HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU

HATI SUAMIKU BUKAN MILIKKU
Indahnya Jatuh Cinta


__ADS_3

Deren tertawa saat keluar dari uang perawatan Desi. Rasanya puas sekali bisa membuat seseorang yang berniat jahat pada keluarganya bisa mendapatkan balasan yang setimpal.


Deren berlari kecil saat mendapat panggilan dari anak buahnya. Rasanya ga putus putus pekerjaan yang harus dia jalani.


Ada saja yang mau memakai jasanya, kali ini dia akan ditugaskan sebagai pengawal pribadi salah satu pejabat yang akan datang ke kota ini.


Deren sedikit buru buru karena pesawat yang akan membawa orang penting itu akan segera mendarat.


Pikiran Deren hanya fokus kesana hingga tak memperhatikan orang orang dikelilingnya.


Dari arah lain ada seorang gadis tergopoh gopoh berlari memvawa rantang berisi makanan. Kelihatanya dia hendak mengirim keluarganya yang berjaga. Alhasil tabrakan yang tidak disengaja itupun terjadi.


Gubraaaakkkkkk.....gadis berhijab itu pun jatuh tersungkur, rantang yang dia bawa pun jatuh. Makanan itu tumpah.


Deren langsung bangun dan membantu sang gadis, "Maaf mbak maaf...Ya Tuhan kenapa aku jadi tak fokus gini," ucap Deren.


Gadis berkerudung itu pun menatap takut pada Deren. Mengingat wajah Deren yang ditutupi rambut yang tebal. Rambut panjangnya yang dikuncir. Tentu saja bau tubuhnya yang khas preman membuat sang gadis bergidik ngeri.


"Kamu ga papa mbak?" tanya Deren lembut.


Gadis itu hanya menggeleng. "Aduh mbak makananya tumpah gimana ini, saya ganti uang aja ya mbak nanti mbak beli dikantin," ucap Deren sambil memungut rantang yang dia tumpahkan tadi.


Mata gadis itu tak lepas dari Deren. Dia terus memperhatikan dengan seksama pria mengerikan ini menurutnya. Entah takut entah apa yang jelas dia gemetar.


Deren mengembil beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikanya pada gadis itu. Sang gadis menolaknya, "Ndak usah bang, ndak usah," tolak sang gadis.


Alamak orang Jawa, batin Deren tertawa. Rasaya ga putus putus dia berhubungan dengan orang jawa.


"Ga papa Mbak, ini uang bukan dari nyolong Mbak, cuma dari nyopet," goda Deren tiba tiba terbesit dalam otaknya untuk menggoda sang gadis. Mimik mukanya terlihat jelas jika dia takut pada Deren.


Gadis itu tak menjawab lagi dia langsung berlari menghindar dari Deren.


Deren malah tertawa saat melihat gadis itu lari terbirit birit karena dtakut padanya."Ahhh...kalian para perempuan aneh, tampan gini kok ditakuti," ucap Deren seraya melangkah meninggalkan area rumah sakit itu.


***


Lima hari kemudian.....


Disisi lain Arumi sedang mengobati luka lukanya dibantu oleh Arti sang kakak ipar. Deka dan Joker sudah kembali ke Jawa karena gak mungkin bagi mereka terlalu lama meninggalkan pekerjaan.

__ADS_1


Yudha juga sudah baikan salah satu tanganya sudah tak memakai gips. Tadi pagi barusan di lepasoleh dokternya. Pelan pelan Yudha mulai belajar menggerakam tanganya.


Wajah Arumi juga sudah mulai membaik. Memar diwajahnya mulai memudar. Yudha terus melirik tambatan hatinya, rasanya adem banget bisa melihat Arumi tersenyum bahagia seperti itu.


Arti paham jika adeknya ingin ditinggal hanya berdua dengan sang istri. Arti sudah biasa mengadapi pria bucin. Makanya dia tau apa yang ada dipikiran adeknya.


"Mbak pulang dulu ya, kasihan Ditya sama Mawar. Pasti mereka cariin Onty nya yang cantik ini," ucap Arti berpamitan sambil berjalan mendekat kearah adeknya.


"Gitu dong, dari tadi kek," canda Yudha.


"Diem lo kampret, uppsss astaga Mbak jadi pinter ngumpat gara gara berkawan dengan kau dan Deren," ucap Arti.


Yudha hanya tertawa. "Makasih ya Mbak," ucap Arumi.


"Sama sama," jawab Arti.


"Titip anak anak ya mbak," tambah Arumi.


"Iya tenang aja, asal si cantik yang menggemasjan itu buat mbak," jawab Arti.


