
Hari hari berlalu tak terasa sudah hampir sebulan mereka menikah. Robet tak pernah meminta Yunita untuk mengantarkannya kemanapun. Alasanya sungguh aneh, Robet tak ingin pria lain melihat istrinya. Pengalaman ketika dia mendengar Sean memuji istrinya pernah membuatnya gelisah sampai tak bisa tidur. Tak jarang Robet membuka CCTV dirumahnya hanya ingin melihat aktifitas keseharian istrinya.
Robet dan Yunita terlihat sangat menjaga jarak. Robet selalu marah padanya tanpa alasan yang jelas. Hanya soal Yunita tak sengaja lewat di didepanya saja Robet bisa marah marah . Padahal alasan utamanya adalah dia tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak melihat istri cantiknya.
Robet sangat paham dengan dirinya sendiri bahwa dia munafik, dia mengingkari perasaanya sendiri. Sejujurnya wanita cantik itu sungguh bisa menggoyahkan sanubarinya.
Anehnya sangking inginnya dia melupakan Yunita, dia sampai memberi pesan pada Tinah, agar tak mengizinkan Yunita masuk ke rumah utama saat dia ada di rumah. Jadi kalau Yunita mau makan atau mau minum dia harus lewat belakang rumah. Kejam sekali bukan. Jujur kedua asisten rumah tangga disana juga bingung, kenapa bos mereka sangat sensitif terhadap teman mereka. Ahhh...entahlah mereka tak mau ikut campur.
Astaga Robet, sampai kapan kau akan menjaga gengsimu itu heh.
Di pagi yang cerah ini Robet masih terlihat bermalas malasan di ranjangnya. Robet merasakan tak nyaman di tubuhnya. Badanya sedikit demam, kepalanya terasa sangat pusing.
Robet mendengar seseorang mengeluarkan mobil dari garasi, mungkin itu Yunita yang sedang menyiapkan mobil untuknya. Hati Robet mendesaknya untuk bangun dan melihat pujaan hati yang diingkarinya.
Robet keluar kamarnya dan berdiri diatas balkon, memyaksikan dari sana apa yang dilakukan Yunita.
Yunita menyiapkan peralatanya untuk mencuci mobil yang akan dipakai oleh Robet pagi ini.
"Ya Tuhan jam segini dia sudah bangun untuk cuci mobil, ga dingin apa," ucap Robet pelan. Seketika Robet ingat bahwa dia belum memberikan gaji dan nafkah lahir untuk wanita yang kini ada di dekapan matanya.
Robet terus memperhatikan wanita itu. Yunita terlihat sangat cantik ketika menggulung rambutnya dan bersiap mencuci mobil milik suaminya.
Dengan cekatan Yunita meyemprot dan membubuhkan sabun di bodi mobil. Yunita juga beberapa kali terlihat menyeka keringat di wajahnya. Mau bagaimanapun keadaanya sungguh tak bisa membuat kecantikan wanita ini luntur.
Robet juga melihat Yunita begitu dekat dengan dua sisiten rumah tangganya. Mereka juga saling bersanda gurau seperti tak ada beban dihati mereka.
Robet resah, Robet gundah ketika melihat Yunita tak sengaja menyiram dirinya sendiri. Kaos Yunita menempel lekat ditubuhnya hingga memperlihatkan dengan jelas warna bra yang membungkus dadanya.
"Dasar wanita ceroboh, bagaimana dia bisa secuek itu dengan penampilan seperti itu. Bagaimana jika ada pria lain yang melihatnya," gerutu Robet. Robet masih menikmati pemandangan langka itu. Yunita masih memegang wanita tercantik dihatinya. Robet masih setia berdiri dibalkon hingga Yunita selesai mengerjakan pekerjaanya dan merapikan peralatanya.
Robet masuk kekamarnya lagi, ingin sekali dia turun dan memarahi wanita itu akan kecerobohanya tadi. Tapi nanti dia besar kepala, merasa aku perhatikan. Ahhhh...bodo amat.
Robet memilih membersihkan tubuhnya, kemelut pikiran mesumnya kambuh saat melihat pemandangan langka itu. Dada Yunita terlihat sangat mempesona tadi. Robet berfikir keras bagaimana caranya dia bisa menarik Yunita masuk kedalam dekapannya tanpa menjatuhkan harga dirinya.
"Ahh...sial, kenapa dengan otakku. Kenapa sekarang aku menginginkanya. Bodoh sekali," umpat Robet untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Robet mengeringkan rambutnya, di depan kaca ini Robet mengingat lagi tatapan teduh mata istrinya. Jujur saat ini Robet sangat merindukan senyuman Yunita. Senyuman yang sama seperti yang dia lihat tadi pagi.
