun." ucap Yudha.
"Bunda udab maafkan semua kesalahan Abi, Bi. Yang Bunda mau sekarang dan sampai nanti, Bunda... maksudnya kita akan hidup bersama sama terus tanpa hadirnya orang ketiga diantara kita Bi. Bunda ingin menua bersamamu suamiku. Apa boleh?" ucap Arumi. Tidak ada hal dan waktu yang indah seperti saat ini. Semua bunga cinta terasa bertaburan antara mereka.
"Bun,"
"Hemmm"
__ADS_1
"Robet mau kerumah katanya," ucap Yudha.
"Benarkah, kapan?" balas Arumi.
"Paling bentar lagi, habis urus administrasi Yunita langsung mau kesini," jawab Yudha.
"Oh...ya ga pa pa Bi, suruh aja ke rumah dari pada istirahat di hotelkan. Lagian Vero juga di sini. Yunita pasti kangen ama putrinya," ucap Arumi.
"He em Bun, bilang gi ama mbaknya suruh siapin kamar!" pinta Yudha.
"Iya nanti Bunda bilangin. Kasihan ya Bi pernikahan mereka harus ditunda," ucap Arumi.
"Iya Bun, habis mau gimana lagi. Namanya juga musibah, mana kita tau,"
"Abi benar, habis ini Yunita apa masih kerja begitu Bi?" tanya Arumi penasaran.
"Kayaknya enggak deh Bun, Robet mana mau kasih. Lagian ketua gengnya kan udah balik tugas," ucap Yudha.
"Deren balik lagi ke Papua Bi?" tanya Arumi lagi.
"He em, eh Bun. Abi curiga sama tu orang?" ucap Yudha.
"Curiga kenapa Bi?"
"Bunda ingat ga pas Bunda pingsan?" tanya Yudha, Arumi tertawa mendengar pertanyaan suaminya.
"Loh kok ketawa?"
"Enggak Bi, habis Abi lucu tanyanya!"
"Astaga Bun, bukan itu maksud Abi. Jadi gini...pas Bunda pingsan kita kan nganterin bunda ke IGD ya kan. Nah...pas di ruang itu ternyata susternya kenal ama si Derren, terus sejak saat itu Derren jadi pendiam. Suka ngelamun pokoknya aneh deh Bun," ucap Yudha curiga.
"Paling dia sedih kehilangan abangnya Bi," ucap Arumi.
"Ih... Abi rasa bukan soal itu deh Bun, pasti mereka ada apa apa!" jawab Yudha. Arumi hanya diam.
"Eemmm, semoga apa yang Abi pikirkan salah Bun," tambah Yudha.
"Emang apa yang Abi takutkan?" tanya Arumi.
"Ah, ga ada apa apa Bun. Udah bunda bilangin mbak nya gi suruh siapin kamar buat tamu kita!" pinta Yudha. Arumi pun menuruti perintah suaminya.
Di ruangan itu Yudha hanya diam memikirkan tentang obrolanya dengan sang istri. Jika apa ya g dipikirkanya tentang Deren benar alangkah kasihanya sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung.....