
Lima hari berlalu...
Arumi masih belum berbicara apapun pada Yudha, bahkan tidur malam pun Arumi memilih tidur sendiri dikamar tamu.
Dia kadang masuk sih ke kamar jika merasa ASInya penuh dan perlu memberikan pada si baby.
Malam ini Yudha sudah tak bisa menahan hatinya lagi dia sudah meminta asisten rumah tangganya untuk menjaga anak anaknya malam ini.
Yudha bilang dia ada janji sama temanya, sayangnya Arumi dan Patmi tak tau jika ini hanya akal akalan Yudha.
Arumi masuk kekamar tamu seperti biasa sesaat setelah menyusui Mawar, Arumi pikir Yudha masih menjaga putra putri mereka dikamar utama, sedangkan Patmi berfikir Yudha sudah berangkat kerumah temanya karena tadi Yudha terlihat rapi.
Yudha kok dilawan, ternyata dia sudah berdiri dibelakang pintu dan bersiap mendekap Arumi.
Arumi masuk dengan santainya, mengunci pintu kamar tamu itu seperti biasa. Dia tak menyadari bahwa suaminya sedang mengintainya sekarang.Bahkan dengan santainya Arumi melepas baju luarnya dan menaruhnya di kursi meja rias.
Arumi tak taukah engkau bahwa dibelakangmu ada kucing yang kelaparan hah, Arumi terlihat sangat cantik mengunakan ligerli hitam bra dan CD nya yang pas ditubuhnya terlihat sangat menggoda bagi siapapun yang melihatnya, tubuhnya yang sintal dan padat membuat Yudha menelan ludah berkali kali. Ahhhh buang pikiran kotormu itu Yud, Menangkan dulu hatinya soal itu ma gampang.
Arumi menyalakan lampu utama kamarnya betapa terkejutnya dia melihat Yudha sudah berdiri penuh amarah menatapnya.
Buru buru Arumi meraih baju yang dilepasnya tadi, sayangnya dia kalah cepat Yudha sudah mendapatkanya duluan.
"Kamu mau ini?" tanya Yudha.
Arumi tak menjawab, dia malah menatap tajam kearah Yudha. Genderang perang terlihat nyata di kedua mata indah itu.
"Kalau kamu ga mau ngomong dengan mulut berarti kamu mau tubuh kita yang bicara!" gertak Yudha. Arumi tak bergeming dia malah memilih menghindari Yudha dan hendak masuk kekamar mandi.
Yudha sudah bertekat tak akan melepaskan Arumi malam ini apapun yang terjadi. Dia pun membopong tubuh Arumi dan membawanya ketempat tidur.
Yudha mengukung tubuh Arumi yang terlentang menantang. Memegang tangan lemah itu dan mengunci kedua kaki Arumi dengan pahanya. "Kamu yang memilih ini jadi jangan menyesal," ucap Yudha. tanpa Kata Yudha pun mendaratkan bibir nya keleher Arumi. Mengecup kesana kemari dengan arogannya. bahkan Yudha juga melepaskan paksa ligerli yang istrinya kenakan.
__ADS_1
Arumi tak melawan bahkan dia diam dan pasrah saja, membiarkan Yudha melakukan apapun yang dia mau. Hanya air matanya yang bicara. Wanita yang dinikahinya ini memang berbeda dengan wanita kebanyakan, yang bisa protes dengan mulutnya dan bisa berontak dengan tubuhnya.
Yudha semakin arogan, dia pun membuka seluruh bajunya hingga meninggalkan celana dalamnya saja, Arumi masih tak bergeming dia masih diam mematung dan membiarkan suaminya bertidak seperti singa yang kelaparan.
Saat ciuman Yudha kembali wajah Arumi saat itu juga Yudha tersadar bahwa dia kembali menyakiti hati wanita ini.
Tubuh Yudha melemah, dia pun menjatuhkan tubuhnya diatas Arumi, memukul kasar kasur yang mereka tempati.
"Rum bicaralah, marahin aku Rum pukul aku jangan diemin aku kayak gini. Aku ga tahan Rum," ucap Yudha masih diposisi yang sama.
Yudha pun mengubah posisinya menjadi disamping istrinya. Menatap kosong kearah plafon kamar ini.
"Rum, maafkan aku yang selalu menyakitimu. Hukumlah aku dengan pukulanmu Rum, hukum aku dengan makianmu tapi jangan diemin aku kayak gini. Aku mencarimu dan anak anak kesana kemari seperti orang gila. Jangan tinggalin mas lagi sayang," ucap Yudha memohon sambil kembali memeluk tubuh Arumi yang setengah telanjang, memiringkanya dan membawa tubuh mungil itu kedalam pelukanya
Mulut Arumi masih terkunci, bahkan dia masih belum melawan sedikitpun apa yang suaminya lakukan.
