HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
#HSBM Season 2 Hadiah Terindah (end)


__ADS_3

Yunita menuruti nasehat asisten rumah tangganya. Melakukan test kehamilan, siapa tahu dia dan suami memang sudah dipercaya sama Tuhan untuk memiliki keturunan.


Tinah dan Yuli sangat antusias menunggu istri majikanya melakukan uji coba urin untuk memastikan bener tidaknya kecurigaan Tinah.


Yunita keluar kamar mandi dengan muka sedikit murung, "Gimana Non?" tanya Tinah penasaran. Mata mereka sangat bersinar menunggu jawaban majikan mereka.


Yunita tersenyum dan menjawab rasa penasaran mereka dengan penuh kebahagiaan.


"Aku hamil Tinah... Yuli....Aaaaaa, Aku senang sekali," jawab Yunita mereka bertiga pun bersorak sorai sambil berpelukan layaknya teman yang sedang mendapatkan hadiah yang sangat besar.


"Selamat Non ahirnya Aak Robet junior akan dateng ditengah tengah kita," ucap Tinah dengan kerlingan mata yang menggemaskan. Yunita tertawa senang mendengar dan menyaksikan aksi konyol asisten rumah tangganya yang sudah seperti keluarga ini.


"Ahirnya si tuan galak itu akan punya lawan yang sepadan, ayo dek tunjukan pesonamu. Mbak Yuni ada dipihakmu," ucap Yuni bersemangat sambil menepuk dadanya menyombongkan diri. Jujur Yuni sangat kesal dengan Robet karena beberapa hari yang lalu dia kena seprot hanya karena lupa memasukan sepatu Robet di rak yang tak seharusnya. Tapi saat ini dia juga ikut merasa bahagia atas karunia yang diterima oleh majikannya.


Mereka bertiga kembali tertawa penuh canda, rasanya senang sekali bisa ghibahin Robet saat pria itu tak ada dirumah. Sayangnya aksi mereka kali ini terciduk oleh sang bahan gibhan mereka.


"Apa yang kalian lakukan di kamarku!" hardik Robet pada ketiga wanita yang sedang asik bersanda gurau itu.


Seketika ketiga wanita itu diam tanpa kata.


Tinah menoleh tanpa mengucapkan sepatah katapun, tapi tidak dengan Yuli


"Eh Aden, sudah pulang ya Den, kirain besok," celetuk Yuli.


"Apa urusanmu, mau aku pulang sekarang mau besok memangnya siapa kamu!" balas Robet ketus.


"Ya Tuhan galaknya, maaf Den maaf... ayo Mbak Tin," ajak Yuli keluar kamar majikanya.


"Maaf ya Den maaf," ucap Tina sopan, mereka pun membungkukkan badannya sambil berjalan menuju pintu keluar.


"Ngapain sih kalian ngumpul ngumpul di mari," ucap Robet kesal.

__ADS_1


"Mereka habis bersihin kamar Mas...dih galak bener sih, jelek tahu. Datang datang ma salam...Assalamu'alaikum gitu, bukanya marah marah gitu to pi papi," jawab Yunita cemberut dan langsung meraih tangan suaminya dan menciumnya.


"Papi papi, kamu kira aku ni udah bapak bapak, enak aja panggil papi," gerutu Robet kesal sambil melepas jas dan dasinya. Yunita hanya tersenyum mendengar ucapan menggemaskan suaminya.


Yunita diam membuat Robet curiga, Robet menghentikan aksinya melepas kancing kancing kemejanya dan berbalik menatap istrinya.


Posisi Yunita masih sama ditempatnya semula, diam bergeming tanpa suara.


Robet menghampiri istrinya dan mengangkat dagu wanita yang sedari tadi diam, Robet mengecup bibir yang tertutup rapat itu.


"Maaf sayang Mas udah bikin kamu takut," ucap Robet, kemudian dia pun memeluk istri cantiknya.


"Maaf kalau Mas suaranya agak kenceng tadi hemm," tambah Robet. Yunita pun membalas pelukkan penuh kasih sayang itu.


"Mas...!"


"Ya sayang apa," jawab Robet tanpa melepas pelukannya. Robet juga mencium beberapa kali pipi yang sudah menjadi tempat favoritnya itu.


