
Deren mengumpat kesal saat keluar dari ruangan dimana Yudha dirawat. Sebenarnya dia bahagia sih melihat sahabatnya sudah mendapatkan apa yang menjadi hak nya.
Sebuah cinta yang utuh dari orang yang sangat dicintainya. Entah mengapa persahabatan yang Deren dan Yudha jalin sering membuat teman teman mereka iri. Mereka bisa dibilang tanpa pamrih. Boleh dibilang dari semua teman yang menjalin hubungan denganya hanya persahabatanya dengan Yudha, Robet dan juga Juanlah yang bisa dibilang paling sehati
Mereka tak pernah tebang pilih walaupun profesi mereka berbeda. Yudha yang seorang chef dan pengusaha bahan bangunan. Juan sebagai Pengacara, Robet seorang CEO sebuah hotel berkelas di Jakarta sekaligus pemilik restauran dimana Arumi bekerja. Sedangkan Deren tak bisa diceritakan pekerjaanya lain dari pada yang lain.
Pemain lapangan ini dinilai cerdas dan yah dia sangat kompeten dibidangnya. Mantan anggota TNI ini memang bisa dibilang tidak mau terikat. Dia hanya menerima pekerjaan yang tak mengikatnya.
Deren melanjutkan perjalananya, ditengah jalan dia menerima notif diponselnya. Dia pun memeriksanya takut ada yang penting. Ternyata itu adalah notif M-banking dari dua akun yang berbeda. Dia menerima uang yang jumlahnya fantasis dari Deka dan juga Yudha. Deren malah mengumpat kesal dengan ini. Harusnya dapet duit seneng atuh bang. Kumaha ie.
"Anj*y kampret mereka, apa apan ini," umpat Deren. Dia pun langsung menghubungi Yudha. Untungnya Yudha langsung menyambut panggilan telponya.
"Ya kenapa, kangen ya kan barusan ketemu sayang?" goda Yudha sambil tertawa pelan. Disisinya ada Arumi yang dengan setia menemani suami tampanya. Tangan mereka saling menggengam seolah tak ingin terpisahkan lagi.
"Kapret lo, apa apaan ini," ucap Deren kesal.
"Ga papa itu rejeki buat elo," jawab Yudha pelan.
"Enggak enggak apaan, bang Deka juga ni. Kalian apaan sih anggep ane siapa ?" balas Deren masih kesal.
"Ga usah ngamuk entar orang orang disekitar lo takut kapret. Udah ga papa, buat kasih anak buah lo juga," ucap Yudha.
"Enggak, pokoknya kalau ane bilang enggak ya enggak. Anak buah udah dikasih ama Robet kemarin udah ditranfer ke regkening masing masing. Eh denger ya jangan ngajakin ane ribut soal beginian. Kalau ane dicariin bini kayak punya elo Ane mau" ucap Deren sambil bercanda.
"Jangan macem macem lo ya, Ane sikat tau rasa lo. Lah kemarin siapa yang bilang ga mau terlibat ama cewek t*i lo," umpat Yudha. Disisi lain Arumi mencubit perut suaminya yang terus berkata kasar pada sahabatnya. Yudha yang gemas langsung menarik kepala istrinya dan memberinya ciuman mesra dibibir istrinya. Mereka tak perduli jika Deren mendengar bunyi ciuman itu. Dasar dasar.
"Terus aja lo kampret, ga didepan Mata Ane ga disambil telpon makan aja terus lo hah, udah ah eneg ane ama Elo," umpat Deren. Yudha pun melepaskan ciumanya. Arumi kembali memukul manja dada suaminya. Yudha kembali menangkap tangan itu dan menggengamnya.
"Eh, Ane kasih tau itu tu nikmat tau. Sayang dong muka lo keren, duit banyak. Kontrakan dimana mana ya kan, sayangnya ampek sekarang masih perjaka masih jomblo kasihan banget dah. Cepetan cari musuh sana keburu karatan tu burung hahahahah," kembali Yudha melancarkan candaanya. Arumi hanya tersenyum mendengar candanan suaminya dengan sahabat baiknya.
"Diem lo kampret, (Deren diam sesaat, telinganya seperti mendengar orang menangis), eh tunggu bro, perasaan ada yang nangis," ucap Deren.
"Masak sih, emang lo dimana?" tanya Yudha.
__ADS_1
"Ane di taman belakang, dekat parkiran," jawab Deren.
"Ada orang kagak?" tanya Yudha.
"Kagak ada, sepi masak kuntilanak nakutin ane, merinding ane," ucap Deren.
"Tumben lo takut kuntilanak, biasa doi yang takut ama elu," kembali Yudha menggoda sahabatnya.