"Apa kamu baik baik saja selama ini istriku heemmm, mas kangen sayang?" bisik Yudha lagi sambil mengecup kening Arumi, dan mengelus lembut rambut panjang istrinya yang beraroma Vanila ini. aroma yang membuatnya tergila gila.
Arumi menatap wajah tampan suaminya, tapi dia tak mungkin menghianati usahanya selama ini. Dia merasa baik baik saja tanpa Yudha bukan.
"Pergilah!" ucap Arumi, suara yang Yudha mau pun ahirnya keluar, tapi bukan kata itu yang dia mau.
"Enggak mas ga akan pergi, mas mau disini sama kamu sama anak anak," jawab Yudha.
"Rum ga mau sama mas lagi," ucap Arumi dengan tatapan kosongnya, Yudha melonggarkan pelukanya tapi tak melepaskan wanita ini begitu saja.
"Biarin, mas mau sama Rum" jawab Yudha enteng.
"Mas sayang ga sama Rum?" tanya Arumi.
"Sayang," jawab Yudha.
__ADS_1
"Rum mau kita pisah mas," ucap Arumi.
"Ga mau," jawab Yudha.
"Rum udah mati rasa ama mas, sudah ga ada rasa lagi dihati ini untuk mas," ucap Arumi pelan, mata itu kembali memancarkan luka yang dalam yang pernah dia berikan pada wanita yang memberikan dua buah hati ini.
"Mas akan tunggu hingga rasa itu datang lagi istriku, mas emang salah kamu berhak penuh menghukum mas. tapi jangan pernah tinggalin mas lagi, pisahin mas dari anak anak lagi mas bisa gila karena ini sayang," balas Yudha kembali dia mengeluarkan sikap aroganya, dikecupnya dada Arumi yang dia rindukan ini
"Ngapain rindu kami, bukankah mas udah ada yang lebib bohay dari Rum, lebih cantik dan pastinya sangat sangat mas cintai kan. Udah punya anak dari dia juga kan!" ucap Rumi sambil mendorong kepala Yudha yang makin arogan didadanya.
Yudha pun mengangkat kepalanya dan mengerutkan dahinya, "Kata siapa mas punya anak dari dia, orang mas udah cerai lama sih." ucap Yudha.
"Mas boong ya, orang dua bulan yang lalu kami ketemu sih, dia bilang hamil anak mas sih," Arumi pun tak mau kalah dengan apa yang dia alami.
"Dari mana kamu yakin kalau Dia hamil anak mas, orang kamu ninggalin mas ga lama setelah itu kami cerai sih," Yudha malah mengikuti nada bicara Arumi, terdengar lucu.
"Mas lepasin Rum dong, dingin mas ih," pinta Arumi sambil berusaha lepas dari jeratan Yudha. Yudha tak kehilangan akal dia pun menarik selimut dan menutupi tubuh mereka.
"Udah ga dingin kan, sini mas peluk," modus eh.
"Ga mau dipeluk, jauhan sana ih!" pinta Arumi, kembali dia mendorong dada suaminya, Yudha tak perduli dia pun masih saja bertahan dengan sikap arogannya.
"Maafin mas ya Rum," pinta Yudha dengan nada lemahnya.
"Rum udah pernah bilang kan mas, ga ada yang perlu dimaafkan. Rum tau bahwa hati tidak bisa dipaksakan harusnya Rum lagi mas yang minta maaf, Harusnya Rum tak membohongi hati Rum sendiri harusnya Rum menyadari bahwa Rum tak pantas dicintai. Sudahlah mas sebaiknya kita ahiri pernikahan sandiwara ini. Mas berhak memilih begitu pula Rum. Rum sudah berhasil melupakan mas. Rum udah ga ada rasa sama mas, Rum udah ga cinta lagi sama mas, jadi percuma meskipun mas rangsang Rum dengan cumbuan maut mas Rum ga akan merespon karena hati ini sudah mati untukmu mas, Rum malah merasa jijik dan tertekan dengan sentuhanmu mas, Rum ga mau lagi. Tolong lepaskan Rum, Rum mohon" permintaa Arumi seperti tamparan keras buat Yudha, mata itu memang berkaca kaca seolah apa yang Arumi katakan adalah kejujuran.
Ucapan Arumi bagaikan pisau tajam yang menancap hatinya. Pelukan Yudha melemah Arumi pun bebas melepaskan tubuhnya dari jeratan suaminya.
Yudha menatap kosong kearah plafon yang ada dikamar itu, dia tak tau apa yang harus dia lakukan. Disaat cintanya membara saat itulah Arumi menolaknya. Yudha tak mampu berfikir jerni, menyesalpun tak ada gunanya. Perasaan cintanya sudah tak berarti lagi untuk Arumi. Semua telah berahir Yudha maka terimalah.
Bersambung....
__ADS_1