"Jangan atuh mbak," rengek Arumi.


"Hish, Mbak...masak anaknya mak Lampir kasihan anaknya kalau denger nanti," ucap Arumi.


"Astaga kelepasan lagi Mbak," ucap Arti.


"Mau diadopsi sama Robet Mbak kata Robey kemarin," jawab Yudha. Arti tersenyum.


"Mau ngadopsi anaknya atau mau deketin pengasuhnya," Arti bisa aja, dasar ratubdrama jeli bener matanya.


"Wah kalau soal itu Yudha ga tau mbak, tapi Robet udah urus surat suratnya kemarin. Dia yang mau ngasuh. Lagian emaknya masuk rumah sakit jiwa kata Deren," ucap Yudha. Arumi menatap tak percaya pada suaminya.


"Emang iya mas?" tanya Arumi. Yudha pun menghiyakan.


"Astaga kasihan sekali," ucap Arumi. Yudha tau kalau istrinya ini berbeda sekali dengan wanita kebanyakan yang dia kenal. Istrinya ini lebih istimewa hatinya sangat lembut. Jiwa pemaafnya juga tinggi.


"Ya udah semoga dia cepet sembuh dan sadar, semoga juga dapet hidayah bisa kembali lagi kejalan Allah," ucap Arti.


"Amin," balas Arumi.

__ADS_1


Arti pun berpamitan pulang. Tinggalah sekarang dua sejoli yang malu malu dari kemarin marin. Rasanya baru kali ini mereka bisa berduaan.


"Bunda," panggil Yudha.


"Heemm," Arumi pun menoleh.


Yudha tak berucap lagi, mata mereka saling menatap, saat ini hanya hatilah lah terus berbicara. Rasanya ingin memulai tapi kondisi fisik mereka tak mengijinkan mereka untuk melakukan itu.


Mereka saling melepar senyum. Arumi naik keranjang suaminya. Membiarkan tangan yang baru sembuh itu memeluk tubuhnya.


"Maafin Mas ya sayang," bisik Yudha.


"Rum udah maafin Mas, Rum juga minta maaf atas semua yang pernah Rum ucapkan," balas Arumi.


"Mas tau saat itu kamu emosi, kamu cemburu kan," ucap Yudha.


"Iya Mas Rum cemburu, Rum sedih Rum ga rela kalau hati yang mas udah kasih ke Rum Mas minta lagi dan kasih ke orang lain," ucap Arumi.


"Itu tidak akan pernah terjadi lagi honey. Kamu pemilih hatiku sekarang. Besok, nanti dan sampai kapanpun hemmm. Mas ingin menua bersamamu istriku," ucap Yudha.


Entah siapa yang memulai nyatanya saat ini bibir mereka telah menyatu. Mereka kembali mengekspresikan rasa cinta yang mereka miliki. pangutan dan kecupan kecupan indah mereka berikan pada orang yang mereka kasihi. Ternyata Yudha adalah pria romantis yang didambakan setiap wanita.


Sayangnya keromantisan mereka diganggu oleh tamu tak diundang. Siapa lagi kalau bukan pria kocak berbadan tegap penuh tato ini.


"Anj*y jinj*y kampret..." umpat Deren.


Seketika Arumi menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Yudha hanya tertawa geli.


"Dasar lo ya, ga tau tempat. Rumah sakit woy, rumah sakit. Ane kepret juga ni," Deren kembali kesal. Rasanya tak terima jika mereka bermesraan didepan matanya. Arumi pelan pelan turun dari ranjang suaminya. Dia malu sekali seperti remaja yang lagi pacaran terus terciduk hansip.


"Wisss....potong rambut gitu cakep lo," goda Yudha. Dia berharap semoga pujianya bisa menghentikan ocehan sahabatnya yang membuat istrinya malu.


"Diem lo kampret, ini gara gara tugas negara kemarin lah. Ane harus kehilangan rambut ama jenggot kebanggaan Ane," jawab Deren. Gaya bicaranya tak bisa berubah walaupun penampilanhnya berubah.


"Aish...udah cakep gini masih hobi mengumpat aja lo," goda Yudha sambil tertawa pelan.


"Ane tau lo puji puji Ane biar Ane kagak ngomelin kalian kan. Dasar ga tau malu, rumah sakit dijadiin tempat bercinta," kembali Deren melontarkan kekesalanya.


"Eh, elo kalau pengen cari bini sono," ucap Yudha. Deren malah memukul pelan kaki Yudha yang tak sakit. Candaan demi candaan mereka lontarkan. Hingga hari mulai petang. Dengan berat hati Deren pun meninggalakan rumah sakit untuk memulai aktifitas malamnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2