"Iya Mas ga akan galak sama mereka...(Robet diam sejenak, dia mulai berfikir), kamu bilang apa tadi honey?" tanya Robet.


"Nita bilang, jangan galak ama mereka karena mereka udah jagain Nita ama calon baby kita saat Mas ga ada di rumah," jawab Yunita dengan tatapan penuh dengan kebahagiaan.


"Calon baby kita, maksudnya?" tanya Robet memastikan.


"Iya sayang calon baby kita, Mas akan jadi papi sekarang di rahim Nita ada buah cinta kita suamiku," ucap Yunita menyakinkan apa yang suaminya pikirkan.


Robet diam terpaku, masih tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.


"Beneran sayang, ini serius hah!" ucap Robet antusias, dia terlihat sangat bahagia soal ini. Robet langsung memeluk istrinya dengan perasaan yang sulit untuk di utarakan.


Robet menangis dalam tawanya, kabar yang dia dengar barusan sungguh membuatnya tak bisa berucap apapun selain bahagia dan bahagia. Bahkan saking bahagianya dia sampai menangis dipelukan sang istri.

__ADS_1


"Kok nangis," bisik Yunita.


"Mas bahagia sayang, akhirnya kita bisa dipercaya untuk memiliki buah cinta kita," ucap Robet, pelukan yang tadinya longgar kini semakin erat Yunita rasakan. Yunita mengelus pundak suaminya dengan kasih sayang agar Robet tenang dan tahu bahwa dia sangat mencintainya.


"Sayang dari mana kamu tahu kalau kamu hamil ha, udah periksa ke dokter hemm?" tanya Robet sambil menghapus air matanya.


"Belum sayang, Nita belum periksa ke dokter, tapi Nita udah tes dengan alat ini," ucap Yunita sambil merogoh saku celananya dan memberikan alat tes kehamilan itu pada suaminya.


"Ni Mas, kalau garis pink nya ini ada dua berarti positif hamil," ucap Yunita sambil menunjukan dua garis itu. Robet kembali tersenyum saat mendengar penjelasan istrinya.


Robet kembali merasakan hatinya seperti di siram air es, terasa sejuk dan menenangkan. Pria ini sungguh romantis dia pun mengecup kening sang pemilik cintanya. Mengelus pipi halus itu, wanita ini sungguh mampu membuatnya bertekuk lutut.


Robet kembali menyatukan bibir mereka, pangutan demi pangutan wujud cinta pun mereka persembahkan untuk tambatan hati. Rasa rindu dan cinta yang telah menumpuk disanubari kini benar benar mereka tumbahkan.


Yunita pun tak mau mengecewakan sang imam dalam hidupnya. Apapun yang Robet mau merupakan titah baginya.


Pakaian yang mereka kenakan tadi tak tahu sudah berada di mana, yang jelas sekarang saat ini yang mereka pikirkan hanyalah saling memiliki dan saling mencintai hingga maut memisahkan.


Kamar luas ini menjadi saksi bisu janji suci sehidup semati yang pernah mereka ucapkan. Yunita begitu mencintai Robet, begitupun sebaliknya. Robet sayang menghargai wanita yang selalu mampu membuatnya mampu melepaskan segala lelah dan penatnya selepas bekerja.


Yunita mengelus rambut pria yang kini terlelap di sampingnya. Robet memang pria yang lucu, Robet selalu terlelap menggemaskan jika usai bercinta dengannya.


Yunita kembali tersenyum sambil memainkan hidung mancung sang tambatan hati. Yunita juga mencium pipi ayah dari calon bayinya. Kebahagiaan nyata ini sungguh membuat Yunita tak bisa menduganya. Ini seperti mimpi baginya, meskipun ini sangat nyata terjadi.


Oma Rose pasti sangat bahagia dengan ini, karena ini adalah impiannya juga.


Uncle preman siap siap hidupmu menjadi tak tenang karena sebentar lagi ada jagoan kecil yang akan mengganggu ketenanganmu.


Selamat ya Mas Robet Mbak Nita, impian kalian telah menjadi kenyataan. Sesuatu yang kalian dambakan kini telah hadir ditengah tengah kalian. Semoga ini adalah rejeki yang nyata untuk rumah tangga kalian. Selamat berbahagia semoga rumah tangga kalian selalu sakinah mawadah dan warohmah hingga maut memisahkan.


Amin....

__ADS_1


End.


__ADS_2