
Arumi berperang dengan batinya sendiri sekarang antara percaya dengan pemikiranya atau pembuktian cinta Yudha yang nyata ini.
"Terus yang bawa bunda kerumah sakit siapa, abi kah?" tanya Arumi penasaran.
"Bukan bun, orang suruhan abi kayaknya orang nya serem. Abang pikir dia bapak jahat soalnya rambut sama badannya mirip Pakde Ongkeng," jawab Ditya, ingin rasanya Arumi tertawa putranya ini menggemaskan sekali.
"Ohhh, terus mbak yang jagain bunda siapa?" tanya Arumi lagi.
"Ga tau bun!" jawab Ditya. Arumi pun tak bertanya lagi. Kini gantian Ditya yang yang bertanya.
"Bun, bunda belum maaf maafan ya sama abi, kasihan tau bun abi. Bunda kan udah maem coklat dari abi harusnya bunda maafin abi dong!" ucap Ditya, Arumi hanya diam tak menjawab ucapan putranya. Dalam hatinya Arumi belum meyakini apa yang ada dihadapanya.
"Yang mandiin dedek siapa tadi bang, Bik Patmi udah dateng kah?" tanya Arumi lagi.
"Yang mandiin kami abi bun, yang kuncirin adek juga abi, Bibik belum balik bun kami ga pulang kerumah kita, abi bawa kami kerumah yang tinggi (apartemen)," jawab Ditya, Arumi mengerutkan keningnya, Arumi lupa jika dia pernah melarang Yudha menginjakan kakinya dirumah pribadinya.
"Kok ga pulang ke rumah kenapa?" tanya Arumi.
"Kata abi, bunda ga kasih abi pulang kan!" jawab Ditya. Ya Tuhan apakah perkataan ku menyakiti perasaanya. Apakah dia serius menganggap perkataanku. Aku memang marah padanya tapi?, Ah biarin aja lah dia memang pantas dihukum. Lagi lagi pernyataan bodoh itu terlintas di kepala Arumi.
"Abang udah sarapan?" tanya Arumi lagi.
"Udan bun, adek juga udah tadi, abi yang belum!" jawab Ditya.
"Kenapa abi ga sarapan?"
"Kata abi belum laper bun," jawab Ditya.
Arumi tak bicara lagi meski dalam hatinya menghawatirkan suaminya. Ingin rasanya dia berpesan pada Ditya untuk bilang pada abinya agar Yudha makan dan menjaga kesehatanya.
__ADS_1
Tapi takut nanti Yudha menganggapnya masih perduli padanya.
Arumi melihat Yudha masuk bersama dokter dan juga perawat yang hendak memeriksanya. Senyuman Yudha terlihat sangat tampan kala berbincang dengan dokter. Jantung Arumi berdetak sangat kencang ketika pria pujaan hatinya ini berdiri disampingnya.
Arumi melirik sebentar pria yang memberinya dua anak ini. Ingin rasanya Arumi meminta Yudha memeluknya. Lagi lagi perasaan gengsi dan marah merasuki jiwanya.
Dengan sabar Yudha menggendong Mawar sambil kembali berbicang dengan dokter pasal sakit yang diderita istrinya.
Dokter pun memberikan resep obat yang harus Yudha beli diapotik rumah sakit. Setelah selesai dengan tugasnya sang dokter pun meninggalkan ruangan rawat Arumi.
"Abang mau ikut abi ke apotik apa mau disini?" tanya Yudha pada putra nya.
"Abang ikut bi," pinta Ditya, sebelum pergi Yudha pun meminta orang suruhanya nya untuk kembali keruangan untuk menjaga istrinya.
Yudha memilih mendiamkan Arumi, bahkan dia memilih menidurkan Mawar yang sedikit rewel.
"Tapi kamu keterlaluan mas," kalimat itu terus saja berputar di otak wanita keras kepala ini. Dimana hatimu Arumi Fitriani, tak adakah kesempatan untuk suamimu memperbaiki kesalahanya. Astaga ternyata kamu sangat kolot dan egois.
Mawar telah terlelap, Yudha pun membaringkan gadis cilik itu disofa. Orang yang membantunya menjaga Arumi pun datang, saatnya Dia dan Ditya pergi membeli obat.
Yudha terkesan cuek dan tidak perduli, bahkan melihat Arumi pun tidak. Mungkinkah dia benar benar menghapusku dari hatinya.
Arumi meringkuk dan menangis diranjang rawatnya. Membuat bingung sang penjaga yang menjaganya.
......
Diperjalanan menuju apotik Yudha mendapat kabar bagus bahwa Yunita telah berhasil mendapatkan bukti bahwa dia dijebak saat memberikan tanda tangannya.
Dan lebih bagusnya Yunita juga telah berhasil mengambil rambut anak Desi untuknya melakukan tes DNA.
__ADS_1
Yudha sedikit merasa lega, tinggal bagaimana cara nya bisa membuat Desi mengakui secara langsung bahwa Yudha tak melakukan hal itu.
Disamping itu Deren dan pasukanya berhasil melacak siapa saja tim pengacara yang Desi pekerjakan selama menjalankan rencana kotornya.
Yudha kembali keruangan istrinya, menyerahkan obat yang barusan dia beli pada asiaten yang menjaga Arumi.
"Ayo bang kita pulang," ajak Yudha pada Ditya.
"Ayo bi, kita pulang bentar ya bi. abang mau ambil sragam sama buku sekolah abang, besok abang sekolah kan," pinta Ditya, Arumi tak tuli dia pun mendengar percakapan antara putranya dan dan suaminya.
"Boleh, nanti abi tunggu di depan ya, abang bisa kan buka kuncinya," balas Yudha.
"Bisa bi, abi udah makan kah!" tanya Ditya sambil membantu abinya membereakan mainan Mawar.
"Belum, nanti aja abi belum laper,"
"Makanlah bi, Ditya ga mau abi sakit!"
"He em nanti abi makan, udah sana abang pamit bunda dulu!" ucap Yudha sambil mengendong putrinya yang terlelap bersiap pulang.
Yudha pun membawa putrinya ketempat dimana istrinya berada, Arumi pun mencium pipi putrinya.
"Rum juga pengen dicium mas," batin Arumi.
"Rum, mas pengen cium kamu sayang," batin Yudha.
Ah, terserah kalian lah.......
Bersambung.....
__ADS_1