***
Di dapur belakang...
"Tin...punya apa laper ni," ucap Yunita setelah selesai mengganti bajunya.
"Ada ayam sama sayur sob, tapi Tinah belum sempet masak Mbak," jawab Tinah sambil menyiapkan peralatan bersih bersihnya.
"Baiklah Tinah, biar wanita cantik ini yang masak hahaha." ucap Yunita dengan tawa khasnya. Tinah pun ikutan tertawa.
"Yuli kemana Tin?" tanya Yunita sambil mulai menyiangi sayurannya.
"Kepasar Mbak, aden kan di rumah hari ini. Biasanya dia masak," ucap Tinah.
"Oooh, tumben," ucap Yunita. Tinah malah menatap Yunita dengan tatapan mencurigakan.
"Ngapain kamu senyum senyum gitu?" tanya Yunita.
"Mbak Nita lagi ada masalah ya aden?" tanya Tinah curinga.
"Ooohhhh...ya syukur deh kalau enggak, bos duren(duda keren) ni lagi angot angotan mbak. Yang sabar ya, semoga doi cepet dapet istri biar ga marah marah mulu!" ucap Tinah mendoakan kebaikan majikanya.
"Amin," jawab Yunita. Lama mereka berbicang sampai masakan Yunita matang dan siap dihidangkan. Tinah menjelma menjadi juri kali ini.
"Mbak, koyone masakanmu uwenak Mbak," puji Tinah, sambil membantu Yunita merapikan peralatan masaknya.
"Bisa aja kamu, beresin ya... aku mau mandi dulu!"
ucap Yunita.
"Siap Mbak ku," jawab Tinah, setelah mengelap tangannya Yunita pun melangkah meninggalkan dapur itu.
Saat Tinah sedang asik menyajikan masakan Yunita tiba tiba Robet ada di depan nya.
__ADS_1
"Kamu masak apa Tin, harum bener baunya dari atas, bikin laper aja?" tanya Robet sambil mengambil ayam goreng yang ada di meja.
"Ini Den sayur sob ama ayam goreng, ada tempe sama sambel tomat juga, Aden mau?" tanya Tinah. Robet masih asik mengunyah ayam gorengnya dan menjawab. Tak lupa dia juga mencolekan ayamnya ke sambal tomat yang dimaksud Tinah.
"Boleh deh ini semua enak, bawain ke meja depan ya. Aku mau semua ini. Nanti kamu masak lagi," jawab Robet seraya melangkah meninggalkan dapur belakang.
Tinah pun tak berfikir lagi, dia langsung membawa semua masakan Yunita ke meja makan pribadi milik majikanya.
Robet sudah menunggunya di sana, dia antusias sekali seperti ga pernah makan berhari hari. Robet pun langsung menyatap hidangan yang Tinah siapkan.
"Tin, ini enak sekali, nanti sore masak kayak gini lagi ya," pinta Robet.
"Siap dDen," jawab Tinah.
"Nanti ayam goreng ama sambelnya kamu bawa ke ruang kerjaku, kamu bikinnya pakek resep baru ya. Enak banget ini ayamnya, kriuk!" ucap Robet terus memuji masakan yang Tinah hidangkan. Sebenarnya Tinah ingin tertawa, tapi sudah lah nanti majikanya marah.
"Siap Den," jawab Tinah lagi.
"Tin, ambilin aku minum lagi. Duh nikmat banget Tin, baru kali ini aku bisa makan enak dan puas," ucap Robet lagi.
"Emang masakan Yuli ga enak ya Den, enakan masakan Tinah ya?" canda Tinah.
"Ga tahu Ya Tin, pokoknya masakanmu kali ini uwenak poll. Empat jempol buat kamu," jawab Robet lagi.
"Amin...amin kalau Aden suka. Nanti Tinah suruh mbak Nita masak lagi deh kalau Aden suka," jawab Tinah. Spontan Robet menyemburkan air dalam mulutnya.
"What!!" pekik Robet, Tinah pun terkejut.
"Kenapa Den?" tanya Tinah.
"Siapa tadi yang masak?" Robet malah balik bertanya.
"Mbak Nita Den, emang kenapa Den?!" tanya Tinah sedikit takut.
"Enggak ga papa, ayamnya ga usah bawa di ruang kerja. Buat kamu aja," ucap Robet sambil berdiri meninggakan meja makan.
__ADS_1
Tentu saja melihat kelakuan aneh majikanya ini membuat Tinah bingung. "Ada apa dengan si aden, aneh?" gerutu Tinah.
Bersambung...