HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Pertengkaran menggemaskan


__ADS_3

Yudha kembali keranjang dimana Arumi masih berbaring lemas. Dia membawa kaos bekas pakainya dan memakaikan kaos itu untuk istrinya. Dengan sisa tenaganya Arumi mendorong Yudha. "Sana ga mau," ucap Arumi kesal.


"Oh, nglawan ya mau lagi berarti," ucap Yudha kembali mencium paksa bibir Arumi. Arumi menjambak rambut suaminya bahkan dengan teganya dia pun mengigit bibir Yudha.


"Aaaaauuu sakit ayank," pekik Yudha sambil memegang mulutnya.


Arumi menatap tajam kearah suaminya.


"Beneran ni nantangin," ucap Yudha kembali mengukung tubuh Arumi yang berbalut dengan selimut.


"Dasar pria gila jahat mesum menyebalkan," umpat Arumi kesal, Yudha hanya tertawa licik.


"Siapa suruh kamu bikin aku cemburu, rasain sekarang," balas Yudha.


"Ngapain kamu cemburu, katanya ga cinta, udah muak juga kan," ucap Arumi ketus.


"Suka suka aku lah mau suka mau enggak, mau cemburu mau enggak, mau muak atau masih mau ya hak ku lah, kamu miliku jadi jangan macam macam. Awas berani keluar sama cowok brengsek itu lagi," ancam Yudha.


"Heh, siapa situ ngatur ngatur. Udah turun mamas ih, berat tau," ucap Arumi kembali memukul lengan suaminya.


"Oh sori sori, peluk aja kalau gitu," ucap Yudha langsung menggeser tubuhnya dan masuk kedalam selimut Arumi.


Sebenarnya Arumi risih berada dipelukan Yudha mengingat saat ini dia hanya memakai kaos milik suaminya. Tangan Yudha masih tak mau diam, tangan itu masih sempat sempatnya m*r*mas bagian tubuh Arumi yang menurutnya menggemaskan.


"Mas kalau tangan itu ga diem, Rum gigit ni," ancam Arumi kesal.


"Kalau kamu berani gigit mas ulangi ni," balas Yudha ga mau kalah.


"Kenapa sih arogan banget, udah merkosa istri ga ngrasa salah masih aja nyebelin," umpat Arumi kesal.


"Mana ada suami merkosa istri, yang ada istri tu yang bikin suaminya jadi gila kayak gini," balas Yudha tak mau kalah. Mata Yudha menatap mesra kewajah istrinya tapi tetap saja Arumi masih tak mau membalas tatapan itu dengan cintanya.


"Mas,"

__ADS_1


"Heeemmm,"


"Mas beneran udah cerai ama istri muda mas?" tanya Arumi.


"He em, pernikahan ku dengan dia hanya bertahan tiga bulan yank," jawab Yudha jujur.


"Loh kenapa katanya kalian saling cinta!" ledek Arumi.


"Kenyatanya tidak seperti itu, aku tak bisa memberikan nafkah batin padanya karena aku selalu terbayang kamu, jadi dia marah terus cari kepuasan dengan yang lain," ucap Yudha jujur.


"Dia selingkuh kah?" tanya Arumi lagi.


"He em!"


"Itu sebabnya mas mau balikan sama Rum?" tanya Rum, matanya berkaca kaca seolah mengatakan masihkah mas anggap Rum sebagai bahan pelampiasan nafsu mas aja.


"Mas tau sayang kamu pasti berfikir kalau kamu cuma mas jadiin bahan pelampiasan saja. Enggak kamu salah nyatanya aku merindukan setiap apa yang kamu miliki, kasih sayangmu sentuhanmu masakanmu caramu melayaniku semua sayang aku rindu semua itu," ucap Yudha sambil mencium harum aroma tubuh istrinya dari pundak mungil itu.


"Tapi Rum takut mas," ucap Arumi pelan.


"Apa yang kamu takutkan sayang?"


"Rum takut memulainya lagi, Rum tetap ingin kita pisah saja mas!" jawab Arumi jujur.


"Coba aja kalau kamu berani mint pisah terus, mas akan jauhin kamu dari anak anak biar kamu ngrasa apa yang mas rasa selama ini," ancam Yudha, emosi Arumi kembali tersulut dia pun mendorong lagi dada Yudha sayangnya tubuh itu tak bergeming.


"Kamu tu kurus kecil ga usah sok sokan dorong dorong, gemes mas nih rasain mas himpit hah," Yudha benat benar gemas pada istri kecilnya ini, bahkan Yudha melilit tubuh kurus istrinya ini dengan kakinya.


Arumi hanya diam tak membalas, percuma dari pada diperkosa lagi.


"Apakah ada Rum disini mas?" tanya Arumi sambil menunjuk dada telanjang suaminya.


"Hati itu utuh milikmu sayang," jawab Yudha.

__ADS_1


Arumi menatap mata suaminya, tak ada kebohongan disana Arumi tau Yudha pernah gila saat pertama kali tau dia pergi. Karena saat itu Yudha menyadari bahwa ternyata cintanya hanya untuk istrinya seorang.


"Mas masih mau nikah lagi?" tanya Arumi.


"Aku tampan keren banyak duit terkenal pula, kalau ada yang mau kenapa enggak!"?jawab Yudha. Astaga Yudha kamu cari perkara lagi namanya.


Arumi menatap tajam penuh kemarahan pada Yudha, Yudha malah tertawa gemas dia pun mengecup bibir manis yang siap memakinya ini.


"Udah sana kawin lagi ngapain cari cari Rum, sana kata Rum ih," Arumi pun terus mendorong dan mendorong Yudha. Yudha hanya tersenyum geli saat itu, tanpa melepaskan pelukanya.


"Kamu sangat menggemaskan istriku, cantik deh kalau cemburu heemmm," goda Yudha dengan nakalnya tangan itu kembali memainkan area area sensitif istrinya.


"Mamas, ihhh," Arumi sudah kehilangan kesabaranya rupanya dia pun menggigit lengan Yudha agar Yudha menghentikan seranganya.


"Aaahhhhh, sakit ayank ," pekik Yudha lagi.


"Rasain, bisa ga ngomong baik baik tangan ga usah ikut ikutan ngomong," ucap Arumi ketus.


"Oke oke mas anteng, ayo mau ngomong apa, mau marah boleh mau cium mas juga boleh mau peluk juga boleh nambah yang itu juga boleh," goda Yudha sambil melirik manja istrinya.


"Omes bener sih mas, belum puas apa ih. awas aja kalau Rum sampai hamil!" Arumi kembali merasa geram dengan kelakuan menjengkelkan suaminya.


"Omes sama istri kan ga papa, ga ada yang nglarang ini, kalau kamu hamil lagi kan bagus kamu ga akan ninggalin mas," jawab Yudha pandai sekali di mencari celah.


Arumi memang selalu kalah dengan Yudha buktinya dia diam tak membalas ucapan konyol suaminya. Yudha kembali membawa wanita yang dicintainya ini kedalam pelukanya.


Yudha mengecup penuh kasih sayang kening wanita yang memberinya dua buah hati ini dan berjanji tak akan pernah menyakitinya lagi.


"Tidurlah sayang mas akan jagain kamu dan anak anak kita, mas janji akan jadi yang terbaik buat kalian heeemmm," ucap Yudha, Arumi pun menurut dia memejamkan matanya dan menikmati pelukan hangat suaminya.


Yudha menunggu wanita cantik ini terlelap baru dia akan mandi dan gantian merawat dan menjaga buah hati mereka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2