"Astaga, bener bener lo ya. Kalau ga inget disitu ada bini elo udah ane kepret bener dah. Eh suara tangisanya makin jelas bro. Ini ma manusia bro bukan hantu," ucap Deren waspada. Dia terus melangkah pelan mencari arah suara. Benar juga diujung taman dekat kantin ada seorang gadis yang menangis tersedu sedu. Deren pun langsung memutus panggilan telponya dan menghampiri gadis itu.
"Mbak...!" sapa Deren sambil menepuk pundak sang gadis.
"Aaaggg!!!" teriak sang gadis.
Gadis itu menoleh ke arah Deren.
"Eh, Mbak!" ucap Deren saat melihat wajah yang tak asing baginya. Gadis itu langsung berdiri dan menjauh dari Deren.
"Jangan takut Mbak, saya kan ga jahat," ucap Deren. Gadis itu menatap tajam kearah Deren.
"Syukur deh kalau ga inget, Mbak ga takut sendirian disini?" tanya Deren.
"Saya...saya...saya hanya bingung Ak," ucap Gadis itu terbata bata.
"Bingung gimana Mbak?" tanya Deren sambil mengerutkan dahinya.
"Abah butuh donor darah Ak, tapi mau nyari dimana malam malam gini," jawab Aisyah nama gadis itu.
"Ooo, emang golongan darah abahnya mbak apa?" tanya Deren.
"O+ Ak," jawabnya.
"Wah kebetulan mbak saya O+ mari ambil saja darah saya," jawab Deren.
__ADS_1
Deren hendak mengajak gadis itu melangkah tapi sayangnya gadis itu tak merespon.
"Loh ayo!" ajak Deren.
"Beneran Aak mau kasih darah Aak ke Abah Aish," ucapnya, tak sengaja dia menyebut namanya. Aish oke namanya Aish batin Deren. Deren pun tersenyum mendengar perkataan polos itu.
"Ya yakin lah Mbak, masak mau nolong orang ga yakin. Mari!" ajak Deren lagi. Aisyah masih ga bergeming.
"Ada apa lagi mbak?" tanya Deren.
"Maaf kalau pertanyaan Aish mungkin menyinggung Aak, tapi Aak ga suka minum obat kan?" tanya Aisyah, jujur pertanyaan ini membuat Deren bingung. Obat obat apaan batin Deren.
"Ya minum lah Mbak kalau saya sakit kepala, atau lagi sakit gigi," goda Deren. Dasar Deren seneng bener godain anak gadis orang.
"Bukan obat itu yang Aish maksud Ak, tapi obat yang bikin mabok," jawab Aisyah lugu. Deren malah tertawa melihat keluguan gadis yang ada didepanya. Tapi bener juga kalau misalnya dia berfikir seperti itu. Mengingat mukanya seperti preman gini.
"Kok Aak ketawa, bukanya marah," tanya Aisyah. Astaga kenapa semua wanita suka sekali drama, mau ditolong kagak ni bocah, gerutu Deren dalam hati.
"Enggak Mbak, darah saya bersih kok kalau dari hal semacam itu. Saya kan hanya suka nyopet Mbak. Mungkin nanti kalau abahnya Mbak sembuh bisa ketularan jadi tukang copet seperti saya," jawab Deren. Melihat muka Aisyah yang selalu tegang dan menganggap benar setiap perkataanya membuat Deren meresa happy ga tau kenapa.
"Ga jadi kalau gitu Ak, biar Aish cari donor lain aja," jawab Aisyah lagi. Deren menggaruk dagunya yang tak gatal dan kembai melontarkan godaanya.
"Nanti keburu abahnya Mbak dipanggil sang Illahi lo," Ya Tuhan Deren kamu ma keterlaluan.
"Astaghfirullah Ak, Aak jangan nakutin Aish napa. Jangan doain gitu lah Ak, keluarga Aish tinggal abah doang," jawab Aisyah gugup.
"Habisnya mau ditolongin macam macam aja nanyanya. Mau ditolongin ga ni atau masih mau ngedrama," ucap Deren mulai serius.
"Mau Ak, mau Aish ditolongin. Aish janji deh ga ngedrama lagi," jawabnya polos. Astaga ni anak umur berapa oon bodoh apa oneng ini nyebutnya, perasaan lengkap bener. Tuhan kualat pula aku ama Yudha ama bang Deka, batin Deren.
Aisyah pun membawa Deren keruangan dimana dia bisa menyumbangkan darahnya untuk pria yang tak dikenalnya.
Aisyah berdiri disamping Deren saat suster mengambil sempel darah miliknya. Sebenarnya Deren ingin tertawa setiap kali menatap wajah gadis yang ada disebelahnya. Entah mengapa gadis ini bisa menarik perhatianya. Mungkinkah Deren jatuh cinta.
__ADS_1
Bersambung....